Minggu, 31 Mei 2015

Dilema Mahasiswa Tingkat Akhir



            Sudah lama rasanya aku tidak menulis lagi. Kini jari-jariku mulai menari diatas keyboard. Banyak sekali cerita. Banyak yang terjadi setahun belakangan ini. Aku bahkan bingung harus memulai dari mana. Oh! Mungkin aku bisa memulainya dengan perkuliahanku. Well, ternyata benar. Bukan ini tempat yang cocok untukku. Aku bersyukur mengenal teman-teman yang baik disini. Aku tidak tahu akan seperti apa jika aku tidak bertemu dengan mereka disini. Tapi satu yang terasa kurang. Sekeras apapun aku berjuang, aku tetap tidak sanggup mengejar ketertinggalanku. Apa aku sudah usaha? Aku tidak tahu. Tapi aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku berhenti sampai disini saja. Sudah banyak yang dikorbankan.
            Aku menatap keluar jendela. Langit tak bersahabat akhir-akhir ini. Suasana kabut yang bercampur dengan cahayanya matahari membuat dunia yang ku pijaki saat ini redup. Tak ada gairah. Kosong. Sekali  lagi aku berpikir. Inikah yang aku inginkan? Kemanakah bahagiaku perginya? Setiap potongan kenangan yang berhambur layaknya puzzle silih berganti berputaran di otakku. Rasanya ingin aku raih setiap potongan itu. Rasanya... aku ingin kembali. Andai kata-kata andai bisa saja dengan mudah kuucapkan lalu terwujudkan. Aku berani bertaruh tidak akan berlarut seperti ini. Aku bahkan takut menghadapi apa yang akan terjadi didepanku nanti. Mengapa seperti ini?
            Disini. Dikota harapan ini aku banyak menjalin kisah. Kisah yang tak berujung akhir. Banyak yang dekat tapi hanya sebatas dekat. Tidak ada yang benar-benar menuntunku keluar. Mereka bersinggahan hanya untuk memuaskan penasaran. Setelah itu menghilang tanpa jejak. Tidak bolehkah aku merasakan kisah yang benar-benar membahagiakan? Tanpa harus memiliki pikiran untung mengulang kisah.
            Oh, Tuhan.. skenario mu adalah rahasia yang tak pernah bisa di tebak. Akan kemanakah aku nanti? Apakah kemampuan tinggallah kemampuan?  Apakah usaha hanya tinggal usaha? Dan apakah keinginan hanya tinggal impian? Beberapa mengatakan “kejarlah mimpimu!” tapi jika keadaannya dalam posisiku, apakah pantas kata-kata itu ditujukan? Aku hanya ingin mendapatkan apa yang aku cintakan. Aku hanya ingin melakukan hal dengan apa yang aku sukakan. Dengan apa yang aku inginkan. Tanpa syarat. Tanpa pertimbangan. Hanya mengalir saja. Dan aku selalu bersemangat menjalankannya. Bukan semata karena tuntutan. Bukan semata karena kewajiban.