Terdengar sayup-sayup rintihan
melodi tangis indah tertahan
duduk meringkuk si wajah lelah
mengusap dada menahan luka
goresan hati yang merasuki celah
kini telah lama mendarah
Tuhan,
tegarkanlah hatinya
dari cambukan orang tuanya
aku dengannya satu jiwa
perih sakitnya jua ku rasa
Bunda,
tunggulah sampai ku dewasa
bila nanti tiba
kan ku datang membawa emas
dan ku tunjukkan pada mereka
bahwa aku menggenggam bintang
masa depan kebanggaan
Ayah yang pergi berlayar
mengarungi gelombang
menitipkan pesan kerukunan
pada kita yang tertinggal
Tiada pernah aku termakan fitnah mereka
di lahirkan lewat rahimmu adalah suatu keagungan
dan aku bangga menjadi anak sulung
yang nantinya menjadi tulang punggung keluarga
walau aku hanyalah wanita
(Ini karangan aku sendiri dan mendapatkan nilai A+ loh dari guru bahasa indonesia ku :D)
melodi tangis indah tertahan
duduk meringkuk si wajah lelah
mengusap dada menahan luka
goresan hati yang merasuki celah
kini telah lama mendarah
Tuhan,
tegarkanlah hatinya
dari cambukan orang tuanya
aku dengannya satu jiwa
perih sakitnya jua ku rasa
Bunda,
tunggulah sampai ku dewasa
bila nanti tiba
kan ku datang membawa emas
dan ku tunjukkan pada mereka
bahwa aku menggenggam bintang
masa depan kebanggaan
Ayah yang pergi berlayar
mengarungi gelombang
menitipkan pesan kerukunan
pada kita yang tertinggal
Tiada pernah aku termakan fitnah mereka
di lahirkan lewat rahimmu adalah suatu keagungan
dan aku bangga menjadi anak sulung
yang nantinya menjadi tulang punggung keluarga
walau aku hanyalah wanita
(Ini karangan aku sendiri dan mendapatkan nilai A+ loh dari guru bahasa indonesia ku :D)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar