Senin, 28 Juni 2010
RAHASIA
IMPIAN ANAK JALANAN
Itulah aku, Dani. Seorang remaja berumur 15tahun yang hanya bisa bermimpi agar bisa bersekolah lagi seperti tahun lalu, bisa dibilang dulu saat aku masih duduk di bangku SMP aku selalu mendapat peringkat pertama, saat kelulusan nilaiku lumayan bagus, walau saat itu aku belajar sambil bekerja menjadi loper koran. Karena tak sanggup lagi membiayai untuk aku melanjutkan ke SMU, aku pun akhirnya ikut membantu ibu untuk mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maklum, ayah sudah lama meninggal karena sakit, jadi ibu yang bekerja keras agar kami tetap hidup, mencari uang untuk makan dengan menjadi seorang pemulung. Kami hanya tinggal disebuah pemukiman kumuh. Aku juga memiliki seorang adik perempuan yang masih berumur 5 tahun. Nina namanya. Gadis kecil ini sudah ditakdirkan menjadi tunanetra sejak lahir. Namun semangatnya agar tetap hidup dan selalu dapat merasakan dunia yang kelam ini sangatlah besar. Nina selalu menggambar di sebuah buku gambar hasil mulung ibu dengan crayon bekas juga. Dia selalu tersenyum. Aku sebagai kakaknya banyak belajar dari dia. Jujur, terkadang aku merasa dunia ini sangat tidak adil. Kenapa kami ditakdirkan sebagai orang miskin? Apa kami akan terus begini hingga ajal nanti? Tetapi lewat senyum tulus yang selalu dipancarkan Nina agar aku tidak boleh berputus asa, akupun menjadi semangat kembali agar aku bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya, agar aku dapat merubah nasib. Demi keringat yang dikeluarkan ibu selama ini untuk kami, dan terutama untuk Nina. Aku ingin suatu hari nanti aku bisa menjadi orang sukses, banyak uang, dan bisa menyembuhkan mata Nina lewat operasi pencengkokan mata. Untuk itu, aku selalu menyisihkan sebagian uang hasil pekerjaanku disebuah kaleng susu yang tidak dipakai lagi lalu ku simpan didalam lemari pakaian ku. Tak seorang pun orang mengetahui hal ini, kecuali Tuhan. Aku akan memberitahunya saat uang itu sudah terkumpul banyak. Dan akan aku gunakan sebagian untuk masuk sekolah nanti, barulah nanti aku akan berjuang keras agar aku mendapat beasiswa, lalu sebagian lagi aku tabung untuk biaya operasi mata Nina.
“Dan! Kenapa bengong sih? ayo kerja! Udah lampu merah tuh!”, lamunanku pun buyar karena dikejutkan oleh temanku,Wawan. Tanpa berkata sepatah kata pun aku langsung beranjak pergi menuju jalan sambil tersenyum getir. Kulihat wawan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aku yang aneh hari itu.
Hari berganti hari, akupun semakin giat bekerja, mulai dari menjadi loper koran, kerja di carwash, jadi pemulung juga, hampir segala kesempatan kerja yang ada aku lakukan. Sedikit demi sedikit aku sisihkan sebagian uang hasil pekerjaanku itu dan sebagian lagi untukku makan. Demi mencapai tujuan dan cita-citaku.
Tak terasa hampir 6 bulan aku melakukan aksi kerja kerasku. Hasilnya lumayan ditambah dengan tabungan ku sebelumnya udah terkumpul sekitar Rp1.500,000. Akupun tersenyum puas setelah berulang-ulang kali menghitungnya, lalu kuletakkan kembali uang itu di dalam kaleng susu dan ku simpan rapi di lemari pakaianku seperti biasa. Setelah itu, akupun menjatuhkan diri ku ke atas kasur dan membiarkannya terlelap dalam mimpi indahku.
“Dani bangun! Dani bangun! Ayo bangun!” ,teriakan ibu akhirnya berhasil membuatku terbangun. “ada apa sih bu? Teriak-teriak gitu bangunin aku, baru jam 6 juga,hoaaamm..”, jawabku kesal. “Lihat dani! Adikmu badannya panas sekali, udah ibu kompres dari tadi nggak turun-turun juga! Bagaimana ini?”, jelas ibu setengah panik. Aku pun segera memeriksa keadaan adikku, benar kata ibu, badannya panas sekali, mukanya pucat, dia meringis sambil beselimut di kasur. Aku menjadi sedih melihatnya. Nina yang selama ini selalu ceria kini terbaring lemah. “Ya sudah, Dani pergi beli makanan dan obat dulu ya bu, mudah-mudahan nanti setelah di kasih obat demam dari apotek, panas badan Nina agak turun”. Ibu hanya mengangguk pelan, dan aku pun langsung beranjak pergi. Dalam perjalanan, aku selalu berdoa dalam hati, “Tuhan..semoga Nina cepat sembuh, akan aku lakukan segala hal agar aku dapat melihat senyum Nina kembali”.
Sudah hampir seminggu setelah di beri obat yang bagus menurut penjual apotek itu kepadaku, namun Nina belum juga sembuh. Terkadang suhu badannya naik dan terkadang turun. Nina masih terbaring lemah di kasur. Tampak wajah lelah yang memancar dan sedih menghampiri ibu, dia bingung dan tidak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Nina. “Kasihan ibu”,pikirku. Dengan langkah ragu-ragu aku mengambil kaleng susu tabunganku. Kulihat wajah Nina dan wajah ibu lalu ku lihat kaleng itu yang berisi uang hasil jerih payahku. Tak rela tapi aku tak sanggup melihat keadaan lemah Nina. Akhirnya aku memutuskan uang dipakai untuk pengobatan Nina di rumah sakit.
“Ini bu uang tabunganku, pakailah untuk berobat Nina di rumah sakit”, kataku pelan. “jangan nak! Itu uang mu, kau bekerja keras mengumpulkan uang itu, ibu tak bisa menerimanya”,pinta ibu. Aku pun segera menjawabnya,”bu, uangku uang ibu juga,kita keluaga! aku senang kalau Nina sembuh, aku tidak tega melihat dia sakit, ayo bu kita bawa Nina ke rumah sakit sekarang!”. Ibu hanya bisa tersenyum seraya berkata,”terima kasih anakku! Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ada”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman lalu segera menggendong Nina dan membawanya ke dalam angkot menuju rumah sakit terdekat bersama ibu.
“Pasien ini menderita penyakit demam berdarah, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menstabilkan suhu badannya kembali”,jelas dokter kepada ku dan ibu tentang kondisi Nina. “tapi adik saya bisa sembuh kan dok? Tolong dok, lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya”, pintaku. “iya,dok! Tolong”,timpal ibu. “ya,kita berdo’a saja. Untuk sementara pasien kita rawat inap”,jelas dokter lagi. “baik,dok”,jawabku pasrah. “adik silahkan keruang administrasi untuk melakukan pembayaran ya”,kali ini perawatnya yang angkat bicara. Aku hanya menggangguk lesu seraya beranjak pergi menuju ruang administrasi tersebut.
“total semuanya Rp1.300.000”,kata mbak penjaga kasir tersebut. “ini”,kataku sambil menjulurkan uangnya kepada mbak itu. “lunas ya, ini kuitansinya,terima kasih”,kata mbak itu ramah. “iya,sama-sama”,balasku.
Selesai membayar aku menuju kamar Nina, kulihat ibu tertidur disamping Nina karena kecapean. Nina pun tertidur juga. Karena tidak ingin mengganggu mereka, aku pun beranjak pergi dengan langkah hati-hati takut membangunkan tidur lelap mereka.
Sambil berjalan tak tentu arah, pikiranku mulai bingung, sisa uang tabungan tinggal Rp200.000, itu buat makan sehari-hari. Lama-lama akan habis, bagaimana dengan cita-citaku untuk bersekolah? Haruskah aku menundanya selama setahun sampai tabungan ku penuh? Atau lebih baik, aku kuburkan saja dalam-dalam cita-citaku dan mencoba menerima kenyataan pahit ini? Aarrrghh! Pikiranku kacau! Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan! Tuhan…tolong aku!
Tak terasa 5 hari telah berlalu, akhirnya aku dapat melihat senyum ceria Nina lagi, tidak sia-sia pengorbanan aku selama ini. Hari ini Nina diperbolehkan dokter pulang, kami senang sekali. “jaga kesehatan adikmu baik-baik ya!”,saran dokter. “iya,dok! terima kasih banyak!”,jawabku. “berterima kasihlah kepada Yang Diatas! Kami hanya berusaha semaksimal mungkin”,balas dokter rendah hati. Aku hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Sesampai di rumah, terpancar wajah bahagia Nina dan ibu. Nina langsung melakukan hobinya untuk melukis. Ibu mendampinginya. Melihat wajah mereka berdua hatiku pun menjadi sedikit lega. Lalu aku pamit kepada ibu untuk melanjutkan pekerjaanku dijalanan.
Suasana kota saat itu sangat ramai, siang bolong ini diundang dengan cuaca pun panas. Matahari tak tampak malu-malu memancarkan teriknya di seluruh penjuru kota. Keringatpun dengan hebatnya meluncur deras dipipiku. Capek bukan main hari ini. Aku pun memanjakan diri duduk diwarung es cendol. Sambil meminumnya dengan cepat, tampak sebuah benda hitam yang menghampiri pandanganku. Ku sipitkan mataku untuk memperjelasnya karena silaunya pancaran sang raja siang. Karena penasaran, aku pun mendekati benda itu dengan takut-takut. Ternyata benda itu adalah dompet seseorang yang mungkin tak sengaja terjatuh. Lalu ku buka dompet itu, kulihat banyak segala macam kartu di situ, mulai dari atm, creditcard, sim mobil, KTP,dan..uang! banyak sekali, berlembar-lembar uang Rp50.000 dan Rp100.000! aku bingung menghadapinya, sempat terlintas dipikiranku untuk mengambilnya, dan akan ku pakai untuk biaya ku sekolah. Tapi disisi lain, aku takut dosa! Ini bukan milikku, dan haram! Mungkin sekarang pemilik dompet ini sedang kebingungan mencarinya, aku bayangkan posisi orang itu adalah aku. Pasti aku juga akan merasakan hal yang sama dengannya. Lalu ku bayangkan cita-cita ku itu. Oh..Tuhan! bagaimana ini? Bantu aku!
Setelah 10 menit aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya. Ku baca identitas diri pemilik dompet tersebut di KTP yang terletak didalam dompetnya tadi, tertera disitu namanya, Arta Wahyudi, dan alamat rumahnya, Jln. Cimpedak No.54. Dengan penuh percaya diri aku melangkah menuju alamat itu menggunakan angkot. Aku yakin berkata jujur akan membawa kebahagiaan nantinya.
Sesampai disana, ku lihat rumah itu dengan rasa kagum. Dalam hatiku berkata sangat yakin bahwa pemiliknya pasti orang kaya raya, rumahnya besar, indah, seperti istana, jauh berbeda sekali dengan rumahku yang kumuh. Dengan ragu-ragu aku memencet bel yang terletak disamping tembok pagar, tak berapa lama keluarlah satpam penjaga rumah itu, “Cari siapa ya dik?”,tanya satpam tersebut dengan curiga. “Apa benar pak ini rumah bapak Arta Wahyudi?”,tanya ku dengan rasa takut. “Iya benar, adik siapa? Ada perlu apa?”tanya satpam itu lagi. “saya Dani,pak. Tadi di jalan saya tidak sengaja menemukan dompet ini, apa benar ini milik pak Arta yang tinggal disini?”,jelasku sambil menyodorkan dompet itu kepada pak Satpam. Dia meraihnya dan langsung mengamati KTP yang terletak didalam dompet tersebut. “Tunggu disini sebentar ya,dik!”perintahnya padaku. “baik pak!”jawabku meyakinkan. 10 menit kemudian datanglah satpam tadi bersama seorang pria setengah tua berkaca mata tipis, tinggi, dan berisi menghampiriku. Ternyata benar dugaanku. Orang itulah pemilik dompet tersebut. Pak Arta namanya, beliau tersenyum ramah dan mengucapkan banyak terima kasih kepadaku. Betapa leganya hatiku, telah berhasil menolong orang lain. Akupun langsung disuruhnya masuk kedalam rumah. Ternyata pak Arta dan keluarganya baik. Dia memiliki dua orang anak perempuan. Anak sulungnya bernama Ziyah yang saat ini sedang melanjutkan kuliahnya di Australia, sedangkan anak bungsunya masih duduk di SMP kelas 2. Setelah lama berbincang-bincang, beliau mengantarkan aku pulang. Awalnya aku menolak tapi beliau memaksa, katanya sebagai ucapan terima kasih. Dan pak Arta pun mengantarku bahkan sampai ke dalam rumah, lalu pak Arta berbincang-bincang dengan ibu, aku, dan Nina. Dalam perbincangan itu, pak Arta menawarkan aku untuk bersekolah di SMU miliknya,gratis! Sebagai ucapan terima kasihnya, dan dia akan memberi modal agar ibu memiliki pekerjaan tetap. Selain itu, pak Arta juga sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Katanya dia kagum melihat kejujuranku, jarang ada orang jaman sekarang kalau menemukan dompet apalagi dalam jumlah uang yang besar, langsung mengembalikan kepada pemiliknya. Tetapi sayang ibu menolak tawaran pak Arta tadi,”maaf pak, saya dan Dani tidak bisa menerimanya, bapak terlalu baik kepada kami, itu semua berlebihan buat kami, lagian Dani juga menolong bapak tanpa pamrih kok , iya kan Dan?“,tanya ibu. “iya pak, tidak usah repot-repot, saya ikhlas, itukan sudah kewajiban saya mengembalikan yang bukan hak milik saya”, jawabku lesu.
“oh, saya tidak merasa keberatan kok, orang yang jujur seperti nak Dani ini pantas mendapatkannya, anggap saja saya membantu ibu, tolong bu terima, saya merasa berdosa kalau membiarkan ibu begini, saya mohon, ibu mau ya?”,pinta pak Arta.
Ibu tampak bingung, kemudian ditatapnya wajahku, aku membalasnya dengan penuh harap agar ibu bersedia menerimanya, agar aku dapat bersekolah lagi. Dapat kulihat sebuah ketulusan diwajah pak Arta. Lalu ibu pun menjawabnya,”kalau hal itu tidak memberatkan bapak, saya terima kasih yang sebesar-besarnya”. Pak arta langsung tersenyum lega, “iya bu sama-sama, saya senang membantu ibu”. Kami pun lalu bersalaman. Dalam hatiku berteriak sekencang-kencangnya, “Oh,Tuhan..terima kasih! Engkau telah mengabulkan semua doaku, horeee! aku bisa bersekolah lagi! Yeah!”.
Aku dan ibu lalu bersalaman bersama pak Arta sambil mengucapkan banyak terima kasih. “saya senang membantu orang yang membutuhkan dan jujur seperti nak Dani”,begitu kata pak Arta.
Dan akhirnya, ibu bekerja sebagai penjahit dirumah berkat uang modal pemberian pak Arta, dan akupun jadi bersekolah di SMU milik pak Arta juga, setiap hari aku berangkat dan pulang dari sekolah naik angkot, kadang kalau ada waktu senggang aku melanjutkan pekerjaanku dulu, sebagai loper koran hanya untuk menambah-nambah uang tabunganku, walaupun tak se-aktif dulu aku melakukannya karena saat ini aku sangat mengutamakan sekolahku untuk belajar agar nantinya aku bisa mendapatkan beasiswa dan menjadi orang sukses! Dengan begitu, aku bisa membiayai operasi mata Nina, semoga saja suatu saat nanti ada seorang pendonor mata yang baik hati untuk Nina dan pecengkokan mata Nina akhirnya berhasil. Agar Nina bisa bersekolah nantinya dengan normal. Karena menurut ku Nina harus bersekolah, karena sekolah itu sangat penting! Seperti kata pepatah, “tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina”. Walaupun aku sudah bersekolah lagi, bukan berarti aku telah melupakan kebiasaan menabungku, malah aku jadi semakin giat untuk terus menabung, karena menabung itu adalah hobiku. “Menabung pasti untung untuk kedepannya”, begitu pikirku.
-SELESAI-
AKHIR CERITA DUKA
Hening temani malam ku. Yang terdengar hanya suara derasnya hujan dan jeritan petir yang sesekali memekakkan telingaku. Aku berjalan pulang dengan pasrah, membiarkan hujan membasahi tubuhku. Aku benar-benar lemah saat ini. Di sepanjang jalan , air mataku pun tak mampu berhenti menandakan bahwa aku benar-benar tak mampu menerima kenyataan yang pahit ini. Langkahku pun berhenti ketika sampai di depan rumah yang tampak kosong, tak bercahaya. Itulah rumahku. Aku hanya dapat memperhatikannya dari luar. Tak mampu aku menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Aku takut di hantui dengan semua kenangan manis yang tersimpan di situ. Aku benar-benar tak sanggup untuk pulang. Oleh karena itu, aku putuskan untuk berjalan lagi, meninggalkan rumah yang dulu penuh dengan kebahagiaan dan penuh dengan kenangan indah itu. Aku terus berjalan dan berjalan tak tentu arah. Tak tahu mau kemana. Sampai akhirnya aku berteduh di sebuah ruko yang sudah tutup di pinggiran jalan. Aku duduk sendirian di situ sambil menangis. Mengingat kembali kejadian pahit yang baru tadi pagi ku dapatkan.
“Ma, jadi nanti jadi pesawatnya berangkat jam berapa?” tanyaku ketika kami sedang sarapan di meja makan. “Jam 9 sayang, paling jam 12 mama sama papa sudah nyampe di Medan, kenapa sayang? Nanti mama kabarin kalau udah sampe” jawab mama lembut. “Ih ma, Lila pengen ikut. Ntar Lila kangen sama mama papa, Lila masa’ sendiri di rumah, hu.” Pintaku manja. “Jangan sayang, kamu kan harus sekolah! Bentar lagi kamu mau ujian akhir kan? Ntar gak lulus lagi kalau kamu ikut dan ketinggalan pelajaran. Lagian kan mama disana cuma 5 hari. mama juga disana bukan buat liburan atau senang-senang. Selesai urusan pekerjaan mama sama papa, kami langsung pulang kok. Kamu juga disini gak sendirian kok, kan ada Bi Inem. Katanya juga kamu mau ngajak teman-temanmu nginep sini. Kan udah rame tuh.” Jawab mama panjang lebar. “Tapi kan ma, tetap aja gak enak! Gak ada mama sama papa, nanti Lila jadi kangen.” Rengekku. “Aduh, anak papa ini manja banget, mentang-mentang gak ada saingannya di rumah, mentang-mentang anak tunggal.” Ledek papa. “Biarin! Huh!” jawabku jutek. “Ih, ngambek ni ye…ntar makin jelek lo!” ledek papa lagi. “Ih. Mama! Papa rese’ nih! Hu.” Rengekku manja kepada mama. “Hahaha, ya sudah... berangkat sekolah aja gih! Udah jam berapa tuh, ntar telat lagi.” Jawab mama santai. “Ya ampun! Hampir jam 7! Iya udah deh, Lila berangkat dulu ya!”. kataku sambil menyalam mama dan papa. “Dah mama! Dah papa!”, teriakku sambil berlari pergi. “Dah, sayang! Hati-hati ya!” balas mama.
Tak disangaka, ternyata itu adalah pertemuan terakhirku kepada mama dan papa. Ditengah pelajaran aku di panggil guruku ke kantor, karena ada telpon penting untukku. Ternyata itu telpon dari seorang polisi yang mengabarkan bahwa mama dan papa mendapat kecelakaan saat mereka di jalan manuju bandara. Taxi yang mereka naikki mendadak remnya blong dan akhirnya menabrak sebuah truk besar. Mama dan papa mati di tempat. Dan mayat mereka di bawa ke rumah sakit. Mendengar kabar itu, aku langsung berteriak tak percaya, mengganggap polisi itu bohong atau salah sambung. Dan ketika dia menyakinkan ku dengan membaca seluruh identitas orang tuaku, air mataku pun langsung bercucuran dengan derasnya. Rasanya darahku saat itu berhenti, kepalaku pusing, dan aku pun langsung kemudian pingsan. Mungkin saat aku tak sadarkan diri, semua guru heboh dan bertanya-tanya dalam hati, “ada apa?”. Lalu mungkin salah satu dari mereka meminta penjelasan dari seseorang yang menelponku tadi. Sehingga saat aku sudah bangun dari ambang sadar, dengan pandangan yang agak buram, ku lihat guru-guru ku dan sahabatku Ema sedang mengerumuni ku di UKS sekolahku. Sebagian dari mereka menenagkan hatiku, “Sabar ya sayang, mungkin Tuhan sedang menguji mu…kamu tidak sendiri kok disini, ada ibu dan bapak guru yang siap menggantikan sebagai orang tua mu.” Kata bu Susan wali kelasku dengan lembut. “Iya, La…yang sabar ya, aku siap kok membantu mu disaat kamu butuh.” Kini sahabatku Ema yang angkat bicara. Aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Tanpa aba-aba darah bening ku pun lalu dengan cepatnya meluncur membasahi pipi ku. Tiba-tiba aku merasa dunia ini begitu kejam, seperti ingin mencekikku. Aku merasa suasana yang beda. Aku sangat berharap, agar aku cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk ini. Namun, hasilnya pasti NIHIL! Karena ini nyata! Aku tak bisa lari dari kenyataan ini. Kenyataan yang begitu pahit. Kenyataan yang tak pernah terfikir di benakku sebelumnya. Tuhan…aku lebih baik mati daripada sendiri di dunia ini. Tolong cabut nyawaku sekarang Tuhan…aku tak sanggup! Ingin rasanya aku berteriak, namun suaraku tertahan dalam isak tangisku.
“Udah sayang, gak usah sedih lagi ya…coba la tegar, Tuhan sayang dengan umat-Nya yang tegar dan sabar…cobalah ikhlas.” Pinta bu Susan yang segera memecahkan keheningan saat itu. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk lesu walaupun sebenarnya hati ini masih menjerit. “Permisi semua, ayo sekarang kita ke tempat pemakaman orang tuanya Lila, mayatnya sudah mau di kuburkan.” Ajak pak Beno guru olahragaku yang baru nongol karena tadi beliau menerima telpon. Aku sudah tebak pasti dari polisi yang tadi. Dengan langkah yang berat aku pun mengikuti langkah mereka yang siap membawaku ke pemakaman.
Sesampai disana, aku hanya terduduk lesu diatas kuburan kedua orang tuaku itu sambil tak henti-hentinya menangis. Jujur. Aku masih belum percaya dengan kenyataan pahit ini. Lalu ketika semua orang mulai membacakan doa, aku pun mengikutinya dengan keadaan masih menangis. Setelah selesai, dan banyak orang yang sudah bubar, sahabatku Ema dan para guru mengajakku pulang. Namun aku bilang, aku masih ingin disini. Awalnya mereka tidak setuju, namun akhirnya mereka mengerti dan meninggalkanku sendiri di situ. “Ma,pa…kenapa kalian tega meninggalkanku sendiri disini? Apa kalian tidak sayang kepadaku? Huhuhu…kenapa? Kalian jahat! Huhuhu..” kataku kesal kepada batu nisan kedua orang tuaku. Darah beningku tak henti-hentinya meluncur. Malah makin deras. Hingga tak berapa lama kemudian, aku memutuskan untuk pulang. Tapi ternyata aku malah meneruskan langkahku tak tentu arah, sampai kini aku sendiri berteduh di ruko ini. Tak perduli hujan. Tak perduli malam.
Tiba-tiba aku tersentak dari hayalanku. Kedatangan seseorang yang tak diundang memecahkan lamunan panjangku, dia merangkulku dari belakang dengan lembut. Spontan aku kaget dan langsung membalikkan badanku untuk melihat siapa gerangan. Ku lihat sekilas dia memakai baju putih panjang, wajahnya begitu berseri-seri, cantik sekali, dia tersenyum manis kepadaku. Ternyata…orang itu adalah MAMA! Betapa kaget dan senangnya aku! Berarti benar dugaanku, ini semua bohong! Ini semua hanya mimpi! Ya Tuhan terima kasih, kau telah menyadarkanku dari mimpi buruk ini. “Mama! Lila kangen sama mama…jangan tinggalan Lila sendiri, Lila gak mau mama pergi,huhuhu.” Pintaku sambil menangis. “Ya sayang, mama juga kangen sama Lila. Lila jangan sedih ya, Lila harus kuat, mama gak suka Lila cengeng begini.” Jawab wanita itu lembut sambil membelai mesra rambutku. “Iya ma, Lila janji! Lila sayang sama mama, mama jangan tinggalin Lila lagi ya.” rengekku manja. “Ya, sayang. mama juga sayang sama Lila, tapi mama gak bisa lama-lama, mama harus pergi.” Kata wanita itu lagi. “Kemana ma? Kalau gitu Lila ikut!”, kataku memaksa. “Jangan! Kamu gak boleh ikut. .” Tegas wanita itu. “Kenapa ma? Kenapa Lila gak boleh ikut? Lila mau kita sama-sama.” Rengekku lagi. “Maafkan mama sayang, tapi kamu gak boleh ikut! Banyak yang harus kamu lakukan disini. Mama sayang sekali sama kamu,nak.” Jawab wanita itu lagi. “Bohong! Kalau mama sayang sama Lila, mama harusnya gak ninggalin Lila! Mama pasti bolehin Lila ikut mama! Lila benci mama! Lila bennccciiiii!! Huhuhu.”kataku dengan nada sedikit emosi sambil menangis histeris. Namun kehadiran mama perlahan-lahan namun pasti mulai menjauh. Menjauh dan menjauh. Hingga hilang dari pandanganku. “MAMAAAAA…!!!! JANGAN TINGGALIN LILA!! MAMA!!! Huhuhuhu.” teriakku semakin kencang.
“Lila! Bangun! Bangun La! Bangun!”. Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang mengguncang-guncangkan badanku semakin lama, semakin keras. Dan aku pun terbangun. Sial. Ternyata tadi cuma mimpi. Rasanya aku ingin mati saja. “Akhirnya, kamu bangun juga! Aku kaget banget loh ngedengar teriakan mu tadi, huh”. Ternyata yang membangunkanku adalah, Tio. Teman satu sekolahku. Dia tinggi, putih, badannya berisi, memakai kaca mata tipis. Anaknya pinter dan selalu menjadi kebanggaan sekolah. Aku kenal dia sejak masuk SMA. Entah kenapa selama hampir 3 tahun sekolah, aku selalu sekelas dengannya. Rumah kami pun jaraknya lumayan dekat. Sehingga terkadang kami selalu pulang bareng. Bisa di bilang kami cukup akrab. Apalagi orang tua kami juga saling kenal baik. Karena tetanggaan. “Eh, kok bengong sih? Ayok pulang yuk! Udah malam nih! Udah hampir jam 9! Lagian hujannya juga sedikit berhenti, Aku capek nyariin kamu kemana-mana.” Jelas cowok itu panjang lebar. “Kalau kamu mau pulang, ya udah pulang aja! Aku gak mau pulang!” kataku cuek. “Aku ngerti kok perasaan kamu, kalau kamu belum siap untuk pulang ke rumah, kamu boleh kok nginep di rumahku untuk sementara, ayolah! Gak boleh cewek sendirian disini! Ini udah malem! Pasti banyak orang jahat yang berkeliaran.” Kata cowok itu lembut. Dan sesaat kemudian…Aduh! Aku nih kok cengeng banget sih! Air mata ini gak bisa diam apa! Huh. “Udah gak usah nangis.” Kata Tio sambil mengelap air mataku. “aku siap kok ngejaga kamu, membantu kamu, udah yuk, kita pulang!” lalu cowok itu menarikku untuk berdiri. “Tungggu!” jawabku cepat. “Aku gak enak sama orang tua mu” jawabku pelan. “hahaha. Lila-lila! Kamu ini kayak baru kenal aja sama, udah ah ayo!” jawab Tio santai. Aku pun mengikut saja. Dan sesampai dirumahnya.
“Lila, kamu gak apa-apa kan sayang? yang sabar ya…tante turut berduka cita, tante siap kok jadi pengganti ibu mu, kalau kamu mau menggil tante dengan sebutan “Mama” gak apa kok! Tante seneng.”sambut mama nya Tio. “Iya Lila, kami siap kok menjadi orang tua mu apalagi kalau kamu menjadi sebagian dari keluarga kami, heheh.” Tambah papanya Tio sambil tersenyum jail. “Iya bener, pa! mama juga setuju kok kalau Lila jadi menantu mama.” Mama Tio jadi ikut-ikutan. “Jadi gimana tuh Tio?” kata papanya lagi. “hehehe..aku sih mau aja kalau Tia nya mau.”jawab Tio sambil menatapku. “Hayo…gimana tuh La?” kali ini papanya Tio menatapku. Mama dan papanya Tio tersenyum-senyum mengunggu jawabanku. Sedangkan Tio nya hanya menunduk. Aku jadi bingung. Wajahku tiba-tiba pucat. Hatiku masih ragu, ini bercanda atau serius sih? Pikirku. “Hahaha…jangan bercanda dong, om, tante. Selama ini sikap Tio biasa aja sama Lila, kami kan cuma teman baik, lagian kan mana mungkin om dan tante mau punya menantu anak sebatang kara gini?” jawabku pelan, memberanikan diri. “Kami serius kok sayang, almarhum orang tua mu kan selalu baik kepada kami, kita juga udah kenal lama. Sebenarnya, diam-diam dulu orang tua mu dam kami sudah sepakat ingin menjodohkan kalian, hehehehe, iya kan pa?” Tanya tante sambil tersenyum ke arah om. “Iya bener, nak Lila. Rencananya nanti setelah lulus SMA ini kami mau tunangkan kalian dulu, dan selesai Tio kuliah baru kalian nikah. Lagian kami perhatikan kalian kan dulu akrab, apa-apa bareng, dilihat-lihat kalian cocok.” Jelas papanya Tio panjang lebar. “Dan,La…sebenarnya aku tuh sayang sama kamu sejak kita selalu bareng, tapi aku takut kamu tolak dan gak mau berteman lagi sama aku, jadi aku hanya bisa memendamnya. Tapi aku benar-benar gak tahu loh soal perjodohan ini.” Jelas Tio padaku. “Jadi gimana La, jawaban mu?” Tanya Tio lagi kepadaku. JEDDDEEEERRRR!!! Aku sangat kaget mendengar itu, serasa di sambar petir siang bolong. Ternyata Tio yang selama ini aku anggap teman menyimpan perasaan special padaku. Aku bodoh tak menyadarinya. Aku kira segala perhatian yang di berikan Tio kepadaku hanya karena sebatas teman. Tapi ntah kenapa, setelah mendengar pengakuan darinya, aku juga jadi sayang padanya. Apalagi orang tuanya Tio juga baik sekali kepadaku. Mereka menerima aku apa adanya.
“La? Kok bengong? Ayo gimana? Mungkin mama dan papamu disana juga senang kalau ternyata rencana kami mempersatukan kalian berhasil.”Tanya mama nya Tio yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum. “Saya sangat senang sekali kalau di terima baik oleh keluarga ini, om, tante. Saya siap.” Jawabku mantap. “Terima kasih La! Aku janji aku selalu membahagiakanmu.” Kata Tio berapa-api. “Akhirnya…om dan tante juga senang, lega rasanya.” Kata papanya Tio kemudian. Mamanya Tio langsung memelukku erat sambil berkata,”kita sudah seperti keluarga sekarang, jadi kamu jangan sungkan ya sayang.” Tiba-tiba air mataku kembali menetes untuk kesekian kalinya. Namun air mata kali ini adalah air mata bahagia. Terima kasih Tuhan…ternyata Engkau benar-benar sayang padaku. Aku jadi percaya, dibalik semua kesedihanku pasti ada hikmah dan kebahagiaan yang abadi nantinya. Aku yakin dan percaya, mama dan papa juga tersenyum di alam sana. Sekali lagi, terima kasih Tuhan! Jeritku dalam hati.
-SELESAI-