“Bermimpilah, maka
Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, orang yang sukses adalah orang yang berani
bermimpi besar!”
Potongan kata-kata itulah yang menjadi peganganku. Yang menjadi tonggak untuk aku bertahan dan terus mengejar. Terus mengejar sebuah mimpi yang masih berbayang semu. Sebuah mimpi yang hanya seperti ilusi saja.
Tapi
aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah sampai tulisan ini selesai dan
diterima penerbitnya. Ya, impianku adalah menjadi seorang penulis. Aku tahu banyak yang memandang penulis itu dengan sebelah mata, tetapi aku bangga
dengan seorang penulis yang bisa melahirkan karya dengan mengajak pembaca berimajinasi
lewat pikiran-pikirannya tanpa syarat. Bebas. Aku juga ingin seperti mereka
yang hanya lewat tulisannya saja mereka bercerita. Hanya tulisannyalah yang
berbicara dan mewakilkan segalanya tanpa harus didengar. Cukup memahami saja.
“Hei,
Bian!”
Spontan
aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Edo, teman sebangkuku yang menyapa. Aku
membetulkan letak kacamataku. “Hei! Dari mana saja kau?”
“Aku
tadi dari kantin, nyariin kamu eh ternyata bener di perpus.”
Aku
tertawa. “Ya, inilah rumah keduaku.”
“Kamu
nyari apaan sih? Emang ada tugas?” Tanyanya heran.
“Enggak
kok, aku hanya membaca saja siapa tau ketemu inspirasi buat nyelesain novel
pertamaku.”
Raut
wajah Edo berubah kaget, “Kamu seriusan mau buat novel?”
“Sebenarnya....
sudah selesai dan aku tinggal kirim ke penerbit saja.” Jawabku malu-malu.
Edo
langsung memukul bahuku. “Hey! Jangan begitu dong! Aku yakin novelmu akan
terbit, karena kau penulis hebat!”
Aku
tersenyum. “Ah, kamu mengejek saja!”
“Hey
man! Aku serius. Jika kau bukan
penulis muda yang hebat. Jadi apalah arti semua cerpenmu yang sudah terbit di beberapa media massa?”
***
Sore
itu seperti biasa, aku membawa notebook untuk mengedit naskah yang ke sekian
kalinya. Dengan pemandangan bentangan air laut yang ada di hadapan, aku merasa tenang. Suasana
dpinggir pantai inilah yang membuatku mudah menyelesaikan naskah. Aku bersyukur
tinggal ditempat yang jaraknya tidak jauh dari laut. Karena aku suka laut, aku
suka menghabiskan waktu duduk sendiri disini setiap lenggangnya. Tiba-tiba
dering ponselku berbunyi.
“Hallo?”
“Bisa bicara dengan Bian Anugrah?”
tanya suara lelaki disebrang sana.
“Ya, saya sendiri. Maaf dengan
siapa saya berbicara?”
“Panggil saja saya pak Bambang.
Jadi begini... saya sudah melihat cepen-cerpen kamu di beberapa media massa. Saya
tertarik dengan tulisan kamu. Apakah kamu berminat untuk membuat cerita yang
lebih panjang seperti novel misalnya?” Tanya lelaki itu hati-hati.
Dalam hati aku ingin berteriak. Tentu
saja aku berminat! “Ya, saya sudah dalam proses menyelesaikannya.”
Suara pria di sebrang tampak
bersemangat. “Wow! Bagus itu! Kapan-kapan mainlah ke rumah baca saya, saya
ingin melihat naskah anda.”
“Baiklah, dimana alamat rumah baca
anda?”
***
Aku
merasa bahwa akulah manusia yang paling beruntung! Bayangkan saja mimpi yang
selama ini semu, perlahan-lahan mulai menemukan titik terangnya dan pak Bambang adalah
malaikatnya. Membayangkan novelku akan terbit saja membuatku bahagia. Kata-kata
pak Bambang selalu berputar dalam benakku.
Tulisan kamu ini bernyawa! Sudah saya sangka kamu memang hebat!
Ini cerita yang berbeda. Belum ada cerita dengan tema perang dingin sesama
saudara sendiri seperti ini. Konfliknya sulit ditebak. Apakah ini benar-benar cerita nyata?
Jika
boleh dijawab, aku akan menjawab iya. Tapi, bibirku kelu. Tiba-tiba wajah orang-orang yang menghina keluargaku itu muncul dalam pikiranku
dan itu menyakitkan. Konflik yang sulit ditebak... memang benar. Sampai sat ini
aku tidak tahu mengapa nenek membenci ibuku. Entah apa kesalahan ibu sampai ia
harus mendapat perlakuan yang tak adil dari keluarganya sendiri. Ibu orang yang
pengalah dan selalu berpikir positif. Ia tak pernah dendam. Ia selalu tersenyum
walau kutahu hatinya sakit. Ibu selalu bercerita tentang kepedihannya padaku.
Dan kadang tanpa dia sadari, aku menangis setiap malam dan berdoa semoga
penderitaan ibu cepat hilang dan memohon agar ibu tetap bersemangat menjalani
hari-harinya tanpa keluarga yang mendukungnya. Gunjingan dan ejekan pun tak pernah reda dari
mereka sampai aku dewasa. Aku tak tahan melihat ibu selalu menangis. Aku pun
menjadi marah. Timbul pikiran kotor bahwa aku lebih baik tak memiliki keluarga.
Buat apa memiliki keluarga yang saling memegang pisau? Maka aku berjanji pada
diri sendiri bahwa suatu hari nanti aku akan meraih bintang. Aku akan membuat
ibu bangga dengan tulisan-tulisanku yang beredar di toko buku. Aku tidak hanya ingin bisa membiayai uang sekolahku sendiri saja dari hasil royalti terbitnya cerpen-cerpenku seperti saat ini, tetapi aku juga ingin bisa membuat ibuku tidak perlu bekerja
banting tulang lagi menerima cucian orang-orang hanya untuk menghidupi aku dan
adikku, Lia.
Kesimpulan
yang bisa ku ambil dari kebencian nenek dan semua saudara pada ibuku adalah... karena keluarga
kami miskin. Semenjak ayah meninggal, hanya ibu sendirilah yang berusaha keras
melanjutkan hidup. Biasanya nenek mendapat uang dari ayah setiap bulannya, dan
sekarang tidak. Ayah meninggal karena kecelakaan. Semenjak itu, nenek dan semua
keluarga lainnya menghindar. Mereka malu memliki keluarga yang kesusahan
seperti kami, ya itulah argumennya menurutku.
Aku
hanya bisa berharap, suatu hari nanti aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa
aku akan menggantikan ayah sebagai tulang punggung keluarga. Akan aku buktikan
pada mereka bahwa suatu hari nanti aku bisa kuliah dan jadi orang sukses. Dan dari bakat
menulis inilah satu-satunya modal harapan untuk mencapai segala mimpi itu.
***
Hari ini Edo dan aku pergi ke toko
buku. Kami sama-sama ingin mencari buku untuk pelatihan detik-detik ujian
akhir. Ketika sampai di pintu gerbang tokonya kulihat spanduk bergambar novel
yang sedang bestseller dengan judul “Dendam si Sulung”. Aku tersenyum melihatnya. Dalam
hati aku berpikir sebentar lagi aku juga akan mengalami hal seperti itu.
“Do,
nanti setelah kita mencari buku untuk UAN, kita ke rak novel ya.” Ajakku pada
Edo yang sedang memarkirkan sepeda motornya.
Edo
memutar kedua bola matanya. “Always”
Aku
tertawa melihat ekspresi konyol sahabatku itu.
Setelah berkutat di rak buku pelajaran.
Akhirnya aku dan Edo membeli dua buku yang berbeda. Alasannya agar kami dapat bergantian mengerjakannya. Seperti biasa aku tidak sabar melangkah ke atas, di bagian rak novel yang tersedia. Hatiku selalu seriang ini sampai-sampai Edo tertinggal dibelakang. Satu-satu
ku telusuri rak yang berisi beratus-ratus novel tersebut. Hingga sampailah aku
di bagian rak bestseller. Ku lihat
buku yang terpampang di spanduk tadi. Aku penasaran, lalu ku baca sinopsisnya. Dan
seketika itu bumi terasa runtuh dan hawa di sekitarku memanas.
***
Berulang kali aku menghubungi pak
Bambang tapi ponselnya tidak aktif. Rasanya ingin ku banting saja ponselku ini,
tapi mengingat ini adalah salah satu pemberian dari ayah, kuurungkan niat itu. Ku pandangi buku yang akhirnya ku beli itu dengan putus asa.
Mengapa bisa seperti ini? Apa maksud dari semua ini? Sekarang aku tahu mengapa
aku merasa tidak asing lagi ketika melihat spanduk bergambarkan novel yang bestseller itu. Ternyata judulnya saja yang di ganti... isi dan sinopsisnya
sama persis! Bukan sama, melainkan itu benar-benar karyaku walaupun nama pengarangnya
saja tertulis dengan nama pak Bambang. Otakku mulai bertanya-tanya. Mengapa pak
Bambang tega melakukan ini? Bukankah ini perbuatan yang keji? Sama saja dengan
mencuri! Apa karena aku hanyalah penulis muda yang gampang ditipu? Apa tidak
pantas namaku tertanda di buku itu sebagai pengarangnya? Tiba-tiba dering
ponsel mengagetkanku. Nama pak Bambang tercantum dilayarnya. Dan seketika itu
sekelebatan pertanyaanku tadi terjawab sudah.
“Aku tahu kau pasti
menganggapku jahat. Kau tahu? Aku ini juga seorang penulis. Tulisanku kacau
setelah kematian istriku. Aku kehilangan arah. Aku kehilangan inspirasi. Aku malu!
Publik haus akan ceritaku! Mereka terus-menerus meminta aku untuk menerbitkan
novel lagi. Sedangkan aku sudah tidak bisa lagi! Aku buntu! Oleh karena itu,
ketika kau datang dan melihat kondisimu, aku mengerti bahwa yang kau butuhkan saat
ini hanyalah uang untuk melanjutkan kuliah dan hidupmu. Sedangkan aku hanya
membutuhkan kepopularitasan. Untuk itu aku akan memberikan semua hasil kerja
kerasmu itu. Kau tidak usah khawatir, kau bisa melanjutkan hidupmu lagi dan
suatu hari nanti kau pasti bisa melahirkan novel baru yang lebih istimewa dari
yang ini dengan namamu sendiri. Aku yakin itu, karena kau penulis yang hebat. Kau menulis untuk dirimu sendiri tidak bergantung sepertiku. Maafkan
aku... dan terima kasih.”
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar