Menurut kalian apakah setelah menyelesaikan studi, kalian memiliki banyak teman atau malah berkurang? Kalau menurut aku sih berkurang. Kenapa gitu? karena aku yang merasakan. Nyadar gak sih kalau waktu di sd, smp, sma kita bisa bergaul dengan siapa aja di lingkup sekolah. Kita bisa mengenal siapa aja, kita bisa berbicara dengan siapa saja. Apalagi waktu kalian kuliah terus ngikutin segala kegiatan didalamnya, teman maupun kenalan kalian membludak bukan? Tapi, kebayang gak sih lama-kelamaan seiring berjalannya waktu kalian bakal ngerasain kalau temen-temen kalian bakal hilang satu-per-satu.Dan kehilangan temen itu rasanya sakit loh, kebayang gimana kita deketnya dulu tiba-tiba sekarang dia seperti orang asing. Aku jadi teringat dulu, aku ketika di sekolah dasar aku memiliki teman dekat, kami tidak satu sekolah tapi rumah kami dekat. Sepanjang hari aku bermain dengannya, kadang kami makan bersama, tidur bersama bahkan mandi bersama. Dia satu tahun diatas aku umurnya. Ketika bertengkar, aku selalu sedih. Pokoknya aku tidak punya teman selain dia. Kemana-mana harus sama dia, hingga kedua ibu kami berteman dekat juga. Suatu hari kedua orang tuanya cerai, dan dia harus ikut dengan ayahnya. Saat itu, aku sedih sekali mendengar kepindahannya. Kadang aku mengirimnya surat yang dititipkan kepada adiknya. Hari-hari kujalani terasa berat, dan aku mulai menata dari awal lagi untuk berteman dengan orang lain. Tapi, aku tak terbiasa, malah setiap mendapat teman baru, mereka malah meninggalkan aku. Butuh waktu lama aku seperti orang kuper yang hanya dirumah saja. Hingga ketika aku duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar, aku menemukan teman baik lagi. Dia anaknya tomboy dan apa adanya. Tapi sayang, selama aku berteman dengannya nilaiku selalu turun dan membuat mama marah. Akhirnya aku tidak boleh bermain sepeda sesering biasanya lagi dengannya. Memasuki smp, aku dan dia berpisah. Dia sekolah dipesantren yang membuat komunikasi kami terputus. Dan ketika SMA, aku bertemu dengan mereka berdua, aku pikir kami bisa berteman seperti masa kecil dulu, tapi ternyata mereka tidak menganggapku. Yang satu bergabung dengan anak-anak yang bisa dikatakan "gaul" dan mungkin dia malu berteman denganku, dan yang satu lagi punya kelompok teman juga. Selama di SMA kami tidak pernah bicara sekali pun, dan aku bisa menerimanya walaupun hatiku sedih.
Kemudian, aku mendapat kabar dari ibu kalau dia akan menikah. Aku tidak bisa hadir karena, kuliah diluar kota, jadi ibu dan adikku yang hadir. Setelah tamat kuliah, aku mendengar kabar bahwa si tomboy juga menikah. Hari itu aku datang, karena mendapat undangannya. Ketika bersalam dengannya di atas pelaminan, dia berseru, "teman sd." terus kami berpelukan, kemudian dia bertanya tentang kuliahku dan kenapa tidak pernah kelihatan.
Hatiku senang melihatnya, tak menyangka jodohnya datang lebih cepat dariku, aku teringat masa kecil kami yang selalu bermain sepeda bersama, pergi sekolah sama, dan ada perasaan hangat dalam hatiku. Kenapa baru sekarang kami berbicara, itulah yang kusesalkan. Padahal kami juga satu SMA dulunya walau beda kelas.
Kini, aku sudah mulai meniti karir dan yang kurasakan adalah aku kehilangan banyak orang, bukan mereka berdua saja yang kuceritakan diatas, tetapi teman-teman sepermainan yang begitu banyak kukenal. Sekarang, yang berada disekitarku hanya orang-orang yang berumur lebih tua dariku dengan wajah serius.