Suatu malam tak berbulan, sayup-sayup ku dengar rintihan tangis seseorang yang tinggal di depan rumahku. Ini bukan kali pertamanya ku dengar. Bisa di bilang, suaranya itu merupakan lagu penghantar tidurku. Suara itu milik Astuti, gadis kecil yang malang. Sampai usia dimana anak-anak menikmati indahnya masa kecil, namun ia tak pernah merasakan dunia luar. Langkah kakinya hanya terbatas sampai serambi depan rumah saja. Aku tau, mungkin yang sedang di tangisinya malam ini adalah karena kesepian. Astuti lebih banyak bersama pembantu dan boneka beruang kesayangannya, dari pada bersama kedua orang tuanya yang sibuk mencari nafkah. Pernah suatu hari ku bertanya kepada ibu.
“Bu, kenapa Astuti dilarang bermain diluar oleh Bi Inah?”
“Astuti memang dilarang orang tuanya, karena ia menderita penyakit jantung dari kecil.” Jawab ibu sambil mencuci piring tanpa menoleh ke arahku.
“Tapi aku ingin sekali bermain dengannya, Bu.” Rengekku manja.
“Kau bermain sajalah dengan yang lain. Teman kan banyak. Ibu tidak mau, kau nanti malah mengganggu penyakitnya.” Lalu ibu menatap ku lekat-lekat. “Sudahlah, kau pergi bermain saja, ibu mau bersih-bersih.”
Aku pun mengangguk dan berjalan ke arah luar. Pikiranku masih tak mengerti dengan ucapan ibu tadi. Separah apakah penyakit Astuti itu? Apa tidak bisa hanya di beri obat dari dokter saja, seperti yang sering ibu lakukan di saat aku sakit. Sampai-sampai Astuti tidak boleh bermain di luar. Aku pun berjalan melewati rumahnya, ku lihat Astuti bermain boneka sendirian di serambi depan. Ketika aku berhenti melihatnya, dia pun melihatku dengan senyum. Ada rasa iri yang sangat mendalam dari sudut matanya, ketika ia melihatku bisa keluar bermain dengan bebasnya. Kebetulan tak ada Bi Inah di sampingnya, aku pun berjalan menghampiri pagar rumahnya.
“Kok kamu sendirian? Mana bibi?” Tanya ku penasaran.
“Bibi lagi masak, kamu mau kemana?” Tanya baliknya, sambil memasang senyum.
“Aku mau ke lapangan, mau main petak umpet bareng teman-teman di sana. Kamu mau ikut?” ajakku semangat.
Astuti diam dan tertunduk. Lalu, pelan-pelan ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar.
“Maaf, aku tidak boleh keluar.”
“Kenapa?” tanyaku kecewa.
Astuti tak menjawab. Dia hanya terseyum.
“Ya udah, tidak apa-apa. Tapi lain kali kamu harus ikut ya!” pintaku kemudian.
Astuti ragu sejenak, lalu ia mengangguk sambil masih memasang senyum tulusnya.
Tiba-tiba ku dengar Bi Inah memanggil namanya untuk minum obat. Dan Astuti pun langsung berlari masuk meninggalkan aku yang masih terpaku.
Esok harinya, aku pergi ke rumah Astuti. Aku katakan pada Bi Inah bahwa aku ingin bermain dengannya. Bi Inah memperbolehkan, asal mainnya di rumah Astuti sendiri. Aku senang sekali, begitu pula Astuti. Setiap hari aku ke rumahnya. Kami bermain boneka, rumah-rumahan, dan main congklak. Kadang Bi Inah juga ikut bergabung dengan kami. Waktu aku saat bermain bersamanya tidaklah lama. Saat sedang asik, tiba-tiba Bi Inah menyuruhku pulang, karena Astuti yang harus istirahat. Dia tidak boleh kecapekan. Sehingga besok aku baru boleh bermain dengannya lagi.
Begitulah seterusnya. Namun, hal itu tidak menjadi kendala. Astuti selalu ceria saat kami bermain bersama maupun saat aku hendak pulang ke rumah. Dan ketika esok aku datang kembali, senyumnya langsung mengembang. Sepertinya dia sangat menantikan kedatanganku. Dan selama itu juga, tak pernah sekali pun lagi aku mendengar tangis Astuti di larut malam.
Tapi, tiba-tiba hari ini ketika aku memanggil namanya dari luar pagar tak satupun yang menyahut. Astuti tidak langsung datang menyambutku dengan ceria seperti biasanya. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Setelah lelah aku memanggilnya dan tetap tak ada jawaban, aku pun pulang dengan lesu. Esok hari, aku memanggilnya lagi, namun tak ada jawaban. Begitu pula hari-hari berikutnya, rumah itu tetap diam. Tapi aku tak pernah berputus asa, aku tetap memanggilnya untuk mengajak bermain. Hingga seminggu pun berlalu. Rumah Astuti masih kosong. Tak sabar, aku pun menanyakan kepada ibu tentang hal itu. Barangkali ibu pernah mendengar kabar tentang Astuti.
“Kata orang-orang sekitar, pernah satu malam Astuti tak sadarkan diri. Sehingga ia di bawa oleh orang tuanya ke rumah sakit hingga sampai saat ini masih dirawat.” Jelas ibu sambil menyiram tanaman. Seperti biasanya, saat bicara ia tak menoleh ke arahku.
“Kenapa ibu tak pernah menberi tahuku?” kataku kesal.
“Kau saja baru tanya sekarang.” Jawab ibu cuek.
“Aku ingin pergi melihatnya, Bu.” Pintaku memelas.
“Kau boleh saja melihatnya, tapi kan kita tidak tahu dimana Astuti di rawat. Orang-orang sini pun juga tidak tahu. Lebih baik sekarang kau berdoa saja agar ia lekas sembuh.” Kata ibu lembut sambil memengang pundakku dengan kedua tangannya.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan telah berlalu. Astuti belum juga pulang. Rumahnya tetap bergeming. Setiap aku melewati rumahnya, ada rasa rindu yang memanggil. Aku begitu mengkhawatirkannya. Aku ingin ia cepat pulang dan bisa bermain bersamaku lagi. tiba-tiba sebuah moobil sedan hitam berhenti didepan rumah Astuti. Hatiku langsung berdebar. Mataku membulat melihat siapa gerangan yang mampir kesitu. Akankah itu Astuti? Badanku lemas seketika, ketika yang ku lihat hanya Bi Inah dan kedua orang tua Astuti yang ada. Rasa penasaran membakar dalam tubuhku. Mengapa Astuti tidak datang bersama? Cepat-cepat aku berlari dengan kaki telanjang ke arah rumahnya. Lalu ku sapa Bi Inah yang sedang sendiri diluar mengangkati barang dan ku sampaikan maksudku.
“Bi, mana Astuti?” tanyaku langsung dengan harap-harap cemas.
Tak seperti biasanya, Bi Inah diam dan tertunduk lesu. Matanya tampak berkaca-kaca. Aku makin gelisah. Lalu Bi Inah mengeluarkan sepucuk surat dari kantongnya dan di sororkannya surat itu kepadaku. Aku menatapnya heran. Lalu seperti dapat membaca pikiranku, beliau mengangkat suara.
“Itu dari non Astuti.” Katanya pendek. Lalu Bi Inah pergi meninggalkan aku yang masih menatap heran.
Aku pulang dengan raut wajah yang pucat. Tanganku masih terasa gemetar memegang erat surat itu. Ibu yang melihatku berdiri di ambang pintu dengan wajah ketakutan langsung datang memelukku. Darah bening langsung mengalir deras ke pipi mungilku. Ibu lalu mengusap-usap lembut rambutku dan mempererat pelukannya. Dan semenit kemudian terdengar olehku suara mobil jenazah berkumandang menuju arah rumah tetangga depanku. Orang-orang pun juga ramai berkunjung ke rumah itu. Suasana duka pun kini menyebar.
Dari : Astuti
Kepada : Tika
Maafin Astuti ya, Tika. Tuti tiba-tiba tidak bisa bermain lagi dengan Tika. Tuti juga tidak memberi tahu kalau lagi sakit, karena Tuti takut nantinya Tika tidak mau main bersama lagi. Tuti senang sekali bisa punya sahabat seperti Tika. Tadi, Tuti dengar katanya Bi Inah mau pulang lihat rumah, makanya Tuti titip surat ini untuk Tika. Do’ain ya semoga Tuti cepat sembuh dan kita bisa bermain lagi.
***