Rabu, 04 Mei 2011

MENANAK NASIB

MENANAK NASIB
Ketika aku kecil melihat adikku yang sakit lalu di obati oleh dokter, kelak aku ingin menjadi dokter. Ketika aku kecil sedang naik pesawat untuk mudik bersama keluargaku, melihat betapa cantik dan ramahnya pramugari, kelak aku ingin menjadi pramugari. Dan ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, melihat besarnya jasa guruku yang sabar mengajari membaca, kelak aku pun ingin menjadi guru. Bahkan ketika aku kecil, melihat artis sinetron dan penyanyi yang terkenal di televisi, aku pun kelak ingin terjun ke dunia entertain. Maka, setiap orang dewasa atau orang tuaku bertanya, “Asuna, kalau sudah besar ingin jadi apa?” jawabanku pasti selalu berbeda dengan setiap orang yang bertanya. Kadang dengan bapak A aku menjawab ingin menjadi dokter, kadang dengan ibu B aku menjawab ingin menjadi guru, dan juga dengan Bibi C aku menjawab ingin menjadi penyanyi, begitulah seterusnya. Karena aku, si anak kecil yang tanpa dosa masih gampang terpengaruh dengan apa hal-hal yang ku lihat di sekitar.
Namun sekarang berbeda, aku yang kini sudah mulai beranjak dewasa malah bingung menentukan pilihan. Tiba-tiba saja aku enggan ingin menjadi guru, aku ternyata tumbuh besar dengan watak pendiam. Sedangkan menurutku, menjadi guru itu harus pandai menjelaskan, agar murid-murid menyukai pelajaran kita. Aku pun enggan ingin menjadi dokter, karena pekerjaan dokter yang besar tanggung jawabnya. Mempertaruhkan nyawa orang. Lagi pula aku pun pusing mencium bau darah. Jadi artis atau penyanyi? Wahhh… rasa percaya diriku pun lenyap ntah kemana. Jikalau jadi pramugari, syarat utamanya adalah mata tidak boleh rabun. Sedangkan aku sudah sejak lama memakai kacamata. Ntah kenapa aku mulai berputus asa. Berserah kepada nasib. Ku lihat teman-temanku, mereka semua memiliki cita-cita sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka semua pintar. Sedangkan aku, hanya berbekal otak pas-pasan.
Aku merasa mampu melakukan sesuatu, namun saat mencobanya. Sesuatu itu hilang bertelan malu. Dari kecil, aku hobi menyanyi dan menari. Kata orang-orang, suara aku bagus dan gerakan tari aku pun lincah. Sampai pernah aku ikut lomba nyanyi, dan juara 3. Tapi itu cerita masa kecil. Kini, hal itu tak terlihat lagi. mereka hanya berlomba-lomba mengadu otak bukan bakat! Aku pun merasa sedih dan merasa tak berguna. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tak ada satupun mata pelajaran yang bisa ku kuasai. Semuanya rata. Aku merasa kehilangan jati diri. Hampir setiap malam aku menangis. Menyesali mataku yang rabun tak berguna. Merasa Tuhan tidak adil.
Namun akhirnya, aku merasa sangan berdosa menyalahi apa yang sudah di berikan Tuhan. Lalu, aku bersujud kepada-Nya meminta arah tujuan. Setelah itu, aku katakana kepada ibu segala hal yang menganggu pikiranku.
“Bu, aku ingin mataku tidak rabun lagi… tolong bantu aku, Bu.” Pintaku pilu.
Ibu menatapku heran. “Kenapa tiba-tiba kau meminta hal seperti itu, Nak?” tanya ibu sambil mengusap lembut rambut panjangku.
“Aku merasa kehilangan arah, Bu. Aku takut masa depanku, cita-citaku tak bisa tercapai. Dimana-mana setiap orang memerlukan pekerja yang matanya sehat.” Tanpa sadar darah beningku meluncur dengan suksesnya tanpa aba-aba.
Ibu spontan menasehatiku dengan lembut, “Asuna… dengarkan ibu, Tuhan itu sudah merencanakan semua hal baik untuk umatnya sesuat dengan kemampuan mereka. Kau tak boleh putus asa seperti itu. Kau harus berusaha. Coba sekarang kau pikirkan hal apa yang kau sukai?”
Aku menghapus air mataku dan bangkit dari pangkuan ibu, lalu menatapnya. “Hal yang aku suka dalam hal apa, Bu? Dalam hal pelajaran?” tanyaku dengan alis mengkerut.
“Dalam hal apa saja.” Jawab ibu misterius.
Aku lalu diam sejenak dan berfikir.
Ibu tersenyum, lalu sambil hendak beranjak pergi. Beliau berkata lagi, “Hal yang membuat kau menjadi menyesal atau membecinya saat ini. Coba kau tunjukkan bahwa hal yang kau sesali itu bisa bermanfaat dan menemukan jalanmu.”
Aku hanya melongo mendengar perkataan ibu yang belum bisa ku tangkap itu.
Malamnya aku tak dapat tidur lagi. Namun kali ini bukan tak dapat tidur karena menangis. Melainkan karena terpikirkan perkataan ibu tadi. Selama ini hal yang aku sukai hanya membaca buku komik dan novel. Lalu hal yang membuat aku benci dan menyesal adalah… karena mataku yang rabun, dan tidak normal seperti orang lain.
“Coba kau tunjukkan bahwa hal yang kau sesali itu bisa bermanfaat dan menemukan jalanmu.”
Tiba-tiba sepenggal perkataan ibu yang tadi terlintas dalam benakku. Dan seulas senyum mengembang di bibirku. Ku raih buku diary-ku. Ku baca kembali. Lalu, ku nyalakan laptop dan mengetik dengan mengembangkan cerita yang ada di diary-ku. Aku pun merasa seperti hidup kembali.
Sejak malam itu, aku rajin menulis cerpen dan langsung mengetiknya di laptop. Namun, aku bingung harus kemana cerpen ini ku bawa. Agar aku tahu sampai mana batas kemampuanku dalam membuatnya.
Dan hari itu, ketika temanku membeli Koran Sijori Mandiri karena ada fotonya di muat sebagai model. Aku pun meminjamnya. Ternyata dalam Koran itu ada alamat email redaksinya jika ingin mengirim cerpen atau puisi dan pantun. Ini dia! Pikirku. Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi ke warnet dan mengirimkan salah satu cerpenku yang berjudul ‘’Sahabatku Usil”. Lalu aku berdoa, semoga dapat di terbitkan.
Seminggu kemudian, aku mendapat telepon dari redaktunya. Ternyata do’aku terkabul! Cerpen aku pun di muat. Lalu bapak redaktur itu meminta izin untuk mengubah judulnya menjadi ‘’Sohibku”. Tentu saja dengan senag hati aku mengizinkannya. Beliau juga memujiku sebagai penulis remaja yang berbakat. Aku senang sekali. Itulah cerpen pertamaku yang di terbitkan. Hal itu aku beritahu kepada kedua orang tuaku, wali kelas, dan guru pembimbing bahasa indonesiaku disekolah. Mereka semua tak lupa mengucapkan selamat kepadaku.
Mulai saat itulah, aku mulai ‘terlihat’ di depan semua orang. Aku merasa ada sesuatu yang lebih yang aku punya. Aku tahu sekarang jalan mana yang bisa aku tempuh. Aku kembali bersemangat kembali dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan. Aku pun mengerti maksud perkataan ibu kemarin. Memang benar apa yang ibu bilang. Aku bisa tunjukan, karena mataku yang rabun ini karena banyak membaca novel maka menulislah bakatku yang terpendam sebenarnya. Terima kasih ibu. Kaulah pemberi inspirasiku. Pengangkat semangatku. Mengajariku banyak hal. Membuatku ‘terlihat’. Sehingga bisa di banggakan.
Dan aku pun di ajak apabila ada acara lomba cerpen, walaupun belum menang. Aku juga di ajak ke acara seminar sastra. Hingga ke acara bengkel sastra penulisan cerpen kemarin, membawa cerpenku termasuk dalam cerpen remaja dari sekolah lainnya yang akan di bukukan dan di terbitkan. Betapa bahagianya aku bisa menghasilkan uang dari hasil usahaku sendiri. Apalagi cerpenku yang kedua berjudul “Dendam Anak Sulung” sudah di terbitkan lagi di Koran Haluan Kepri. Hampir semua guruku mengetahui hal itu. Sepertinya mereka bangga. Hingga berkata kepada murid lainnya agar mencontoh aku yang mencantumkan nama sekolah dalam biodata ketika cerpenku di muat. Penghargaan itu takkan aku lupakan.
Memang benar kata orang, nasib mu akan berubah jika kau mau berusaha sekuat tenaga. Hal yang baik pasti akan di bantu Tuhan. Seperti layaknya menanak nasi. Beras yang mentah akan lama-lama masak menjadi nasi dan di makan untuk kebutuhan. Nasib pun begitu. hal yang tidak kita tahu, nasib akan merubahnya menjadi tahu jika kita mau berusaha mencari tahu. Bakat yang kita miliki, namun orang tak melihat dan tak mengetahui itu. Nasib akan merubahnya agar mereka dapat mengetahui dan melihatnya, apabila kita mau berusaha mengembangkannya.

***




Cerpen :


Penulis :
ANDINA FASHA
Xi ipa


SMAN-14 BATAM