Selasa, 28 Juni 2016

Teman

Menurut kalian apakah setelah menyelesaikan studi, kalian memiliki banyak teman atau malah berkurang? Kalau menurut aku sih berkurang. Kenapa gitu? karena aku yang merasakan. Nyadar gak sih kalau waktu di sd, smp, sma kita bisa bergaul dengan siapa aja di lingkup sekolah. Kita bisa mengenal siapa aja, kita bisa berbicara dengan siapa saja. Apalagi waktu kalian kuliah terus ngikutin segala kegiatan didalamnya, teman maupun kenalan kalian membludak bukan? Tapi, kebayang gak sih lama-kelamaan seiring berjalannya waktu kalian bakal ngerasain kalau temen-temen kalian bakal hilang satu-per-satu.Dan kehilangan temen itu rasanya sakit loh, kebayang gimana kita deketnya dulu tiba-tiba sekarang dia seperti orang asing. Aku jadi teringat dulu, aku ketika di sekolah dasar aku memiliki teman dekat, kami tidak satu sekolah tapi rumah kami dekat. Sepanjang hari aku bermain dengannya, kadang kami makan bersama, tidur bersama bahkan mandi bersama. Dia satu tahun diatas aku umurnya. Ketika bertengkar, aku selalu sedih. Pokoknya aku tidak punya teman selain dia. Kemana-mana harus sama dia, hingga kedua ibu kami berteman dekat juga. Suatu hari kedua orang tuanya cerai, dan dia harus ikut dengan ayahnya. Saat itu, aku sedih sekali mendengar kepindahannya. Kadang aku mengirimnya surat yang dititipkan kepada adiknya. Hari-hari  kujalani terasa berat, dan aku mulai menata dari awal lagi untuk berteman dengan orang lain. Tapi, aku tak terbiasa, malah setiap mendapat teman baru, mereka malah meninggalkan aku. Butuh waktu lama aku seperti orang kuper yang hanya dirumah saja. Hingga ketika aku duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar, aku menemukan teman baik lagi. Dia anaknya tomboy dan apa adanya. Tapi sayang, selama aku berteman dengannya nilaiku selalu turun dan membuat mama marah. Akhirnya aku tidak boleh bermain sepeda sesering biasanya lagi dengannya. Memasuki smp, aku dan dia berpisah. Dia sekolah dipesantren yang membuat komunikasi kami terputus. Dan ketika SMA, aku bertemu dengan mereka berdua, aku pikir kami bisa berteman seperti masa kecil dulu, tapi ternyata mereka tidak menganggapku. Yang satu bergabung dengan anak-anak yang bisa dikatakan "gaul" dan mungkin dia malu berteman denganku, dan yang satu lagi punya kelompok teman juga. Selama di SMA kami tidak pernah bicara sekali pun, dan aku bisa menerimanya walaupun hatiku sedih. 

Kemudian, aku mendapat kabar dari ibu kalau dia akan menikah. Aku tidak bisa hadir karena, kuliah diluar kota, jadi ibu dan adikku yang hadir. Setelah tamat kuliah, aku mendengar kabar bahwa si tomboy juga menikah. Hari itu aku datang, karena mendapat undangannya. Ketika bersalam dengannya di atas pelaminan, dia berseru, "teman sd." terus kami berpelukan, kemudian dia bertanya tentang kuliahku dan kenapa tidak pernah kelihatan. 
Hatiku senang melihatnya, tak menyangka jodohnya datang lebih cepat dariku, aku teringat masa kecil kami yang selalu bermain sepeda bersama, pergi sekolah sama, dan ada perasaan hangat dalam hatiku. Kenapa baru sekarang kami berbicara, itulah yang kusesalkan. Padahal kami juga satu SMA dulunya walau beda kelas.

Kini, aku sudah mulai meniti karir dan yang kurasakan adalah aku kehilangan banyak orang, bukan mereka berdua saja yang kuceritakan diatas, tetapi teman-teman sepermainan yang begitu banyak kukenal. Sekarang, yang berada disekitarku hanya orang-orang yang berumur lebih tua dariku dengan wajah serius.

Rabu, 22 Juni 2016

Haenbokhae? (Bahagia?)

Hari ini saya dikejutkan dengan pertanyaan salah satu rekan kerja saya. Saat itu kami sedang berjalan menaiki tangga menuju ruangan di kantor.
"Din, aku mau nanya serius ini. Tolong kamu jawab sejujur-jujurnya." katanya.
Saya menjawab dengan males-malesan, "Emm... apaan?"
"Sekarang umur kamu berapa?" tanyanya.
Saya mengerlingkan mata. Yaelah. "21, kenapa?"
"Selama kamu hidup 21 tahun ini, kamu bahagia gak?" tanyanya lagi.
"Bahagia kerja disini maksudnya?" tanyaku balik.
"Ya, bukan disini aja. Bahagia dengan keluarga, teman-teman juga."
Saya termenung. "Emang definisi bahagia itu apa sih?"
Spontan rekan kerja saya ngakak. "Yah, dia malah nanya balik. Habis badanmu kurus begini susah gemuknya." katanya lagi.
Dan saya pun terdiam. Dalam hati membenarkan, sepertinya memang ada yang salah dengan diri saya. Saya banyak makan tapi badan lurus-lurus aja.
"Saya ini orangnya pemikir, mbak. Satu hal saja yang mengganggu pikiran saya, akan saya pikirkan semaleman." jawabku lesu.
"Hm... iya sih bisa juga karena itu, jadi kamu seperti punya beban aja ya."

Sebenarnya hal ini sudah pernah saya dengar dari ibu saya yang sering ngomel tentang berat badan saya yang tidak naik-naik, dan beliau sering bilang gini, "hidup tuh santai ajalah, di bawa happy, jangan banyak pikiran, masih muda pun!"
Dulu saya tidak terlalu mendengar perkataan ibu saya, karena saya pikir, saya merasa biasa saja kok. Tapi pertanyaan dari rekan saya itu benar-benar telak. Kalau dipikir-pikir, saya merasa malu dengan Tuhan. Saya seperti orang yang tidak bersyukur, kehidupan saya sudahlah enak tapi saya selalu merasa kurang dan berpikir terus bagaimana caranya mencapai hal-hal yang dinginkan. Terkadang hidup dengan masa bodoh memang lebih baik, ya?


Mulai sekarang, aku akan menjaga otak untuk tidak mikir out of the box.

Doakan saya agak gemukan ya, teman-teman!^.^

Senin, 13 Juni 2016

Cause, I'm not morning person

Mungkin cewe-cewe yang hobi bangun pagi bakal kesal dengan judul diatas. Ya gimana gak kesal, prinsipnya kan katanya cewe itu harus bangun pagi-pagi buat nyuci, beres rumah, masak, apalagi kalau punya anak, nyiapin sarapan buat anak dan suaminya, jadi kata mereka harus dibiasakan bangun pagi dari sekarang. Tapi sayang, prinsip seperti itu gak mempan loh di aku. Aku pikir dengan aku jadi anak kos bakal bisa bangun pagi setiap harinya, ternyata enggak -_-
Aku tetap tidur di jam 11/2 dan terbangun paling cepet jam 9 diwaktu libur, sedangkan pas kuliah aku selalu berusaha mencari kelas siang ^_^"
Alhasil sekarang, aku harus bangun pagi setiap harinya karena jam masuk kantor adalah jam 8 dan karena jarak kantor dengan rumah yang ditempuh selama sejam, jadinya mau tidak mau aku harus berangkat di jam setengah 7 dan bangun di jam 6. Luar biasa,kan?!
Semua yang mengenal aku dengan julukan ratu ngebo melongo hebat loh.
...........................
..............
.......
...
Zzz

Selasa, 07 Juni 2016

Penulis

Selamat siang, pembaca!
Maaf ya sepertinya seharian ini aku nge-spam postingan xD
Maklum saja dibulan puasa ini kerjaan tidak terlalu banyak, jadi daripada bosan dan selagi banyak ide yang bermekaran di otakku jadi aku blogging aja. Bisa dibilang juga, mungkin ini sebagai penebus dosaku yang telah lama gak nulis #pisss :D
Jadi barusan aku baru meng-scroll blog-blog yang aku ikuti yang kebanyakan adalah milik temanku. Ada salah satu tulisan dari mereka yang menarik perhatianku. Dia menulis seperti ini,

"Dari ribuan kesenangan dan kebanggaanku menjadi seorang penulis, hanya satu hal yang membuatku menyesal: jiwaku begitu mudah tersentuh, terlalu peka. Hati ini terlalu mudah hancur, terlalu rapuh untuk menampung kesedihan dan kecewa yang teramat sangat. Mengapa seorang penulis harus sepeka ini?"

Dan itu memang benar. Aku juga merasakan hal yang sama bahwa terkadang menjadi peka adalah hal yang menyulitkan. Mungkin inilah yang membuat seseorang menjadi penulis karena memiliki kepekaan. Tapi, apakah setiap yang peka bisa menjadi penulis? atau penulis pastinya adalah orang yang peka? Aku teringat ketika salah seorang yang terikat dihatiku sedang tertimpa duka, aku bahkan sampai demam karena merasakan sakit duka yang mungkin sama sepertinya. Aku tahu betapa terlukanya dia dan betapa sedih yang dideritanya. Bayangkan hidupnya yang akan berat sudah terpantri diotakku dan aku sangat terluka membayangkannya. Terkadang, karena sangking peka-nya aku tak pandai memperlihatkan dan sering dianggap cuek loh. Apakah menjadi peka adalah hal yang bagus? menurut kalian bagaimana?

Selamat berpeka-peka ria. Jangan sampai peka(k) ya!^^

I'm sooooooo "Lawas"

Halo, readers! Mungkin kalian bosan dengan postinganku tentang jurnal real life kan? Sebenarnya memang tidak penting aku menulis jurnal kehidupanku dan membagikannya kepada kalian, namun itu harus kulakukan. Kenapa? karena setiap tulisan yang kutulis adalah pengingat. Aku butuh tulisan itu suatu hari nanti jadi harus kusimpan. Pertanyaan selanjutnya, kenapa tidak pakai diary aja sih? Nah, kalau itu, ini jawabannya mari aku jelaskan. Jadi begini... sebenernya aku punya diary, tapi aku pikir ribet untuk membawanya kemana-mana karena yang pertama aku suka berganti tas kalau berpergian, jadi kadang suka ketinggalan disalah satu tas kalau saat ingin di bawa, yang kedua adalah karena aku suka lupa letakkinnya dimana. Maklum, menghindari adikku yang usil pengen ngebaca.  Alasan selanjutnya adalah, separuh hidup aku banyak dihabiskan didepan monitor, well... lebih praktis aja kalau mau nulis di blog kan ya? dont say no! xD

Diluar jurnal tak penting, aku kali ini juga menulis yang tak penting. Jadi gak usah baca! haha. Aku menulis ini karena teringat teman satu kantorku berkata seperti menamparku, "kamu lahir tahun berapa sih?" kata-kata itu langsung tertohok saat aku bilang bahwa aku ingin nonton film Rosalinda lagi. Kalau dipikir-pikir memang benar, aku terlalu jadul. klasik. lawas abis. Coba kalian temukan dijaman sekarang, ada gak anak tahun 90an yang suka lagu-lagu seperti Nike Ardila, Inka Christie, Nike Astria, Ebit, dan parahnya lagi Fauziyah Latif. Duh, aku paling suka stel lagu-lagunya tuh dirumah. Lagu Fauziyah yang paling aku suka selain yang judulnya 'Setiaku korbankan" adalah "Enggan". Pasti kalian gak tau kan? Selain film dan lagu yang aku suka lawas, novel juga loh! Aku selalu suka baca sastra lama seperti karya Marah Rusli dan Khalil Gibran. 
Pasti kalian berpikir aku manusia langka, kan?!
Eh, tapi selain musik pop aku suka mendengarnya instrument. Aku punya kelainan bahwa setiap aku menulis, mengetik, bahkan belajar aku harus disuguhi alunan musik. Kepalaku bisa stress jika tidak ada suara lagu atau instument disamping aku duduk memegang kertas dan pena selama berjam-jam. Mungkin aku tidak bisa menjadi penjaga perpustakaan kali ya?

Senin, 06 Juni 2016

Dan saya merasa tua

Tahun ini 2016 di bulan Ramadhan dan tidak terasa waktu telah berlalu cepat. Tahun lalu aku menjalankan ibadah puasa di kampung orang, dan senang sekali rasanya keinginanku untuk dapat berpuasa bersama keluarga dirumah terkabul. Ingat sekali waktu puasa tahun lalu aku menangis dan rasanya mau pulang karena saat itu aku sedang kuliah kerja nyata. Pengalaman hebat sebenarnya setelah selesai dijalani, karena aku bisa merasakan susahnya mendapatkan air bersih dan mengharuskan aku untuk mandi sungai setiap harinya, aku bisa merasakan keramahan masyarakat disana, aku mengenal jariang tumbuk sambalnya amak yang terenak, aku bisa menyaksikan budaya pacu jalur setempat. Tiba-tiba aku rindu desa itu. Mengingat kebersamaan anggota kami yang juga sering konflik membuatku rindu. Siang-siang biasa kami main uno atau tidur kalau lagi tidak ada program. Kami mencuci piring dan baju juga disungai. Nah, satu hal yang paling aku suka dengan desa itu adalah ketika malam tiba, bintang-bintang disana bertaburan. Langitnya benar-benar berselimut bintang! Aku juga mendapat sahabat baru disana dan biasanya kami berdua ketika malam tiba, suka sekali duduk didepan sungai menikmatinya. 

Sekarang, dibulan puasa ini aku sudah bekerja. Subuh setelah sahur aku tidak bisa tidur lagi karena bersiap untuk berangkat. Malam teraweh aku masih tetap bersama temanku dimesjid depan rumah walaupun tahun ini kami tidak lengkap, karena masih banyak yang belum pulang dari rantauan. Ku ingat-ingat di jaman binder dulu, aku begitu bahagianya mengisi agenda ramdhan bersama teman sekolah, terkadang kami berbekal mi instan mentah ditas untuk makan dimesjid. Kami juga suka ribut ketika teraweh dan cepat-cepat berpura solat ketika penjaga mesjid datang. Masa kecil itu lucu sekali dan sangat disayangkan di jaman ini, anak kecil sekarang di mesjid masing-masing mereka memegang ponsel  canggih. Tidak ada bertukar binder seperti kami, tidak ada jajanan ditasnya. 

Dan aku merasa tua.

Tidak terasa ya memang...

Ya ampun aku memang sudah tua! 
Hiks T.T