Sudah lama rasanya aku tidak menulis lagi. Kini
jari-jariku mulai menari diatas keyboard.
Banyak sekali cerita. Banyak yang terjadi setahun belakangan ini. Aku bahkan
bingung harus memulai dari mana. Oh! Mungkin aku bisa memulainya dengan
perkuliahanku. Well, ternyata benar.
Bukan ini tempat yang cocok untukku. Aku bersyukur mengenal teman-teman yang
baik disini. Aku tidak tahu akan seperti apa jika aku tidak bertemu dengan
mereka disini. Tapi satu yang terasa kurang. Sekeras apapun aku berjuang, aku
tetap tidak sanggup mengejar ketertinggalanku. Apa aku sudah usaha? Aku tidak
tahu. Tapi aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku
berhenti sampai disini saja. Sudah banyak yang dikorbankan.
Aku menatap keluar jendela. Langit tak bersahabat
akhir-akhir ini. Suasana kabut yang bercampur dengan cahayanya matahari membuat
dunia yang ku pijaki saat ini redup. Tak ada gairah. Kosong. Sekali lagi aku berpikir. Inikah yang aku inginkan?
Kemanakah bahagiaku perginya? Setiap potongan kenangan yang berhambur layaknya
puzzle silih berganti berputaran di otakku. Rasanya ingin aku raih setiap potongan itu. Rasanya... aku ingin kembali. Andai
kata-kata andai bisa saja dengan mudah kuucapkan lalu terwujudkan. Aku berani
bertaruh tidak akan berlarut seperti ini. Aku bahkan takut menghadapi apa yang
akan terjadi didepanku nanti. Mengapa seperti ini?
Disini. Dikota harapan ini aku banyak menjalin kisah.
Kisah yang tak berujung akhir. Banyak yang dekat tapi hanya sebatas dekat.
Tidak ada yang benar-benar menuntunku keluar. Mereka bersinggahan hanya untuk
memuaskan penasaran. Setelah itu menghilang tanpa jejak. Tidak bolehkah aku
merasakan kisah yang benar-benar membahagiakan? Tanpa harus memiliki pikiran
untung mengulang kisah.
Oh, Tuhan.. skenario mu adalah rahasia yang tak pernah
bisa di tebak. Akan kemanakah aku nanti? Apakah kemampuan tinggallah kemampuan?
Apakah usaha hanya tinggal usaha? Dan
apakah keinginan hanya tinggal impian? Beberapa mengatakan “kejarlah mimpimu!”
tapi jika keadaannya dalam posisiku, apakah pantas kata-kata itu ditujukan? Aku
hanya ingin mendapatkan apa yang aku cintakan. Aku hanya ingin melakukan hal dengan
apa yang aku sukakan. Dengan apa yang aku inginkan. Tanpa syarat. Tanpa
pertimbangan. Hanya mengalir saja. Dan aku selalu bersemangat menjalankannya.
Bukan semata karena tuntutan. Bukan semata karena kewajiban.