Jumat, 21 Desember 2012

Mengejar Bayangan

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, orang yang sukses adalah orang yang berani bermimpi besar!”

Potongan kata-kata itulah yang menjadi peganganku. Yang menjadi tonggak untuk aku bertahan dan terus mengejar. Terus mengejar sebuah mimpi yang masih berbayang semu. Sebuah mimpi yang hanya seperti ilusi saja.
Tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah sampai tulisan ini selesai dan diterima penerbitnya. Ya, impianku adalah menjadi seorang penulis. Aku tahu banyak yang memandang penulis itu dengan sebelah mata, tetapi aku bangga dengan seorang penulis yang bisa melahirkan karya dengan mengajak pembaca berimajinasi lewat pikiran-pikirannya tanpa syarat. Bebas. Aku juga ingin seperti mereka yang hanya lewat tulisannya saja mereka bercerita. Hanya tulisannyalah yang berbicara dan mewakilkan segalanya tanpa harus didengar. Cukup memahami saja.
“Hei, Bian!”
Spontan aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Edo, teman sebangkuku yang menyapa. Aku membetulkan letak kacamataku. “Hei! Dari mana saja kau?”
“Aku tadi dari kantin, nyariin kamu eh ternyata bener di perpus.”
Aku tertawa. “Ya, inilah rumah keduaku.”
“Kamu nyari apaan sih? Emang ada tugas?” Tanyanya heran.
“Enggak kok, aku hanya membaca saja siapa tau ketemu inspirasi buat nyelesain novel pertamaku.”
Raut wajah Edo berubah kaget, “Kamu seriusan mau buat novel?”
“Sebenarnya.... sudah selesai dan aku tinggal kirim ke penerbit saja.” Jawabku malu-malu.
Edo langsung memukul bahuku. “Hey! Jangan begitu dong! Aku yakin novelmu akan terbit, karena kau penulis hebat!”
Aku tersenyum. “Ah, kamu mengejek saja!”
“Hey man! Aku serius. Jika kau bukan penulis muda yang hebat. Jadi apalah arti semua cerpenmu yang sudah terbit di beberapa media massa?”
***
Sore itu seperti biasa, aku membawa notebook untuk mengedit naskah yang ke sekian kalinya. Dengan pemandangan bentangan air laut yang ada di hadapan, aku merasa tenang. Suasana dpinggir pantai inilah yang membuatku mudah menyelesaikan naskah. Aku bersyukur tinggal ditempat yang jaraknya tidak jauh dari laut. Karena aku suka laut, aku suka menghabiskan waktu duduk sendiri disini setiap lenggangnya. Tiba-tiba dering ponselku berbunyi.
“Hallo?”
“Bisa bicara dengan Bian Anugrah?” tanya suara lelaki disebrang sana.
“Ya, saya sendiri. Maaf dengan siapa saya berbicara?”
“Panggil saja saya pak Bambang. Jadi begini... saya sudah melihat cepen-cerpen kamu di beberapa media massa. Saya tertarik dengan tulisan kamu. Apakah kamu berminat untuk membuat cerita yang lebih panjang seperti novel misalnya?” Tanya lelaki itu hati-hati.
Dalam hati aku ingin berteriak. Tentu saja aku berminat! “Ya, saya sudah dalam proses menyelesaikannya.”
Suara pria di sebrang tampak bersemangat. “Wow! Bagus itu! Kapan-kapan mainlah ke rumah baca saya, saya ingin melihat naskah anda.”
“Baiklah, dimana alamat rumah baca anda?”

***
Aku merasa bahwa akulah manusia yang paling beruntung! Bayangkan saja mimpi yang selama ini semu, perlahan-lahan mulai menemukan titik terangnya dan pak Bambang adalah malaikatnya. Membayangkan novelku akan terbit saja membuatku bahagia. Kata-kata pak Bambang selalu berputar dalam benakku.
Tulisan kamu ini  bernyawa! Sudah saya sangka kamu memang hebat! Ini cerita yang berbeda. Belum ada cerita dengan tema perang dingin sesama saudara sendiri seperti ini. Konfliknya sulit ditebak. Apakah ini benar-benar cerita nyata?
Jika boleh dijawab, aku akan menjawab iya. Tapi, bibirku kelu.  Tiba-tiba wajah orang-orang yang menghina keluargaku itu muncul dalam pikiranku dan itu menyakitkan. Konflik yang sulit ditebak... memang benar. Sampai sat ini aku tidak tahu mengapa nenek membenci ibuku. Entah apa kesalahan ibu sampai ia harus mendapat perlakuan yang tak adil dari keluarganya sendiri. Ibu orang yang pengalah dan selalu berpikir positif. Ia tak pernah dendam. Ia selalu tersenyum walau kutahu hatinya sakit. Ibu selalu bercerita tentang kepedihannya padaku. Dan kadang tanpa dia sadari, aku menangis setiap malam dan berdoa semoga penderitaan ibu cepat hilang dan memohon agar ibu tetap bersemangat menjalani hari-harinya tanpa keluarga yang mendukungnya.  Gunjingan dan ejekan pun tak pernah reda dari mereka sampai aku dewasa. Aku tak tahan melihat ibu selalu menangis. Aku pun menjadi marah. Timbul pikiran kotor bahwa aku lebih baik tak memiliki keluarga. Buat apa memiliki keluarga yang saling memegang pisau? Maka aku berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti aku akan meraih bintang. Aku akan membuat ibu bangga dengan tulisan-tulisanku yang beredar di toko buku. Aku tidak hanya ingin bisa membiayai uang sekolahku sendiri saja dari hasil royalti terbitnya cerpen-cerpenku seperti saat ini, tetapi aku juga ingin bisa membuat ibuku tidak perlu bekerja banting tulang lagi menerima cucian orang-orang hanya untuk menghidupi aku dan adikku, Lia.
Kesimpulan yang bisa ku ambil dari kebencian nenek dan semua saudara pada ibuku adalah... karena keluarga kami miskin. Semenjak ayah meninggal, hanya ibu sendirilah yang berusaha keras melanjutkan hidup. Biasanya nenek mendapat uang dari ayah setiap bulannya, dan sekarang tidak. Ayah meninggal karena kecelakaan. Semenjak itu, nenek dan semua keluarga lainnya menghindar. Mereka malu memliki keluarga yang kesusahan seperti kami, ya itulah argumennya menurutku.
Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa aku akan menggantikan ayah sebagai tulang punggung keluarga. Akan aku buktikan pada mereka bahwa suatu hari nanti aku bisa kuliah dan jadi orang sukses. Dan dari bakat menulis inilah satu-satunya modal harapan untuk mencapai segala mimpi itu.
***
            Hari ini Edo dan aku pergi ke toko buku. Kami sama-sama ingin mencari buku untuk pelatihan detik-detik ujian akhir. Ketika sampai di pintu gerbang tokonya kulihat spanduk bergambar novel yang sedang bestseller dengan judul “Dendam si Sulung”. Aku tersenyum melihatnya. Dalam hati aku berpikir sebentar lagi aku juga akan mengalami hal seperti itu.
“Do, nanti setelah kita mencari buku untuk UAN, kita ke rak novel ya.” Ajakku pada Edo yang sedang memarkirkan sepeda motornya.
Edo memutar kedua bola matanya.  “Always”
Aku tertawa melihat ekspresi konyol sahabatku itu.
            Setelah berkutat di rak buku pelajaran. Akhirnya aku dan Edo membeli dua buku yang berbeda. Alasannya agar kami dapat bergantian mengerjakannya. Seperti biasa aku tidak sabar melangkah ke atas, di bagian rak novel yang tersedia. Hatiku selalu seriang ini sampai-sampai Edo tertinggal dibelakang. Satu-satu ku telusuri rak yang berisi beratus-ratus novel tersebut. Hingga sampailah aku di bagian rak bestseller. Ku lihat buku yang terpampang di spanduk tadi. Aku penasaran, lalu ku baca sinopsisnya. Dan seketika itu bumi terasa runtuh dan hawa di sekitarku memanas.
***
            Berulang kali aku menghubungi pak Bambang tapi ponselnya tidak aktif. Rasanya ingin ku banting saja ponselku ini, tapi mengingat ini adalah salah satu pemberian dari ayah, kuurungkan niat itu. Ku pandangi buku yang akhirnya ku beli itu dengan putus asa. Mengapa bisa seperti ini? Apa maksud dari semua ini? Sekarang aku tahu mengapa aku merasa tidak asing lagi ketika melihat spanduk bergambarkan novel  yang bestseller itu. Ternyata judulnya saja yang di ganti... isi dan sinopsisnya sama persis! Bukan sama, melainkan itu benar-benar karyaku walaupun nama pengarangnya saja tertulis dengan nama pak Bambang. Otakku mulai bertanya-tanya. Mengapa pak Bambang tega melakukan ini? Bukankah ini perbuatan yang keji? Sama saja dengan mencuri! Apa karena aku hanyalah penulis muda yang gampang ditipu? Apa tidak pantas namaku tertanda di buku itu sebagai pengarangnya? Tiba-tiba dering ponsel mengagetkanku. Nama pak Bambang tercantum dilayarnya. Dan seketika itu sekelebatan pertanyaanku tadi terjawab sudah.

“Aku tahu kau pasti menganggapku jahat. Kau tahu? Aku ini juga seorang penulis. Tulisanku kacau setelah kematian istriku. Aku kehilangan arah. Aku kehilangan inspirasi. Aku malu! Publik haus akan ceritaku! Mereka terus-menerus meminta aku untuk menerbitkan novel lagi. Sedangkan aku sudah tidak bisa lagi! Aku buntu! Oleh karena itu, ketika kau datang dan melihat kondisimu, aku mengerti bahwa yang kau butuhkan saat ini hanyalah uang untuk melanjutkan kuliah dan hidupmu. Sedangkan aku hanya membutuhkan kepopularitasan. Untuk itu aku akan memberikan semua hasil kerja kerasmu itu. Kau tidak usah khawatir, kau bisa melanjutkan hidupmu lagi dan suatu hari nanti kau pasti bisa melahirkan novel baru yang lebih istimewa dari yang ini dengan namamu sendiri. Aku yakin itu, karena kau penulis yang hebat. Kau menulis untuk dirimu sendiri tidak bergantung sepertiku. Maafkan aku... dan terima kasih.”
-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar