Setelah melewati masa-masa kritis, saya ternyata belum bisa bernafas. Para mahasiswa yang dibebankan panggilan untuk segera wisuda pastinya sudah dapat membayangkan masa-masa kritis seperti apa yang dihadapi, kan? Apalagi yang merasakannya adalah anak perantauan. Jadi ceritanya, saya sudah kelar kuliahnya. Mungkin orang-orang melihatnya "big wow" karena saya yang masih umur 20 sudah menyandang gelar sarjana, ditambah lagi saya adalah salah satu dari 5 orang anak angkatan yang udah lulus duluan, dan terakhir dengan nilai skripsi tertinggi yaitu A. Semua yang melihat memang terlihat hebat, tapi mereka tau perjuangan yang berdarah-darah untuk mencapai itu semua. Target untuk selesai 3,5 tahun ini memang sudah saya canangkan sejak menginjak kaki di kota bertuah. Namun, tidak pernah terbayangkan saya pada akhirnya melakukan penelitian di Aceh. Tapi saya sungguh puas, doa-doa saya setiap solat malam telah didengar oleh yang Maha Pengabul Doa. Dan memang benar tidak ada usaha yang menghianati hasil, rejeki tidak pernah tertukar, dan tak lupa the power of "doa ibu".
Saya sangat bersyukur telah melewati badai dengan lancar. Badai-badai itu tak pernah terlepas dari tuntutan ekonomi keluarga yang mengharuskan saya selesai karena adik saya yang akan melanjutkan studi juga, badai dari dosen pembimbing yang harus berangkat keluar kota dalam waktu lama dan mengharuskan saya menyelesaikannya dalam 3 bulan, badai ketika dalam tidur pun masih dihantui dengan skripsi hingga kebawa mimpi dan badai-badai lain seperti kekhawatiran akan keluarnya jadwal sidang.
Efek samping dari masa kritis skripsi ini adalah saya memiliki lingkar hitam dimata, jadwal tidur benar-benar kacau. Saya baru bisa tidur jam 4/5 pagi yang membuat saya mengalami insomnia. Setelah sidang saya diharuskan untuk revisi dalam satu malam untuk mengejar pendaftaran yudisium yang sudah H-3. Semua yang saya lakukan benar-benar the most death-line! Tapi apa yang saya lakukan setelahnya? Sudah 3 minggu saya memperbaiki jadwal tidur tapi sulit, saya mencoba mencari aktivitas perbaikan seperti olahraga rutin (jogging), nonton drama korea sampai bosan hingga belajar bahasanya secara otodidak. Semua yang saya lakukan itu tak lupa sembari menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Setiap sabtu ibu membeli koran untuk mencari lowongan. Nah, ini dia yang menjadi masa selanjutnya tidak bisa membuat saya bernafas sebentar. Pertanyaan dari berbagai pihak baik tetangga maupun keluarga, "Kerja dimana sekarang?" dan pertanyaan ini menjadi sebuah tuntutan baru dari keluarga, "Harus dapat kerja sebelum bulan puasa."
You really having the real life, Ndin!
Boleh bunuh saya?!
T.T