Sebagian besar orang-orang mungkin
banyak menulis surat untuk pemerintah, tokoh masyarakat, selebriti dan bahkan
presiden. Tidak ada yang menulis surat untuk seorang penulis, bukan? Aku lebih
memilih menulis surat untuk salah satu penulis idolaku. Aku tidak tahu
tujuannya apa. Aku juga tidak berharap dia membacanya atau tidak, aku juga
tidak berharap surat ini akan membuat aku dapat bertemu dengannya, yang kutahu
aku hanya ingin menulis ini. Aku hanya ingin menyampaikan segala hal yang ada
didalam hatiku. Sudah lama aku mengenal Ilana Tan. Aku belum pernah melihat
wajahnya, tapi aku merasa begitu akrab ketika pertama kali membaca bukunya. Saat
itu, temanku meminjamkan tritologi 4 musim-nya dan aku langsung jatuh hati. Aku
beli novel-novel tersebut walaupun aku sudah membacanya. Sejak itu, semua karya
Ilana Tan yang terbit pasti aku beli. Tritologi yang pertama kali aku baca
adalah Winter in Tokyo. Aku langsung membayangkan mungkin ini akan menjadi
hebat suatu hari nanti jika di film-kan. Dan benar saya, aku dengar memang akan
segera tayang. Ilana Tan adalah sosok yang romantis karena hal itu jelas
tergambar dari gaya penulisannya. Ilana Tan adalah penulis. Ya, semua tahu dia
memang penulis. Tapi, maksudku adalah dia benar benar benar penulis. Tidak ada
yang tahu tentangnya, tetapi mereka tahu tulisannya. Lewat tulisannya semua
orang dapat mengenalnya. Dia hanya memperkenalkan dirinya lewat tulisan, dan
itu hebat. Mungkin ini yang membuat aku begitu mengidolakannya, karena aku
setuju padanya bahwa tugas penulis adalah menulis jadi tidak perlu menunjukkan
dirinya. Aku ingin suatu hari bisa menjadi penulis sejati sepertinya. Dan aku
senang, Indonesia memiliki penulis seperti Ilana Tan.
Rabu, 27 Juli 2016
4739 km! ^^
Saya hobi melakukan komunikasi dengan stranger. Tujuannya adalah agar bahasa inggris saya fasih dan seneng aja jika punya teman di ujung dunia atau diluar dari circle kita. Pertama kali saya chat dengan orang asing melalui omegle, dan bagi kalian yang tahu pasti sudah menebak dan mungkin tertawa ^_^' tapi percayalah tidak semua mereka yang didalamnya melakukan 'dirty text' dan saya mendapatkan satu orang yang sesuai dengan tipe yang saya mau. Namanya ying*** (nama disamarkan). Dia pria asal china. Ketika dia meminta id media sosial yang lain agar kami dapat chatting lebih lanjut, sayalangsung percaya untuk memberikannya. Dan benar! he's really nice dan seru! Kami baru kenal tapi seperti teman lama. Dia rajin mengirim foto ketika dia berada ditempat yang bagus, dan dia selalu mengucapkan 'selamat tahun baru' setiap tahunnya. Mungkin ini gila, tapi saya sangat berharap suatu hari dapat bertemu dengannya dan dia juga ingin ke Indonesia. Dia tahu banyak orang 'sepertinya' disini dan itu membuatnya penasaran. Tapi sayang, hanya dua tahun kami berkomunikasi setelah itu entah hp nya rusak atau gimana kami lost contact dan saya pun akhirnya menghapus aplikasi media sosial itu.
Kemudian, setelah sekian lama akhirnya saya mencari stranger lain, tapi melalui app 'SKOUT' dan saya menemukan satu orang yang baik. Namanya disamarkan ya tapi yang pasti marganya adalah "Sung". Kenapa dia baik? karena dia pernah mengirimkan tulisan foto itu ketika saya mengatakan sedang berulang tahun. Saat itu dia sedang di Jepang untuk short vacantion bersama teman-temannya. Dia mengatakan bahwa saat pergi, dia tidak membawa kertas dan pena. Bisa dibayangkan ketika dia sampai dihotel lalu meminta pena dan kertas kepada petugas, dan foto diatas diambil ketika ia sampai dihotel. He's sweet and nice, right? XD
Saya memang punya mimpi bahwa suatu saat saya bisa ke korea. Semoga sampai hari itu tiba kami masih tetap berkomunikasi dan saya bisa menemuinya yang dengan jarak 4739km :)
Senin, 18 Juli 2016
Mimpi dan Reuni
Reuni adalah salah satu acara dimana kita dapat bertemu dengan teman semasa sekolah dulu yang sebelumnya tidak pernah atau jarang bertemu. Entah kenapa sebagian orang sangat menantikan acara reuni ini. Kata mereka, di kesempatan inilah mereka bisa unjuk gigi. Mereka bisa memamerkan apa yang telah mereka capai. Mungkin yang dahulu bukan apa-apa saat di sekolah, kini dia menjadi seseorang yang banyak dicari orang lain. Oleh karena itulah, beberapa dari mereka selalu hadir ketika acara reuni, namun tidak denganku. Aku mungkin tidak tertarik dengan acara reuni. Bukannya aku sombong, tapi aku memang merasa hal itu sangat menganggu, disaat kita menjadi orang lain disitu. Disaat kita harus menjaga sikap. Bukannya aku tidak memiliki sesuatu yang bisa 'dibawa' diacara reuni itu, tapi mungkin aku takut akan di manfaatkan (lagi). Mereka menganggap bahwa hidupku sempurna karena aku memiliki keluarga yang baik, teman yang banyak, pekerjaan yang baik, fasilitas yang cukup, pendidikan yang baik pula. Tapi mereka tidak tahu bahwa terkadang aku merasa bukan ini yang aku inginkan. Mereka tidak tahu, semua yang aku dapat memang dengan perjuangan tapi sekali ini bukan ini. Lantas, mengapa aku lakukan? mengapa aku perjuangkan? karena kewajiban. Karena permintaan.
Kalau kalian ingin tahu apa yang sebenarnya aku mau adalah aku hanya ingin keliling dunia. Aku hanya ingin mengunjungi tempat-tempat indah Maha Karya Tuhan. Oleh karena itulah, aku bekerja dan mengumpulkan uang hanya untuk melakukan perjalanan. Aku tahu ini dilarang, tapi aku hanya ingin sekali saja. Sekali saja aku melakukan hal yang aku inginkan.
Menurut kalian bagaimana?
Selasa, 28 Juni 2016
Teman
Menurut kalian apakah setelah menyelesaikan studi, kalian memiliki banyak teman atau malah berkurang? Kalau menurut aku sih berkurang. Kenapa gitu? karena aku yang merasakan. Nyadar gak sih kalau waktu di sd, smp, sma kita bisa bergaul dengan siapa aja di lingkup sekolah. Kita bisa mengenal siapa aja, kita bisa berbicara dengan siapa saja. Apalagi waktu kalian kuliah terus ngikutin segala kegiatan didalamnya, teman maupun kenalan kalian membludak bukan? Tapi, kebayang gak sih lama-kelamaan seiring berjalannya waktu kalian bakal ngerasain kalau temen-temen kalian bakal hilang satu-per-satu.Dan kehilangan temen itu rasanya sakit loh, kebayang gimana kita deketnya dulu tiba-tiba sekarang dia seperti orang asing. Aku jadi teringat dulu, aku ketika di sekolah dasar aku memiliki teman dekat, kami tidak satu sekolah tapi rumah kami dekat. Sepanjang hari aku bermain dengannya, kadang kami makan bersama, tidur bersama bahkan mandi bersama. Dia satu tahun diatas aku umurnya. Ketika bertengkar, aku selalu sedih. Pokoknya aku tidak punya teman selain dia. Kemana-mana harus sama dia, hingga kedua ibu kami berteman dekat juga. Suatu hari kedua orang tuanya cerai, dan dia harus ikut dengan ayahnya. Saat itu, aku sedih sekali mendengar kepindahannya. Kadang aku mengirimnya surat yang dititipkan kepada adiknya. Hari-hari kujalani terasa berat, dan aku mulai menata dari awal lagi untuk berteman dengan orang lain. Tapi, aku tak terbiasa, malah setiap mendapat teman baru, mereka malah meninggalkan aku. Butuh waktu lama aku seperti orang kuper yang hanya dirumah saja. Hingga ketika aku duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar, aku menemukan teman baik lagi. Dia anaknya tomboy dan apa adanya. Tapi sayang, selama aku berteman dengannya nilaiku selalu turun dan membuat mama marah. Akhirnya aku tidak boleh bermain sepeda sesering biasanya lagi dengannya. Memasuki smp, aku dan dia berpisah. Dia sekolah dipesantren yang membuat komunikasi kami terputus. Dan ketika SMA, aku bertemu dengan mereka berdua, aku pikir kami bisa berteman seperti masa kecil dulu, tapi ternyata mereka tidak menganggapku. Yang satu bergabung dengan anak-anak yang bisa dikatakan "gaul" dan mungkin dia malu berteman denganku, dan yang satu lagi punya kelompok teman juga. Selama di SMA kami tidak pernah bicara sekali pun, dan aku bisa menerimanya walaupun hatiku sedih.
Kemudian, aku mendapat kabar dari ibu kalau dia akan menikah. Aku tidak bisa hadir karena, kuliah diluar kota, jadi ibu dan adikku yang hadir. Setelah tamat kuliah, aku mendengar kabar bahwa si tomboy juga menikah. Hari itu aku datang, karena mendapat undangannya. Ketika bersalam dengannya di atas pelaminan, dia berseru, "teman sd." terus kami berpelukan, kemudian dia bertanya tentang kuliahku dan kenapa tidak pernah kelihatan.
Hatiku senang melihatnya, tak menyangka jodohnya datang lebih cepat dariku, aku teringat masa kecil kami yang selalu bermain sepeda bersama, pergi sekolah sama, dan ada perasaan hangat dalam hatiku. Kenapa baru sekarang kami berbicara, itulah yang kusesalkan. Padahal kami juga satu SMA dulunya walau beda kelas.
Kini, aku sudah mulai meniti karir dan yang kurasakan adalah aku kehilangan banyak orang, bukan mereka berdua saja yang kuceritakan diatas, tetapi teman-teman sepermainan yang begitu banyak kukenal. Sekarang, yang berada disekitarku hanya orang-orang yang berumur lebih tua dariku dengan wajah serius.
Rabu, 22 Juni 2016
Haenbokhae? (Bahagia?)
Hari ini saya dikejutkan dengan pertanyaan salah satu rekan kerja saya. Saat itu kami sedang berjalan menaiki tangga menuju ruangan di kantor.
"Din, aku mau nanya serius ini. Tolong kamu jawab sejujur-jujurnya." katanya.
Saya menjawab dengan males-malesan, "Emm... apaan?"
"Sekarang umur kamu berapa?" tanyanya.
Saya mengerlingkan mata. Yaelah. "21, kenapa?"
"Selama kamu hidup 21 tahun ini, kamu bahagia gak?" tanyanya lagi.
"Bahagia kerja disini maksudnya?" tanyaku balik.
"Ya, bukan disini aja. Bahagia dengan keluarga, teman-teman juga."
Saya termenung. "Emang definisi bahagia itu apa sih?"
Spontan rekan kerja saya ngakak. "Yah, dia malah nanya balik. Habis badanmu kurus begini susah gemuknya." katanya lagi.
Dan saya pun terdiam. Dalam hati membenarkan, sepertinya memang ada yang salah dengan diri saya. Saya banyak makan tapi badan lurus-lurus aja.
"Saya ini orangnya pemikir, mbak. Satu hal saja yang mengganggu pikiran saya, akan saya pikirkan semaleman." jawabku lesu.
"Hm... iya sih bisa juga karena itu, jadi kamu seperti punya beban aja ya."
Sebenarnya hal ini sudah pernah saya dengar dari ibu saya yang sering ngomel tentang berat badan saya yang tidak naik-naik, dan beliau sering bilang gini, "hidup tuh santai ajalah, di bawa happy, jangan banyak pikiran, masih muda pun!"
Dulu saya tidak terlalu mendengar perkataan ibu saya, karena saya pikir, saya merasa biasa saja kok. Tapi pertanyaan dari rekan saya itu benar-benar telak. Kalau dipikir-pikir, saya merasa malu dengan Tuhan. Saya seperti orang yang tidak bersyukur, kehidupan saya sudahlah enak tapi saya selalu merasa kurang dan berpikir terus bagaimana caranya mencapai hal-hal yang dinginkan. Terkadang hidup dengan masa bodoh memang lebih baik, ya?
Mulai sekarang, aku akan menjaga otak untuk tidak mikir out of the box.
Doakan saya agak gemukan ya, teman-teman!^.^
Senin, 13 Juni 2016
Cause, I'm not morning person
Mungkin cewe-cewe yang hobi bangun pagi bakal kesal dengan judul diatas. Ya gimana gak kesal, prinsipnya kan katanya cewe itu harus bangun pagi-pagi buat nyuci, beres rumah, masak, apalagi kalau punya anak, nyiapin sarapan buat anak dan suaminya, jadi kata mereka harus dibiasakan bangun pagi dari sekarang. Tapi sayang, prinsip seperti itu gak mempan loh di aku. Aku pikir dengan aku jadi anak kos bakal bisa bangun pagi setiap harinya, ternyata enggak -_-
Aku tetap tidur di jam 11/2 dan terbangun paling cepet jam 9 diwaktu libur, sedangkan pas kuliah aku selalu berusaha mencari kelas siang ^_^"
Alhasil sekarang, aku harus bangun pagi setiap harinya karena jam masuk kantor adalah jam 8 dan karena jarak kantor dengan rumah yang ditempuh selama sejam, jadinya mau tidak mau aku harus berangkat di jam setengah 7 dan bangun di jam 6. Luar biasa,kan?!
Semua yang mengenal aku dengan julukan ratu ngebo melongo hebat loh.
...........................
..............
.......
...
Zzz
Aku tetap tidur di jam 11/2 dan terbangun paling cepet jam 9 diwaktu libur, sedangkan pas kuliah aku selalu berusaha mencari kelas siang ^_^"
Alhasil sekarang, aku harus bangun pagi setiap harinya karena jam masuk kantor adalah jam 8 dan karena jarak kantor dengan rumah yang ditempuh selama sejam, jadinya mau tidak mau aku harus berangkat di jam setengah 7 dan bangun di jam 6. Luar biasa,kan?!
Semua yang mengenal aku dengan julukan ratu ngebo melongo hebat loh.
...........................
..............
.......
...
Zzz
Selasa, 07 Juni 2016
Penulis
Selamat siang, pembaca!
Maaf ya sepertinya seharian ini aku nge-spam postingan xD
Maklum saja dibulan puasa ini kerjaan tidak terlalu banyak, jadi daripada bosan dan selagi banyak ide yang bermekaran di otakku jadi aku blogging aja. Bisa dibilang juga, mungkin ini sebagai penebus dosaku yang telah lama gak nulis #pisss :D
Jadi barusan aku baru meng-scroll blog-blog yang aku ikuti yang kebanyakan adalah milik temanku. Ada salah satu tulisan dari mereka yang menarik perhatianku. Dia menulis seperti ini,
"Dari ribuan kesenangan dan kebanggaanku menjadi seorang penulis, hanya
satu hal yang membuatku menyesal: jiwaku begitu mudah tersentuh, terlalu
peka. Hati ini terlalu mudah hancur, terlalu rapuh untuk menampung
kesedihan dan kecewa yang teramat sangat. Mengapa seorang penulis harus
sepeka ini?"
Dan itu memang benar. Aku juga merasakan hal yang sama bahwa terkadang menjadi peka adalah hal yang menyulitkan. Mungkin inilah yang membuat seseorang menjadi penulis karena memiliki kepekaan. Tapi, apakah setiap yang peka bisa menjadi penulis? atau penulis pastinya adalah orang yang peka? Aku teringat ketika salah seorang yang terikat dihatiku sedang tertimpa duka, aku bahkan sampai demam karena merasakan sakit duka yang mungkin sama sepertinya. Aku tahu betapa terlukanya dia dan betapa sedih yang dideritanya. Bayangkan hidupnya yang akan berat sudah terpantri diotakku dan aku sangat terluka membayangkannya. Terkadang, karena sangking peka-nya aku tak pandai memperlihatkan dan sering dianggap cuek loh. Apakah menjadi peka adalah hal yang bagus? menurut kalian bagaimana?
Selamat berpeka-peka ria. Jangan sampai peka(k) ya!^^
I'm sooooooo "Lawas"
Halo, readers! Mungkin kalian bosan dengan postinganku tentang jurnal real life kan? Sebenarnya memang tidak penting aku menulis jurnal kehidupanku dan membagikannya kepada kalian, namun itu harus kulakukan. Kenapa? karena setiap tulisan yang kutulis adalah pengingat. Aku butuh tulisan itu suatu hari nanti jadi harus kusimpan. Pertanyaan selanjutnya, kenapa tidak pakai diary aja sih? Nah, kalau itu, ini jawabannya mari aku jelaskan. Jadi begini... sebenernya aku punya diary, tapi aku pikir ribet untuk membawanya kemana-mana karena yang pertama aku suka berganti tas kalau berpergian, jadi kadang suka ketinggalan disalah satu tas kalau saat ingin di bawa, yang kedua adalah karena aku suka lupa letakkinnya dimana. Maklum, menghindari adikku yang usil pengen ngebaca. Alasan selanjutnya adalah, separuh hidup aku banyak dihabiskan didepan monitor, well... lebih praktis aja kalau mau nulis di blog kan ya? dont say no! xD
Diluar jurnal tak penting, aku kali ini juga menulis yang tak penting. Jadi gak usah baca! haha. Aku menulis ini karena teringat teman satu kantorku berkata seperti menamparku, "kamu lahir tahun berapa sih?" kata-kata itu langsung tertohok saat aku bilang bahwa aku ingin nonton film Rosalinda lagi. Kalau dipikir-pikir memang benar, aku terlalu jadul. klasik. lawas abis. Coba kalian temukan dijaman sekarang, ada gak anak tahun 90an yang suka lagu-lagu seperti Nike Ardila, Inka Christie, Nike Astria, Ebit, dan parahnya lagi Fauziyah Latif. Duh, aku paling suka stel lagu-lagunya tuh dirumah. Lagu Fauziyah yang paling aku suka selain yang judulnya 'Setiaku korbankan" adalah "Enggan". Pasti kalian gak tau kan? Selain film dan lagu yang aku suka lawas, novel juga loh! Aku selalu suka baca sastra lama seperti karya Marah Rusli dan Khalil Gibran.
Pasti kalian berpikir aku manusia langka, kan?!
Eh, tapi selain musik pop aku suka mendengarnya instrument. Aku punya kelainan bahwa setiap aku menulis, mengetik, bahkan belajar aku harus disuguhi alunan musik. Kepalaku bisa stress jika tidak ada suara lagu atau instument disamping aku duduk memegang kertas dan pena selama berjam-jam. Mungkin aku tidak bisa menjadi penjaga perpustakaan kali ya?
Senin, 06 Juni 2016
Dan saya merasa tua
Tahun ini 2016 di bulan Ramadhan dan tidak terasa waktu telah berlalu cepat. Tahun lalu aku menjalankan ibadah puasa di kampung orang, dan senang sekali rasanya keinginanku untuk dapat berpuasa bersama keluarga dirumah terkabul. Ingat sekali waktu puasa tahun lalu aku menangis dan rasanya mau pulang karena saat itu aku sedang kuliah kerja nyata. Pengalaman hebat sebenarnya setelah selesai dijalani, karena aku bisa merasakan susahnya mendapatkan air bersih dan mengharuskan aku untuk mandi sungai setiap harinya, aku bisa merasakan keramahan masyarakat disana, aku mengenal jariang tumbuk sambalnya amak yang terenak, aku bisa menyaksikan budaya pacu jalur setempat. Tiba-tiba aku rindu desa itu. Mengingat kebersamaan anggota kami yang juga sering konflik membuatku rindu. Siang-siang biasa kami main uno atau tidur kalau lagi tidak ada program. Kami mencuci piring dan baju juga disungai. Nah, satu hal yang paling aku suka dengan desa itu adalah ketika malam tiba, bintang-bintang disana bertaburan. Langitnya benar-benar berselimut bintang! Aku juga mendapat sahabat baru disana dan biasanya kami berdua ketika malam tiba, suka sekali duduk didepan sungai menikmatinya.
Sekarang, dibulan puasa ini aku sudah bekerja. Subuh setelah sahur aku tidak bisa tidur lagi karena bersiap untuk berangkat. Malam teraweh aku masih tetap bersama temanku dimesjid depan rumah walaupun tahun ini kami tidak lengkap, karena masih banyak yang belum pulang dari rantauan. Ku ingat-ingat di jaman binder dulu, aku begitu bahagianya mengisi agenda ramdhan bersama teman sekolah, terkadang kami berbekal mi instan mentah ditas untuk makan dimesjid. Kami juga suka ribut ketika teraweh dan cepat-cepat berpura solat ketika penjaga mesjid datang. Masa kecil itu lucu sekali dan sangat disayangkan di jaman ini, anak kecil sekarang di mesjid masing-masing mereka memegang ponsel canggih. Tidak ada bertukar binder seperti kami, tidak ada jajanan ditasnya.
Dan aku merasa tua.
Tidak terasa ya memang...
Ya ampun aku memang sudah tua!
Hiks T.T
Selasa, 03 Mei 2016
Halo for first salary!
Sebenernya ini bukan gaji pertama juga sih, karena saya pernah bekerja juga sebelumnya disebuah cafe ketika masa kuliah dulu. Tapi boleh jugalah ini dinamakan gaji pertama hehe :D
Walaupun tidak besar, tapi saya senang bisa memberikan sebagian rejeki ini ke mama dan adik. Bisa traktir mereka juga makan diluar. Mungkin ini impian semua anak-anak didunia kali ya?
Well, kenapa gaji pertama selalu identik dengan palakan untuk traktiran? Teman-teman yang banyak masih menjadi mahasiswa berebut menggodaku untuk di ajak keluar, alasan mereka terlalu klasik, "kami pengen ngerasain gaji orang kerja." -______-
Tapi begitulah hidup haha. Nanti waktu mereka juga sudah kerja, tinggal aku yang bikin list mau minta ditraktir mereka kemana #devillaugh
Eh, udah dulu ya. Sebentar lagi mau siap-siap pergi makan keluar. Hehe
Rabu, 27 April 2016
Gegana
This is the really real life!
Saya sudah mulai galau. Bukan tidak mau menjadi orang yang tidak bersyukur. Terkadang keegoisan datang dan membuat dilema. Memang jujur, dari dulu sesuatu yang saya punya hanya menulis. Tulisan saya pernah beberapa kali mendapatkan apresiasi dan itu menjadikan saya begitu percaya diri untuk mengatakan, "saya ingin bekerja diperusahaan media cetak atau menjadi jurnalistik." Bekerja sesuai dengan passion kita memang menyenangkan. Tapi sekali saya terjebak di dalam melakukan apa yang orang anggap "keren".
Dan sekali lagi saya mengubah jalan hidup saya dengan "harus memiliki pekerjaan tetap, tetapi menjadikan passion sebagai freelance". Saya akan tetap menulis disamping saya bekerja. Semoga kelak bisa menjadi novelist yang memiliki bisnis "warung kopi kecil-kecilan".
Pembaca mohon doa agar saya tidak terjebak di zona nyaman ((((((:
Saya sudah mulai galau. Bukan tidak mau menjadi orang yang tidak bersyukur. Terkadang keegoisan datang dan membuat dilema. Memang jujur, dari dulu sesuatu yang saya punya hanya menulis. Tulisan saya pernah beberapa kali mendapatkan apresiasi dan itu menjadikan saya begitu percaya diri untuk mengatakan, "saya ingin bekerja diperusahaan media cetak atau menjadi jurnalistik." Bekerja sesuai dengan passion kita memang menyenangkan. Tapi sekali saya terjebak di dalam melakukan apa yang orang anggap "keren".
Dan sekali lagi saya mengubah jalan hidup saya dengan "harus memiliki pekerjaan tetap, tetapi menjadikan passion sebagai freelance". Saya akan tetap menulis disamping saya bekerja. Semoga kelak bisa menjadi novelist yang memiliki bisnis "warung kopi kecil-kecilan".
Pembaca mohon doa agar saya tidak terjebak di zona nyaman ((((((:
Rabu, 13 April 2016
Lolos dari gelar pengangguran
Well, Finally I've job!
Tepat sebulan setelah balik ke asal, saya dapat kerjaan di salah satu badan pemerintah. Fiuhh... lega banget rasanya bisa ngejawab pertanyaan orang-orang seputar "kamu kerja dimana sekarang?" Dan kalian tau nggak? hidup saya berputar 180 derajat! Guess what?! I must to be a morning person. So, I'm wake up at 5 a.m then sleep at 9 p.m! It's such a precious thing. Insomnia saya pun perlahan hilang, Alhamdulillah...
Karena perjalanan saya dari rumah ke kantor memakan waktu sejam, so, mau gak mau saya harus bangun pagi biar gak kena macet juga. Hidup saya benar-benar teratur, sumpah! habis magrib kalau tidak lagi halangan pasti sudah tidur karena ngantuk sekali dan capek diperjalanan. Ibu pun terlihat senang sekali mendengar saya akhirnya diterima kerja setelah sudah melewati 3x interview yang kemudian di php-kan T.T
Pengalaman kerja dihari pertama sungguh membuat saya gugup, persis kayak mau sidang skripsi.
Semoga ini langkah awal untuk karir yang baik.
Kamis, 31 Maret 2016
Welcome the real life!
Setelah melewati masa-masa kritis, saya ternyata belum bisa bernafas. Para mahasiswa yang dibebankan panggilan untuk segera wisuda pastinya sudah dapat membayangkan masa-masa kritis seperti apa yang dihadapi, kan? Apalagi yang merasakannya adalah anak perantauan. Jadi ceritanya, saya sudah kelar kuliahnya. Mungkin orang-orang melihatnya "big wow" karena saya yang masih umur 20 sudah menyandang gelar sarjana, ditambah lagi saya adalah salah satu dari 5 orang anak angkatan yang udah lulus duluan, dan terakhir dengan nilai skripsi tertinggi yaitu A. Semua yang melihat memang terlihat hebat, tapi mereka tau perjuangan yang berdarah-darah untuk mencapai itu semua. Target untuk selesai 3,5 tahun ini memang sudah saya canangkan sejak menginjak kaki di kota bertuah. Namun, tidak pernah terbayangkan saya pada akhirnya melakukan penelitian di Aceh. Tapi saya sungguh puas, doa-doa saya setiap solat malam telah didengar oleh yang Maha Pengabul Doa. Dan memang benar tidak ada usaha yang menghianati hasil, rejeki tidak pernah tertukar, dan tak lupa the power of "doa ibu".
Saya sangat bersyukur telah melewati badai dengan lancar. Badai-badai itu tak pernah terlepas dari tuntutan ekonomi keluarga yang mengharuskan saya selesai karena adik saya yang akan melanjutkan studi juga, badai dari dosen pembimbing yang harus berangkat keluar kota dalam waktu lama dan mengharuskan saya menyelesaikannya dalam 3 bulan, badai ketika dalam tidur pun masih dihantui dengan skripsi hingga kebawa mimpi dan badai-badai lain seperti kekhawatiran akan keluarnya jadwal sidang.
Efek samping dari masa kritis skripsi ini adalah saya memiliki lingkar hitam dimata, jadwal tidur benar-benar kacau. Saya baru bisa tidur jam 4/5 pagi yang membuat saya mengalami insomnia. Setelah sidang saya diharuskan untuk revisi dalam satu malam untuk mengejar pendaftaran yudisium yang sudah H-3. Semua yang saya lakukan benar-benar the most death-line! Tapi apa yang saya lakukan setelahnya? Sudah 3 minggu saya memperbaiki jadwal tidur tapi sulit, saya mencoba mencari aktivitas perbaikan seperti olahraga rutin (jogging), nonton drama korea sampai bosan hingga belajar bahasanya secara otodidak. Semua yang saya lakukan itu tak lupa sembari menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Setiap sabtu ibu membeli koran untuk mencari lowongan. Nah, ini dia yang menjadi masa selanjutnya tidak bisa membuat saya bernafas sebentar. Pertanyaan dari berbagai pihak baik tetangga maupun keluarga, "Kerja dimana sekarang?" dan pertanyaan ini menjadi sebuah tuntutan baru dari keluarga, "Harus dapat kerja sebelum bulan puasa."
You really having the real life, Ndin!
Boleh bunuh saya?!
T.T
Sabtu, 26 Maret 2016
Rindu
Takdir berkata untuk menunda waktu
Berkeras dalam menjauhi
siksaan untuk menyentuhmu
kebersamaan kau dan aku dalam memadu
berirama syahdu di aluni jarak yang menjauh
hanya bingkai gambarmulah
tempat aku menelan rindu
aku tabah saat rindu mulai menggerogotiku
Berkeras dalam menjauhi
siksaan untuk menyentuhmu
Minggu, 10 Januari 2016
Miss Movin' On?
Hello, readers!
Pernahkah kalian
merasakan patah hati? Dunia rasanya seakan menghimpit ketika kita terbangun
dari tidur. Seketika hidupmu redup. Kau bahkan seperti gelas yang sudah retak
yang siap untuk terpecah belah. Percayalah saya amat mengenal dengan perasaan
itu. Saat itu kalian akan berpikir hanya dialah yang kalian inginkan. Hanya dialah
yang kalian cintai lantas kalian tidak akan merasakan cinta yang sama terhadap
orang lain nantinya. Kalian bahkan merasa bahwa mungkin tidak akan jatuh cinta
lagi.
Saya akan
mencoba mengubah cara pandang anda. Dari berbagai cerita-cerita yang sudah saya
dengarkan, tulisan-tulisan yang saya baca, semua itu hanyalah masalah waktu. Itu
semua tergantung diri kita sendiri yang menentukan untuk tetap bertahan padanya
atau move on? Hei, ingatlah selalu
pernyataan ini, “seseorang yang baik akan mendapatkan yang baik pula.” Kita
tinggal terus memperbaiki diri dengan melakukan hal yang belum sempat kalian
lakukan ketika bersamanya. Suatu hal mungkin seperti bakat yang belum anda
gali. Tunjukkan pada dunia dan tunjukkan padanya bahwa kalian baik-baik saja. Perbaiki
diri terus, tentu kalian nantinya akan mendapatkan penggantinya yang bahkan
kalian tidak menyangka akan mendapatkan seseorang seperti itu. Sesorang yang
mungkin lebih mencintai dan menyayangi anda, yang lebih dari segalanya darinya.
Anda hanya tinggal percaya hal itu akan terjadi, maka hanya soal waktu itu
terjadi.
Ingat, jadikan
pelajaran dengan hubungan sebelumnya dan jangan dijadikan penyesalan. Anda harus
selalu mencintai diri anda sendiri. Jangan biarkan diri anda sakit, terluka,
kacau, galau. Jangan biarkan anda merusak diri anda sendiri yang nantinya akan
merugikan anda sendiri di masa yang akan datang. Sibukkanlah dengan hal yang
positif, misalnya mengikuti kegiatan sosial, travelling, atau mengambil kursus bahasa asing yang anda sukai. Percayalah
ketika kesibukan akan menjadi keseharian anda, anda akan lupa dengan masalah
hati.
FYI, sesuatu yang berlebihan itu tidak
baik, seperti terlalu mencintai seseorang yang bahkan belum pasti dia akan
menikahi anda nantinya. Sayangilah sewajarnya seperti teman yang membutuhkan
dikala susah, dan bebaskanlah waktunya, jangan gara-gara anda dia jadi tidak
bisa melakukan hal lain. Jangan pernah takut kehilangannya, jika dia memang
ditakdirkan untuk anda, bagaimanapun akan untuk anda, akan kembali pada anda. Dan
jika bukan, relakan dan bersiap untuk menyambut kebahagiaan baru. Semoga tulisan
ini bermanfaat! J
Langganan:
Komentar (Atom)
