Senin, 28 Juni 2010

RAHASIA

“Vi!!! Ntar sore lo ikut kan ke pameran buku? Gue denger Amelia Ramon hadir disana juga! Oh, my god! Gue mau minta tanda tangannya di buku novel karangan dia ini” kata seorang cewek berambut pendek setengah berteriak sambil menunjukkan buku novel kesayangannya kepada Via sahabatnya itu.
“Duh, gimana ya Ris? gue gak bisa, gue udah janji sama nyokab mau nemenin beliau belanja bulanan nihh, maaf ya” balas Via, cewek berambut segi panjang itu kepada Risna memelas.
Wajah Risna yang tadinya ceria berubah menjadi kecewa. “Iya udah deh, no problem! Tapi kalo sempet nyusul ya! gue ntar pergi bereng Mona aja”
“Okee dehh!” balas Via sambil merangkul pundak sahabatnya itu sambil menariknya menuju kantin.

***

“AMEL!! MINTA TANDA TANGANNYA DONGG!!! AMEL!!!” teriak Risna dalam desak-desakan orang lainnya. Tampak tiga orang pengawal cewek pengarang novel yang lagi tenar dikalangan remaja itu kewalahan menghadapi kerumunan penggemar. Ditambah lagi beberapa wartawan yang sibuk memberi beribu-ribu pertanyaan kepada Amelia Ramon, seorang cewek yang rambut panjang lurusnya diikat satu, memakai kaca mata minus dan memiliki tahi lalat di atas hidungnya. Dia seorang remaja cewek yang berhasil menyihir semua orang peminat baca menyukai novel pertamanya yang berjudul “Who will I be?” berisi menceritakan seorang gadis yang mencari jati dirinya, didalam novel tersebut banyak sekali pesan baik yang disampaikan dan dan dapat memberi motivasi kepada seluruh pembaca yang membacanya.
Dengan tidak sabar, Risna yang sedari tadi belum mendapatkan keinginannya lansung menerobos maju kedepan. Tak perduli semua tanggapan orang yang marah dengan sikapnya. Dan akhirnya dia bertemu dengan sang idola nya itu.
“Hai, gue Risna! Gue dari sekolah SMA Bakti Nusa kelas 2, gue minta tanda tangan lo dong! Nih” kata Risna sambil meyodorkan pena dan buku novel karangan Amelia Ramon itu kepadanya.
Amel tersenyum sambil memenuhi permintaan Risna. Ada rasa cemas yang menyelimuti dirinya ketika Risna memperhatikan dirinya. Setelah selesai menandatangani, Amel memberinya kembali kepada Risna. “Terima kasih, eh kalo dilihat-lihat lo mirip deh dengan sahabat gue namanya Via, tapi dia gak pake kacamata dan gak punya tahi lalat dihidung seperti lo,hehehe” goda Risna.
“hehehe, kamu bisa aja. Aku jadi penasaran ama sahabat kamu itu” kata Amel polos.
“Duh, maaf. Dia gak bisa datang, tadi udah aku ajak. Katanya dia ada urusan”
“It’s okay! May be next time” balas Amel lembut.
Sebenarnya Risna ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan Amel, sang idolanya. Namun apa daya, orang-orang yang juga mengantri ingin meminta tanda tangannya mulai panas. Dengan paksa, Amel melemparkan tubuhnya dari hadapan Amel. Tapi, hari ini adalah hari yang paling indah baginya, selain mendapat tanda tangan dia bisa langsung berbicara dengan Amelia Ramon.

***

“Sumpah deh Vi!!! Gue seneng banget, akhirnya perjuangan gue gak sia-sia!” kata Risna heboh sambil memeluk erat dengan mesra novel yang sudah ditanda tangani pengarangnya itu. Saat itu mereka sedang duduk dikantin makan bakso.
Via hanya menggeleng-geleng pelan melihat tingkah sahabatnya itu sambil tersenyum geli. Perjuangan? Emang habis perang?
“Oh iya Vi! Gue kemaren lumayan banyak bicara loh ama Amel! Keren kan?!” kata Risna lagi dengan gaya sombong.
“Iyaa??? Emang kalian ngomongin apa?” Tanya Via penasaran.
“Ngomongin lo! Soalnya dia mirip banget ama lo, dari poster tubuhnya yang tinggi dan putih, rambutnya panjang, tapi sayangnya dia pake kaca mata dan punya tahi lalat di atas hidungnya. Lo kan enggak! Hehehe” jawab Risna meyakinkan.
“Hah? Masak sih? Lo ada-ada ajah! Tapi gak apalah, gue jadi merasa bangga punya wajah mirip dengan pengarang novel terkenal, hahaha” goda Via.
“Dasar lu!” balas Risna sambil menjitak pelan kepala Via.
Tiba-tiba datang para cewek sok berkuasa disekolah menghampiri Risna dan Via. Mereka adalah Fany cs. Bisa dibilang mereka adalah genk terpopuler disekolah karena gayanya yang trendy dan modis itu.
“Eh, denger-denger, lo dapet tanda tangannya Amelia Ramon ya? kata Fany dengan nada sok kepada Risna.
“Iya, terus kenapa, nona?” balas Risna tak kalah soknya sambil berdiri didepan Fany.
“Ih, Fan! Anak ini ngelawan pula! Berani sekali dia! Belum tau dia siapa lo!” kini Sesil yang memanas-manasi Fany.
“Emang gue gak tau! Emang lo siapa sih?” balas Risna.
“Gue anak yang punya sekolah ini! Gue berkuasa disini! Jadi gue bisa ngelakuin apapun yang gue mau, dan lo jangan macem-macem!” jelas Fany garang, lalu mata nya beralih ke sebuah novel yang sedang dipegang Risna. Tanpa ba bi bu, Fany langsung merampasnya dari tangan Risna.
“Lo liat ini!” dengan gerakan cepat Fany merobek kasar hingga menjadi kecil-kecil bagian halaman yang telah ditanda tangani oleh sang pengarang dan menjatuhkan buku novel tersebut dalam mangkok bakso milik Via.
“Lo tuh apa-apaan sih!” kali ini Via yang angkat bicara. Sedangkan Risna hanya dapat mematung melihat hal yang telah terjadi. Tanpa sadar air mata Risna pun meluncur ke pipinya.
“Kan udah gue bilang jangan macem-macem ama gue! Gak usah sok ngelunjak! Hahaha…mampus lo!” lalu Fany dengan segala tawanya pun pergi diikuti dengan teman-temannya.
“Ris?” panggil Via lembut sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
Risna hanya diam, mematung. Darah beningnya masih bercucuran. Lalu dia pergi meninggalkan Via sendiri. Semenjak kejadian itu Via jadi pemurung. Dia tak ceria seperti dulu. Via yang melihat keadaannya ikut sedih dan bingung mencari solusinya. Tiba-tiba, Via mendapat ide.

***

“Kuis gini mah gampang! Gue yakin gue bisa jadi pemenangnya! Emang si Risna aja yang bisa dapetin! Gue juga bisa! Kalian liat aja ntar! Yuk cabut!” kata Fany kepada kedua temannya setelah melihat info di mading.
Pagi itu disekolah para siswa ramai melihat mading yang baru ditempel. Kabar tentang kuis yang di buat Amelia Ramon menjadi buah bibir disekolah, bahkan mungkin diseluruh sekolah dan Indonesia. Karena siapa yang berhasil menjawab pertanyaan yang dibuat sang pengarang tersebut akan memenangkan hadiah beruba novel karangan Amelia Ramon plus tanda tangan dan fotonya, juga bisa bertemu dan ngobrol bareng, Pertanyaannya sih emang gampang! “Apa judul novel pertama karangan Amelia Ramon?” jawabannya dikirim melalui via SMS dan kirim ke nomor yang tertera di iklan mading tersebut. Dan pemenang akan diumumkan lewat majalah edisi minggu.
“Ris! lo ikutan juga dong! Ini kesempatan lo!” kata Via semangat ’45 saat berhasil menerobos ke depan papan mading bersama Risna. “Gak deh, lo gak denger tadi si Fany ngomong apa? Gue pasti kalah, dia pasti ngelakuin apapun demi mewujudkan keinginannya, apalagi bokapnya tajir” raut muka Risna pun kembali lemah.
“Yeee! Lo kok jadi putus asa gini sih? Mana Risna yang selalu gue liat ceria? Kita coba ja dulu! Masa cuma karena Fany belagu itu lo ciut sih!” kata Via meyakinkan.
“Iya sih! Bener kata elo! Masa ama dia gue jadi penakut gini! Bloon deh gue! Hahaha, oke gue coba! Kalah menang urusan belakang yang penting gue udah usaha dan gak jadi pengecut!” kali ini Risna yang bersemangat. Cepet banget pulihnya ya? ckckck tapi bagus deh! Berarti Via berhasil mengembalikan semangat diri nya.
“Gitu dong! Itu baru namanya sahabat gue!” kata Via sambil memeluk Risna girang.
“Hehhehe…iya tapi kantin yuk! Gue laper nihh! Belon sarapan!” kata Risna cengengesan sambil mengelus perutnya.
”Dasar lu! Hehe ayok!” balas Via.

***

“YA AMPUNNN!!! GUE GAK LAGI MIMPI KAN??!! INI BENERAN NAMA GUE?! MATA GUE GAK LAGI EROR KAN??” saat itu Risna sedang membaca majalah edisi minggu ini yang berhasil diperolehnya tentang pengumuman pemenang kuis Amelia Ramon bersama Mona, adiknya di dalam kamar. Awalnya sih, Risna mengajak Via menemaninya membeli majalah, tetapi tiba-tiba Via gak bisa, dia lagi repot katanya ada tamu datang. Heran juga Risna, pasti setiap kali dia ngajakin Via buat urusan yang berhubungan dengan Amelia Ramon selalu gak bisa. Tapi bukan itu yang menjadi kendalanya. Yang membuat Risna heran, pemenang kuisnya itu adalah DIA! Gak sia-sia perjuangannya menghabiskan banyak pulsa untuk mengirim jawaban kuis itu berulang-ulang. Karena terlalu senang dan sedikit ragu juga, Risna menyuruh semua orang yang ada dihadapannya untuk membaca nama pemenang yang tertera didalam majalah itu. Dan hasilnya tetap tidak berubah, nama tersebut tetap nama miliknya.
Buru-buru dia menekan tombol nomor ponsel Via. Namun, gak aktif. Berulang-ulang Risna mencoba menghubunginya kembali, tetap saja tidak aktif. Risna bingung, tapi dia gak mau ambil pusing karena saat ini dia sudah tenggelam dalam rasa senangnya.

***

Karena tidak sabar, Risna memdatangi rumah Via, karena nomor ponsel Via tak aktif juga sampai hari ini. Padahal 1 jam lagi Risna mau pergi wawancara dengan Amelia Ramon disalah satu studio televisi swasta, dan rencananya Risna ingin Via ikut, karena dia ingin mengenalkan sahabatnya itu dengan sang idolanya. Namun, kedatangan Risna sia-sia. Rumah Via kosong tak berpenghuni. Setelah hampir setengah jam menunggu, Risna pun meninggalkan rumah tersebut dengan rasa kecewa. Risna juga tak mau terlambat untuk bertemu dengan sang idolanya itu.

***

Wawancara pun usai. Risna senag sekali bertemu dengan sang idolanya itu. Dia pun telah mendapatkan novel karangan Amelia Ramon dan foto plus tanda tangannya. Amelia Ramon pun bersikap ramah dan sopan kepada Risna selayaknya bersama temannya sendiri. Tapi satu hal yang masih terpikir oleh Risna yaitu Via. Kenapa disaat yang berhaga seperti ini, sahabatnya sendiri tiba-tiba menghilang? Tak ada kabar sama sekali. Bahkan sampai saat ini nomor Via tidak aktif juga.
Pertemuan akhirnya berakhir. Amelia Ramon bersama manager-nya berpamitan dengan Risna. Mereka pun saling berjabat tangan. Risna juga tak lupa mengucapkan terima kasih. Dan ketika Amel sudah pergi. Risna melihat ponsel Amel ketinggalan di kursih tempat Amel duduki tadi. Risna yang melihat ponsel Amel buru-buru mengambilnya dan berlari mengejar Amel sebelum jauh. Tapi semua terlambat. Mobil Amel sudah melaju kencang. Risna memperhatikan ponsel milik Amel yang saat ini digenggamnya, seperti dia sudah tidak asing lagi melihat benda tersebut karena mirip dengan ponsel milik…? Tapi cepat-cepat dia buang pikiran yang konyol itu. Dan tiba-tiba ide terlintas dibenaknya. “Ya ampun! Di handphone –nya si Amel ini kan pasti ada nomor om Reza, manager-nya! Ngapain gue pusing-pusing nyari cara ngembaliinnya! Kok gue jadi bloon gini sih?! Huh!” maki Risna kesal dalam hati sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Dan ternyata ponsel Amel mati. Lalu dengan cepat Risna menghidupkanya sambil berdoa dalam hati semoga ponsel tersebut tidak habis baterai. Dugaan Risna salah. Baterai nya bahkan full. Dan yang membuat Risna kaget setengah mati. Wallpaper depan ponsel Amel adalah foto VIA! Dan benar feeling Risna dari tadi, bahwa ponsel itu memang milik Via! Bukan mirip lagi! Bahkan ada foto-foto Via dan Risna, foto keluarganya dan foto cewek yang selalu mengikat satu rambutnya, memakai kacamata, dan memiliki tahi lalat di hiding bersama om Reza. Cewek itu tak lain adalah Amelia Ramon. Pesan yang sedari tadi Risna kirim untuk Via karena dia gak ada kabar juga baru masuk semua. Air mata Risna pun meluncur ke pipi mungilnya itu. Dia tak percaya dengan semua kenyataan ini. Dia kecewa. Mengapa sahabatnya itu tega menyembunyikan identitasnya sendiri dari dia. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Risna meninggalkan tempat itu dan memutuskan untuk pulang dan mematikan kembali ponsel milik Via.

***

“Cieeee…Risna! Selamat ya! gue salut banget ama lo! Akhirnya lo juga yang memenangkan kuis itu! Eh, gimana caranya? Gue juga mau dong!”
“Risna ceritain dong gimana perasaan lo ketemu dengan sang penulis terkenal? Dia orangnya gimana? Lo beruntung banget!”
Pertanyaan-pertanyaan itu langsung menyerbu Risna ketika dia masuk ke kelas. Semua teman-teman sekolahnya tak henti-hentinya mengucapkan selamat dan mengerubuni dia yang sedang duduk di kursinya. Tapi Risna hanya tersenyum kecut dan raut mukanya bahkan menunjukkan tidak ada ekspresi gembira dan bangga. Tiba-tiba Fany cs menghampirinya dengan wajah lesu dan penuh penyesalan.
“Ris, maafin gue ya? gue tau, gue udah keterlaluan ama lo…lo emang pantes jadi pemenang kuis Amelia Ramon itu. Sekali lagi gue minta maaf ya? gue ngaku salah” pinta Fany dengan suara parau dan memelas.
Risna tersenyum melihat tingkah Fany, dalam hati dia bersyukur juga. Ternyata Fany bisa juga ngomong minta maaf. Risna lalu berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Fany.
“Gue udah maafin lo kok dari kemaren-kemaren” balas Risna lembut.
“Makasih ya Ris, lo emang baik. Kita bisa jadi teman kan?” Tanya Fany penuh harap. Risna lalu melepas pelukannya dan tersenyum,“Tentu!”. Mereka pun berpelukan lagi,
“Makasih benget ya Ris!”
“Iya, sama-sama”
Pandangan Risna lalu menuju seseorang cewek yang berdiri didepan pintu kelas sambil tersenyum haru. Tampak bahwa cewek itu baru datang, karena dia masih memakai tas selempang di bahunya. Risna cepat-cepat menghampirinya dan menarikknya pergi menuju aula sekolah yang sepi.
“Lo kemana aja dari kamaren? Gue nyariin lo tau! Mana ponsel lo gak aktif lagi!” Tanya Risna tanpa basa-basi kepada Via setelah mereka sampai diaula sekolah. Saat itu sepi sekali. Tak ada satu pun siswa yang lewat.
“Maaf,Ris…gue pergi jalan-jalan sama semua keluarga gue, kan gue udah pernah bilang ke elo kan kalo sodara gue datang? Ponsel gue aja ilang! Gue juga udah tau kok! gue kan beli majalah juga. Selamat ya lo menang! Gimana? Udah ketemu kan sama idola lo?” balas Via polos sambil memeluk girang Risna.
“Sampai kapan sih Vi lo akting gini ama gue?” Tanya Risna dengan suara nangis tertahan.
“Maksud lo apa Ris?” Tanya Via bingung.
“Gue kemaren udah ketemu ama Amelia Ramon dan ketika pertemuan usai, dia lupa ini!” jelas Risna sambil menunjukkan sebuah ponsel ditangannya. Dan ini ponsel milik lo! Udah kebukti ama semua isi nya! Mau alasan apa lagi lo? Tolong Vi, jujur! Selama ini gue pikir kita teman.” Darah bening pun kembali mengalir dipipi Risna.
“Maafin gue…gue punya alasannya…gue…” tiba-tiba Air mata Via pun ikut mengalir.
“Udah la Vi! Gue kecewa ama lo! Selama ini gue selalu terbuka sama lo! Tapi ini balasan lo!” teriak Risna marah, lalu dia hendak meninggalkan Via. Namun cepat-cepat Via meraih tangan dan mencegahnya.
“Plis, Ris! dengerin dulu penjelasan gue…maafin gue Ris, gue ngelakuin ini karena gue takut kehilangan lo! Gue takut lo berubah kalo lo tau gue ini sebenarnya penulis terkenal itu. Gue takut kalo lo lebih menyukai Amelia Ramon dari pada Via! Gue cuma pengen orang-orang menganggap gue orang biasa dan gue juga jadi terhindar dari orang yang ingin merusak nama Amelia Ramon.” Jelas Via lembut sambil menagis.
Risna tertunduk diam.
“Ris, lo percaya gue kan? Gue mau certain ini semua ke elo kalo udah saatnya. Gue gak mungkin nyakitin perasaan lo. Kita udah temenan dari kecil. Plis maafin gue. Gue janji ini kesalahan terakhir gue ke elo…kasih gue kesempatan” pinta Via memelas.
“Lo juga percaya gue kan? Gue gak mungkin kayak gitu ke elo! Penilaian lo salah besar! Mau lo jadi gimana pun lo tetap sahabat gue! Gue akan jaga rahasia lo ini! Dan jangan panggil gue sahabat kalo gue gak maafin lo” senyum pun akhirnya mengembang dibibir Risna.
“Makasih Ris, makasih! Lo emang best friend gue!”. Keduanya pun saling berpelukan dalam tangis.

Ini nyata, ini aku
Aku berada ditempat seharusnya kini
Biarkan terang menyinari diri ku
Kini kau temukan siapa aku
Tak ada cara untuk mengekangnya
Tak ada lagi yang menyembunyikan aku ini apa
Ini aku
(Demi Lovato-This is real)

Bel tanda masuk kelas pun berdering. Via dan Risna pun lalu melangkah bersama-sama menuju kelas dan saling bergandengan tangan. Mulai saat ini tak ada lagi rahasia diantara mereka. Dan identitas Via sebagai penulis terkenal pun akan tetap terjaga kecuali keluarganya dan Risna yang tahu.

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar