Sabtu, 10 Desember 2011

MAKHLUK TANPA JIWA

Aku membenci diriku sendiri karena terlampau lemah. Aku benci karena telah membiarkannya memelukku. Aku tidak punya sisa kekuatan ketika Mitaka menarikku ke dalam pelukannya. Aku bahkan membiarkan tangisku pecah di dadanya. Aku rindu sekali padanya. Aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya. Berada dalam pelukannya membuatku menyadari betapa aku merindukannya. Suasana taman yang hening ini sangat terasa mencengkam untukku. Hawa dingin tiba-tiba menjalari kulitku.

“Aku masih mencintaimu. Tolong kembali kepadaku, Yuki-chan.” Bisiknya lembut.
Aku melepas pelukannya dan menatap kedua matanya. Mencari keyakinan. “Tapi kau sudah meninggalkan ku! Kau tega mencintai sahabatku sendiri. Di belakangku!.” Kataku setengah menjerit sambil menangis.

Mitaka meraih kedua tanganku. “Yuki-chan, dengarkan aku! Aku tahu aku salah. Aku baru menyadari ternyata Keiko-chan tidak sungguh mencintaiku. Dia hanya mempermainkanku. Sekarang aku baru menyadari, hanya kaulah yang tulus mencintaiku. Aku tak bisa melupakan kasih sayangmu yang tulus itu.”

Dasar lelaki tidak tahu malu! Pikirku kesal. Terlalu sakit apa yang telah di lakukannya dulu terhadapku. Dia yang telah mencampakkanku sekarang ingin kembali lagi. namun Dia adalah cinta pertamaku. Aku harus bagaimana menghadapinya? Aku menarik nafas dan kembali menatap matanya.

“Jujur aku mencintaimu, aku kehilangan arah ketika kau lebih memilih sahabatku sendiri. Tapi maaf, aku tidak bisa kembali dengan orang yang telah meninggalkanku.” Kata jujur.
Lalu aku pergi meninggalkan Mitaka yang terduduk lesu sambil terus mengucapkan kata maaf.

***

Sejak pertemuanku yang terakhir dengan Mitaka, dia tidak pernah lagi menghubungiku. Dan aku pun tidak pernah menghubunginya lagi. rasa sakit hati masih membekas hingga sekarang. Segala cara kulakukan agar dapat melupakan kenangan indah bersamanya. Aku memulai hobi baruku dengan membaca novel dan menonton dvd. Aku menonton drama korea hampir setiap hari agar perhatianku terlepas dari bayangan wajahnya. Aku hampir berhasil, namun datang penyakit baru. Hal itu malah membuatku hidup dalam khayalan.

Aku seperti makhluk tanpa jiwa. Melakukan segala hal tanpa menyadarinya. Makan, tidur, berangkat kuliah. Semua kulakukan, namun sekali lagi tanpa sadar. Seperti robot itulah aku. Terkadang aku merasa hidup tak ada artinya lagi. Ingin rasanya pulang ke kampung halaman. Tapi tak mungkin kulakukan. Orang tuaku pasti langsung membunuhku kerena memutuskan beasiswa kuliah ini.

Aku bisa saja berpacaran dengan orang lain dan melupakan Mitaka. Tapi saat ini belum ada yang bisa membuka hatiku. Jujur, sejak Mitaka meniggalkanku aku terlalu menutup diri. Sepertinya, bahkan aku tidak bisa merasakan cinta lagi. Namun, aku tetap berharap. Semoga aku bisa bertemu dengan pangeran impianku. Seperti kisah cinta yang romantis, cerita cinta yang ada di drama korea.

Sebenarnya ada seorang pria yang mengejarku. Sepertinya dia menyukaiku. Pria itu tampan, badannya atletis dan memiliki kulit yang putih. Matanya coklat, Namun aku tidak menyukainya. Mungkin karena aku masih dalam keadaan patah hati. Tapi, pria itu juga memiliki sifat humoris yang membuatnya menjadi kekanak-kanakan. Dia selalu mengikutiku. Mencoba akrab denganku. Padahal aku selalu mengacuhkannya. Namun dia tidak pernah jera. Dia selalu mengirimku bunga di bangku kuliahku bahkan mengirim coklat dan puisi romantis ke dalam lokerku. Aku tidak suka cara dia mencintaiku.

“Hai, Yuki-chan! Nih aku bawain brownis buatan ku sendiri loh. Mau?” kata pria itu riang sambil menyodorkan tempat bekalnya kepadaku.

Aku yang sedang membaca buku sambil mendengarkan musik dengan earphone, hanya diam tanpa menoleh ke arahnya. Melihat reaksiku yang cuek, dia tetap riang berusaha.

“Tidak suka ya? yah… padahal aku sudah membuatnya. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? hmm… jadi kau suka kue apa? Biar aku buatkan.” Tawarnya ramah.

Aku memutar kedua bola mataku, lalu dengan kasar aku menutup bukuku, melepas earphone, dan menatapnya.

“Aku mengucapkan terima kasih, namun kau tidak perlu repot-repot, Kim Haje-san!” kataku kasar lalu pergi meninggalkannya yang masih terbengong.

“Kau memang penuh kejutan, aku semakin penasaran denganmu. Mengapa kau begitu penyendiri?” kata Haje pelan sambil memperhatikan Yuki yang pergi meniggalkannya.

***

Aku pergi ke swalayan terdekat untuk membeli persediaan makanan yang mulai habis. Musim dingin 
pertamaku di Jepang membuat aku terpaksa membaluti tubuhku dengan pakayan dan syal yang tebal. Sambil menunggu antrean membayar belanjaanku, aku melihat sekeliling sambil mengusap-usap kedua tanganku. Aku menyesal karena lupa memakai sarung tangan. Setelah ku perhatikan ternyata banyak sekali pasangan yang datang ke swalayan ini. Si pria dengan sigap membawakan belanjaan untuk kekasihnya. Melihatnya membuatku iri. Tiba-tiba ada suara yang tak asing menyapaku dari belakang.

“Yuki-chan?” sapa wanita yang pernah bersahabat akrab denganku itu.

Aku membelalakkan mata kaget. Kulihat tangan Keiko sedang bergelayut manja menggandeng  Mitaka yang hanya diam tertunduk. Dasar lelaki berengsek! Mulut buaya! Pikirku kesal. Aku mencoba bersikap biasa dan mulai menguasai kembali diriku.

“Oh, Keiko-chan! Lama tidak bertemu.”

“Benar. Kau belanja sendirian?” katanya setengah mengejek sambil celingkukan kesana-kemari.
Aku baru mau membuka mulut. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Maaf membuatmu menunggu.” Kata lelaki yang tak asing itu dengan lembut, lalu merangkul pundakku kemudian menatapku dengan mesra.

Aku membelalakan mata. “Haje-san?” kataku perlahan.

“Pacarmu? Selera yang bagus.” Kata Keiko sinis. Tanpa mengungguku menjawab dia menarik Mitaka dan membawanya pergi.

***

Aku berjalan menuju flat ku bersama Haje. Aku tidak memintanya, namun dia terus mengikutiku. Sepulang dari swalayan tadi, kami hanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku merasa harus keluar dari suasana yang tak enak ini.

“Terima kasih telah menolongku dari rasa malu tadi.” Kataku tulus.

Haje menghembuskan nafas. “Kurasa kau tak mau bicara padaku. Setelah lama aku menunggu, akhirnya kau membuka mulut juga.” Katanya riang sambil menebarkan cengiran jailnya kepadaku.
Wajahku memerah. Aku hanya tersenyum dan menatap langkah kakiku berjalan.

“Yang tadi itu mantan mu kan?” tanyanya hati-hati.

“Benar. Dan di sebelahnya adalah sahabatku.” Kataku sambil melamun dan terus menatap jalan.

“Jadi? Dia dan sahabatmu…”

Belum sempat Haje menyelesaikan kalimatnya, Aku langsung memotongnya. “Benar. Mereka pacaran. Dan aku yang telah di campakkan pria itu.”

“Kurasa dia telah salah mengambil keputusan.” Kata Haje santai.

Aku mengkerutkan kening tanda tak mengerti.

Seperti membaca pikiranku, Haje melanjutkan kaliamatnya. “Dia meninggalkan mu demi wanita kecentilan seperti itu. Bukankah dia bodoh?”

Aku tertawa. “Bukankah semua lelaki menyukai wanita yang agresif?”

Haje melotot. “Tidak. Tidak semua. Kau salah. Aku tidak menyukai wanita seperti itu.” Katanya jujur.

“Jadi kau suka wanita seperti apa?” tanyaku geli.

Haje berhenti lalu menatap bola mataku. “Wanita dingin sepertimu.”

Aku kembali menatapnya tak percaya.

“Lagi lagi ekspresi seperti itu. Sudah jangan dipikirkan. Anggap saja aku salah bicara.” Lalu Haje melanjutkan langkahnya. Kami kembali hening hingga sampai di depan gedung flat ku.

“Terima kasih telah mengantarku.” Kataku tulus sambil membungkukkan badan.
Haje membalas membungkukkan badan juga. “Tidak usah sungkan.”

Lalu ketika aku melangkah masuk. Tiba-tiba Haje menarik lenganku.

“Yuki-chan, tunggu”

“Ya?” tanyaku heran.

“Besok malam aku besama band ku akan tampil. Kau bisa hadir di sana?” tanyanya penuh harap.
Aku mengangguk menyakinkan sambil tersenyum manis, lalu kembali masuk. Terlihat sekilas olehku, senyumnya mengembang senang sambil melompak kegirangan.

***

Aku memasuki sebuah gedung dimana Haje dan band nya akan bernyanyi. Ku lihat banyak sekali penggemar Haje yang berteriak histeris. Aku tak menyangka ternyata Haje adalah seorang bintang. Teriakan para penggemar semakin kencang ketika Haje naik ke panggung dan menyapa mereka semua. Aku melihatnya sambil tersenyum. Dan Haje juga ternyata melihatku. Dia tersenyum ke arahku. Lalu Haje menyanyikan lagu yang sangat menggembirakan. Membuat semua penonton berjingkat-jingkat heboh. Ternyata suara Haje sangat indah, pikirku sambil tersenyum.
Setelah menyanyikan lagunya. Haje menatapku dari panggungnya.

“Lagu terakhir yang akan saya nyayikan ini khusus saya buat untuk seorang wanita yang telah mencuri hati saya.” Mendengar pengakuan Haje semua penonton bersorak histeris. Wajahku pun mulai pucat.

Haje melanjutkan kalimatnya. “Wanita itu ada di sini sekarang. Saya tidak tahu sejak kapan saja jatuh cinta padanya. Yang pasti, setiap melihat wajah teduhnya. Saya selalu ingin melindunginya.”
Penonton kembali bersorak. Haje turun dari panggung dan berjalan ke arahku. Semua penonton menatap ke arah Haje dan aku dengan tatapan iri. Jantungku seketika berdebar dengan kencangnya.

Dan, kini kami saling berhadapan. Haje menatapku dan meraih sebelah tanganku. Sedangkan sebelah tangannya memegang microphone dan meletakkannya di mulutnya.

“Yuki-chan, maukah kau menerima hatiku dan menjadi wanitaku?” tanyanya mantap.

Tanpa sadar air mataku mengalir bahagia. Hatiku hampir meledak. Kakiku terasa lemas. Aku langsung memeluknya. “Terima kasih Haje, terima kasih telah membuatku jatuh cinta lagi.” Kataku berbisik.

Haje membalas pelukanku dengan erat. Dan semua penonton bersorak gembira. Aku merasa ini seperti mimpi. Betapa bahagianya aku hari ini. Aku tak menyangka pangeran yang selama ini aku impikan ada di depan mata. Dan aku pun percaya, Haje pasti akan selalu bisa membuatku terus bahagia.

***

Puisi "Dendam si Sulung"

Terdengar sayup-sayup rintihan
melodi tangis indah tertahan
duduk meringkuk si wajah lelah
mengusap dada menahan luka
goresan hati yang merasuki celah
kini telah lama mendarah

Tuhan,
tegarkanlah hatinya
dari cambukan orang tuanya
aku dengannya satu jiwa
perih sakitnya jua ku rasa

Bunda,
tunggulah sampai ku dewasa
bila nanti tiba
kan ku datang membawa emas
dan ku tunjukkan pada mereka
bahwa aku menggenggam bintang
masa depan kebanggaan

Ayah yang pergi berlayar
mengarungi gelombang
menitipkan pesan kerukunan
pada kita yang tertinggal

Tiada pernah aku termakan fitnah mereka
di lahirkan lewat rahimmu adalah suatu keagungan
dan aku bangga menjadi anak sulung
yang nantinya menjadi tulang punggung keluarga
walau aku hanyalah wanita

(Ini karangan aku sendiri dan mendapatkan nilai A+ loh dari guru bahasa indonesia ku :D)