Senin, 07 Februari 2011

SEOUL, I’M COMING

Pengunjung toko buku tampak ramai hari itu, karena pemilik toko sedang mengadakan diskon besar-besaran. Para penjaga kasir pun menjadi kewalahan karena antrian yang panjang. Mereka juga harus cepat dan teliti. Dalam antrian tersebut, ada dua orang wanita yang sedang menunggu. Keduanya masing-masing membawa belanjaan buku mereka, tetapi salah satu dari mereka membeli banyak sekali buku sampai hampir menutupi wajahnya, wanita itu memegang dengan kedua tangannya. Dia berdiri dengan tenang. Wanita itu memakai kacamata, kulitnya putih dan bersih. Rambutnya panjang kecoklatan. Dia memakai baju kaos dan celana jins panjang. Penampilannya begitu sederhana, sedangkan wanita yang satunya lagi hanya membeli beberapa buku. Penampilannya sangat modis sesuai trend. Rambutnya pendek hitam. Dia tampak gelisah menunggu dalam antrian yang panjang. Berulang kali matanya menatap jam ditangannya. Sepertinya kedua wanita itu adalah teman. Tampak mereka berbincang-bincang akrab.

“La! Lo yakin mau beli buku itu semua dengan segini banyaknya?” Tanya wanita modis itu kepada teman dibelakangnya hanya untuk menghilangkan kejenuhannya. Wanita yang ditanya bernama Dela itu hanya mengangguk. Tidak puas dengan jawaban temannya itu, dia mengoceh lagi. “Buat apa sih buku bahasa Korea semua yang lo beli? Emang kebaca apa? Kita kan gak ada pelajarannya juga disekolah.”

Dela menghela nafas, “Aduh, Ella! Kamu itu bawel banget sih…ya pasti kebaca dong! Kan udah aku beli! Lagian kayak kamu gak tau aku aja, aku kan emang suka sama Korea.”

“Iya deh…habis ini pasti lo mau beli kaset drama Korea lagi kan??” tebak Ella.

“Hehe…kamu emang sahabat baik aku,La! Tau aja…” jawab Dela malu-malu.

“Iya dong! Dalam kamus lo itu Cuma Koreaa ajaaa…gak ada yang lain, ada uang dikit beli kasetnya lah atau buku bahasanya lah, hmm…” goda Ella cengengesan.

“Hehe…udah tuh giliran kamu bayar.” Kata Dela mengalihkan pembicaraan.

***

Ketika mereka keluar dari toko buku dan berjalan menuku halte bus. Tampak dari kejauhan seorang wanita sedang memperhatikan mereka berdua. Wanita tersebut berjalan mengikuti langkah Dela dan Ela dari belakang sambil melihat belanjaan buku-buku bahasa Korea yang sedang dibawa Dela. Sepertinya wanita itu orang asing yang sedang mencari bantuan. Tanpa keraguan lagi, dia pun menyapa Dela.

“Jeogiyo, malsseum jom mureulgeyo.” (“Permisi, tumpang Tanya”. Sapa wanita itu dalam bahasa korea).

“Ne?” (“Ada apa, ya?” Tanya Dela).

“Blok M eun ajik meomnika?” (“Apakah blok M masih jauh?”).

“Blok M? iyo? Yeogi-eseo mani meomnida.” (“Blok M? Wah, itu jauh dari sini, Mbak.” Kata Dela heran).

“Geurigo yeogineun eodi-imnika?” (“Lalu, ini daerah apa?” Wanita itu tampak bingung).

“Yeogineun Depok-imnida. Geureonde eodi-e garyeogo hamnika?” (“Ini Depok. Memangnya Mbak mau pergi kemana?” Tanya Dela prihatin).

“Blok M Plaza-e garyeogo hamnida.” (“Saya mau ke Blok M Plaza”)

“Geureomyeon, yeogiseo naerisyeoseo yuksipsam beon beoseuro garathaseyo.” (“Kalau gitu, Mbak turun disini saja. Kemudian, Mbak naik bus nomor 63.” Kata Dela menjelaskan).

“Sigani eolmana geollimnika?” (“Kira-kira berapa lama ya sampai disana?”).

“Giri mani makhiji aneumyeon i sip bunceum geollimnida.” (“Sekitar 20 menit kalau tidak macet).

“Yogeumi eolmaimnika?” (“Berapa ongkosnya?” Tanya wanita itu lagi).

“Sa cheon ruphia imnida” (“Rp4000 saja.” Jawab Dela lagi).

“Gamsahamnida” (“Terima kasih.” Kata wanita itu senang sambil membungkukkan sedikit badannya).

“Cheonmaneyo.” (“Sama-sama.” Balas Dela tulus sambil membungkukkan sedikit badannya juga).
Lalu wanita Korea tadi pun pergi. Ella yang menyaksikan percakapan Dela dan wanita tadi pun tercengang. Dia tak menyangka temannya itu sangat lancar berbicara bahasa Korea. Diam-diam Ella pun mengagumi temannya. Ternyata tak sia-sia selama ini Dela membeli banyak buku dan kaset yang berbau Korea.

***

“Dari mana saja kamu?” Tanya seorang wanita setengah baya yang sedang berdiri diambang pintu menyambut kepulangannya Dela. Pandangan wanita itu seperti tak bersahabat. “Dari toko buku, Ma.” Jawab Dela pelan sambil menunduk, kemudian ia pergi menuju kamarnya.

“Anak mu itu loh, Mas! Selalu pergi! Jarang dirumah. Anak perempuan kok liar kayak gitu sih. Capek aku ngurus anak mu itu!”. Suara wanita setengah baya itu mulai meninggi.

“Sudahlah, Bu! Biarkan sajalah! Dia kan juga sudah besar.” Jawab ayahnya Dela dengan bijaksana.

“Tapi, dia selalu keluar membeli barang-barang yang tidak penting! Buku-buku dan kaset banyak sekali dikamarnya, buat apa semua itu! Kamu sih Mas! Selalu memanjakan dia! Anak kita masih bayi dan perlu banyak kebutuhan juga!” wanita itu tetap berbicara dengan suara tingginya.

“Sudahlah, Bu! Aku capek! Aku mau istirahat saja! Pusing aku!” DUAARRR! Terdengar suara ayah membanting pintu kamar. Wanita setengah baya tadi yang merupakan ibu tiri Dela pun lalu menangis.

Tak disadari oleh mereka, bahwa pertengkaran tadi terdengar oleh Dela dari balik pintu kamar. Dan kemudian, sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, darah bening Dela pun mengalir deras.

***

“Eh, La! Lo tau gak sih…tadi gue dengar-dengar Desy dapat beasiswa kuliah di UGM loh! Irfan juga tadi gue denger mau dapt beasiswa kuliah di ITB! Ih, enak banget ya mereka…” kata Ella membuka pembicaraan ketika mereka sedang duduk dikantin untuk makan siang sebelum pemantapan.
Senyum Dela mengembang, “Ya panteslah…kan mereka murid terpintar disekolah kita ini”.

“Iya sih…gue aja kalo udah lulus juga udah syukur.” Kata Ella lesu. “Oh, iya! Lo ntar pengen nyambung kemana?” Tanya Ella kemudian.

“Aku sih belum tau…mikir lulus aja dulu deh. Kalau kamu?” Dela juga Tanya balik.

“Yeee…gue sih sama! Cuma lo sebenarnya tuh pengen kemana?” Ella mulai kesel. Lalu dia meminum jus jeruknya.

“Hmm…kalau aku sebenarnya ingin sekolah di UI ngambil jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea, hehe…kalau kamu?”

Mendengar pengakuan temannya itu, Ella pun tersedak. “Hahaha…lo mimpi ya? masuk UI itu susah! Banyak saingannya! Desy dan Ifran yang pintar gitu aja gak bisa apalagi elo yang Cuma juara kelas aja! Hahaha” tawanya pun meledak.

Dela agak tersinggung. “Tapi aku mau berusaha dulu! Nasib kita siapa yang tau? aku coba buat ikut tes nya nanti. Kalau gak bisa, ya…gak papa. Yang penting kan udah usaha.”

“Ya deh buk…iya…jangan lesu gitu dong mukanya.” Kata Ella sambil menarik pelan rambut temannya itu.

“Hehe…kalau kamu emangnya pengen kuliah dimana?” Dela balik nanya.

“Gue sih mau ambil kelas modeling aja, soalnya gue pengennya jadi artis…” jawab Ella sambil melamun.

Kini gantian, Dela yang menertawai Ella dengan terbahak-bahak.

“Yee…lo kok ketawa sih?! Lagian gue juga tau diri, otak gue ini pas-pasan. Gak bisa dimasukin pelajaran lagi. Ntar gue juga sambil kerja.” Jelas Ella merajuk.

“Haha…iya deh iya.” goda Dela.

***

Ujian Nasional tinggal menghitung beberapa hari lagi. Perasaan Dela mulai gelisah dan takut. Sudah hampir sebulan dia tidak pergi ke toko buku lagi, karena dia sibuk mempersiapkan dirinya untuk belajar dirumah dengan giat. Sesekali dia membaca buku pelajaran sekolahnya dan sesekali juga dia membaca buku bahasa korea nya itu. Dari SMP, Dela memang meyukai segala sesuatu tentang Korea. Karena dia hobi menonton DVD drama Korea dan mendengarkan lagu-lagu Korea. Dela juga bercita-cita bisa bekerja di Korea Selatan dan tinggal disana.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dela. Ternyata ayahnya sedang berdiri didepan pintu kamar Dela yang sedang terbuka sambil tersenyum.

“Eh, Ayah…masuk aja, Yah.” Sapa Dela lembut kepada Ayahnya.

Ayahnya pun melangkah masuk dan duduk disamping meja belajar Dela. “Lagi belajar ya? Ayah ganggu tidak?” .

“Oh, udah selesai kok,Yah. Ada apa, Yah?” Tanya Dela bingung.

“Ayah cuma ingin ngobrol saja dengan kamu, kapan ujian lulusannya?” Tanya Ayah Dela membuka pembicaraan.

“Hari senin depan,Yah.” Jawab Dela lembut.

“Nanti kamu mau kuliah dimana rencananya?” Tanya Ayahnya lagi.
Dela terdiam, lalu sambil menunduk, pelan-pelan dia membuka mulut. “di UI, Dela ingin ngambil Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea,Yah”.

Ayahnya agak kaget. Lalu seyum tipis tersungging dibibirnya. “Kenapa bicara begitu pelan? Kamu malu mengatakannya?” Tanya Ayahnya sambil mengelus lembut kepala anaknya itu.
Dela hanya menunduk dan tersenyum.

“Kamu mirip sekali dengan almarhum ibumu…” kata ayahnya tiba-tiba sambil melamun.
Mendengar perkataan ayahnya itu, Dela pun mengangkat kepalanya dan menatap heran ayahnya.

Seperti bisa membaca pikiran anaknya itu, ayah pun melanjutkan. “Dulu, ibumu suka sekali dengan segala sesuatu tentang Korea. Dia berharap suatu hari, bisa menginjak Seoul. Dia juga pandai berbahasa Korea. Namun sayang, takdir berkata lain. Penyakit kanker menyerangnya hingga dia meninggal.” Tiba-tiba mata ayahnya pun berkaca-kaca. Dela tak berkata apa-apa, dia tetap mendengar cerita ayahnya sambil menahan tangis.

“Ayah yakin, suatu saat kamu bisa melanjutkan mimpi ibumu itu. Jadi, jangan menyerah ya,Nak.” Kata Ayahnya tulus sambil menepuk pelan pundak Dela dan beranjak pergi.
Dela tetap bergeming.

“Aza-aza hwaiting!” teriak ayahnya ketika berdiri didepan pintu kamar Dela.
Dela menatap wajah ayahnya itu sambil mengangguk dan tersenyum. Tanpa Manahan tangisnya lagi, Dela berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya erat. Sepertinya Dela sangat merindukan pelukan sang ayah. Diam-diam ibu tiri Dela melihat adegan itu dari kejauhan dengan tatapan marah.

***

Ujian Nasional telah usai, kini pengumuman kelulusan dibagikan. Semua muka siswa SMA 38 itu tampak pucat. Namun ekspresi itu telah hilang setelah 1 jam kemudian. Mereka semua bersorak-sorak gembira karena lulus 100% dan aksi coret-coretan pun dimulai. Tak ketinggalan Dela dan Ela berpelukan kegirangan sambil ikut coret-coretan bersama yang lainnya. Dan ternyata usaha Dela selama ini menbawa hasil yang memuaskan. Dia pun lulus dengan nilai yang tinggi. Tapi dia belum puas, karena ia harus ikut tes masuk universitas UI besok. Perjuangannya tinggal selangkah lagi.

***

Dela berlari-lari menuju rumahnya. Ia ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia akhirnya lulus dengan nilai yang memuaskan.

“AYAAAH!!! AKU PULAANGG!” teriaknya semangat. Namun langkahnya kemudian terhenti, lututnya terasa lemas. Didalam rumahnya banyak sekali orang-orang yang sedang bertakziah. Dela pun heran bercampur takut. Tiba-tiba seorang bibi tetangganya menghampiri Dela dan menatapnya iba sambil memeluknya, lalu ia berkata,”Sabar ya,Nak…ayahmu tadi meninggal karena kecelakaan “. Air mata Dela pun mengalir dengan derasnya, lalu ia berlari menghampiri mayat ayahnya dan menangis sejadi-jadinya.

“PAPAAA BANGUUNN! PAPA GAK BOLEH NINGGALIN DELA SENDIRIAN! HUHUHU”.
Semua orang yang menyaksikan kepedihan Dela pun turut sedih dan prihatin.

***

Dela baru pulang dari warung membeli mie instan. Tiba-tiba ia tercium bau asap. Takut terjadi apa-apa dia pun berlari kearah dapur. Namun, tak ada api yang berkobar disitu. Lalu dia berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Air matanya mengalir kembali, ternyata semua buku-buku dan kaset korea nya dibakar. Tampak ibu tirinya sedang menjatuhkan buku-bukunya ke dalam api.

“JANGAAAN!!!” teriak Dela. Lalu ia berlari menghampiri ibunya dan menarik 3 buku yang masih utuh tersisa dari tangan ibunya. Dan…PLAAKK! Sebuah tamparan meleset dipipi kanan Dela.

“Gara-gara kau! Suamiku meninggal! Hanya karena dia buru-buru pergi kesekolah kau untuk melihat kelulusan kau itu!” bentak ibu tiri Dela lalu ia meninggalkan Dela yang berdiri menangis sambil memegangi erat ke-3 buku korea nya yang tersisa.

***
Dela pergi kerumah Ella, dia menceritakan semua yang dilakukan ibu tirinya itu kepadanya sambil menangis. Dela diusir dari rumah. Dan satu-satunya tempat yang bisa dikunjunginya hanya rumah Ella. Sahabatnya itu hidup di Jakarta dengan tinggal dirumah kontrakan. Dela juga sudah tidak punya saudara lagi di Jakarta. Ella pun dengan tangan terbuka menerima kedatangan Dela. Dia pun siap menolong Dela dan mendengar curhatnya.

“Udah, lo sabar ya…ini mungkin cobaan, lo gak boleh nyerah! Besok lo harus ikut tes masuk UI. Jadi, jangan dipikirin lagi ya…” hibur Ella.

Dela pun menurut, dengan malas dia mengambil 3 buku korea nya tadi lalu membacanya. Sekarang dia tidak punya apa-apa lagi. Tabungannya hanya cukup untuk biaya masuk kuliahnya. Dia pun bertekad untuk mencari kerja sambilan juga.

***

Keesokan harinya, Dela sudah selesai mengikuti tes. Hatinya sedikit lega, karena dia sudah mengerjakannya dengan baik dan teliti. Lalu, Dela bertekad menemui Ella di kursus modeling nya, tapi niatnya diurungkan karena ia ingin mencari kerja sambilan saja.
Sudah 3 jam Dela berkeliling mencari pekerjaan, namun belum dapat. Ternyata mencari kerja sangat susah, pikirnya. Hampir putus asa, namun tiba-tiba ia melihat tulisan “MENCARI KARYAWAN WANITA” di sebuah minimarket. Semangatnya hidup kembali, dia pun bergegas masuk kedalam dan ingin mengajukan diri.

***

“Ella! Kamu dimana?” Tanya Dela ditelepon.

“Gue udah dirumah, kenapa?” lo kayaknya lagi happy gitu?hehe”.goda Ella disebrang sana.

“Aku dapat kerjaan,La! Jadi kasir minimarket! Lumayanlah,hehe…” teriak Dela kegirangan.

“Waahhh…selamat yaa! Hehe, gimana ujian tes nya tadi?” Tanya Ella.

“Lancar,La! Do’ain aja ya supaya aku diterima…” kata Dela senang.

“Pasti dong…” balas Ella yakin.

“Oke, sekarang aku pulang ya. Kamu belum makan kan? Mau dibeliin apa nih?” tawar Dela.

“Wahhh…kebetulan belum! Hehe, nasi goring aja deh!” jawab Ella kegirangan.

“Siipp…bye”

“bye…”

KLIK.

***

“Ellaaa…!!! Aku diterima di UI! Aku diterimaaa!” teriak Dela ketika ia masuk kedalam rumah sambil membawa Koran yang dibacanya.

“Apaan sih,Laaa…teriak-teriak? Gue masih ngantuk nihh…hoaammm…” kata Ella kesel.

“Kamu lihat ini! Aku diterima di UI! Ini nama aku! Lihat!” Dela tetap tidak perduli, dia menyodorkan Koran itu kepada Ella.

Dengan malas, Ella akhirnya nyerah dan bangun. Dia mengucek-ngucek matanya dan meraih Koran tersebut, lalu dilihatnya.

Mata Ella terbelalak kaget. “Waahhh…benar! Ini nama lo! Adela Presilia! Waahhh..selamat ya!” teriak Ella kegirangan, lalu ia pun memeluk Dela yang ternyata nangis bahagia.

“Ayo sekarang, lo harus traktir gue! Kita jalan-jalan! Mumpung ini weekend! Oke?!” pinta Ella tiba-tiba.

Dela pun tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu lalu mengangguk mantap.

***

Sudah hampir 1 semester, Dela sekolah di Universitas Indonesia itu dengan jurusan Bahasa dan Budaya Korea. Dia termasuk murid yang pintar dan disenangi para dosennya. Prestasinya terus meningkat. Dela sedang duduk dibangku taman kampusnya sambil membaca buku bahasa Korea nya. Tiba-tiba seorang dosen memanggil Dela. Dela pun berlari kecil menghampiri dosennya itu.

“Ada apa, bapak memanggil saya?” Tanya Dela sopan.

“Seorang dosen dari Korea Selatan datang ke kampus kita karena ada pertukaran pelajar. Tolong kamu sapa dia sebagai wakil dari siswa disini.” Pinta dosen tersebut.

“Baik, pak.” Jawab Dela sambil mengangguk. Lalu Dela dan dosen beranjak pergi untuk menghampiri tamunya.

“Annyeonghasimnikka!” (“Selamat siang, Bu!”) sapa Dela ramah kepada orang asing tersebut sambil membungkukkan badannya. Wanita itu tetap cantik walaupun setengah baya.

“Annyeonghaseyo! Ireumi mwoyeyo?” (“Selamat siang, siapa nama anda?”) Tanya wanita asing itu dengan ramah.

“Jeoneun Dela-imnida” (“Saya Dela”). Jawab Dela sambil membungkukkan lagi badannya.

“Geurekhunyo. Naiga eottoekhe dwenayo?” (“Oh, begitu. Berapa umurmu?”) tanya wanita itu lembut.

“Naneun yeolahopsarigo hangugeo hakwa daehaksaeng-ieyo.” (“Umurku, 19 tahun dan aku mahasiswa bahasa Korea”).

“Geurekhunyo. Hangukmaleul jal haneyo?” (“Begitu, ya, pantas kamu bisa berbahasa Korea”). Kata wanita itu kagum.

“Ne, jogeum hal su isseoyo.” (“Ya, sedikit) Jawab Dela malu-malu.

“Eonjebutheo han-gugeoreul baewosseoyo?” (“Sejak kapan kamu belajar bahasa Korea?”) Tanya wanita asing itu penasaran.

“Junghakkyottaebutheoyo.” (“Sejak SMP”).

“Eodi-eseo han-gugeoreul baewosseoyo?” (“Kamu belajar dari mana?”)

“Honja chaegeuro gongbuhaesseoyo.” (“Aku belajar sendiri dari buku”)

“Wa~” (“Wow!”) wanita itu menutup mulut dengan kedua tangannya, sepertinya dia kehabisan kata-kata karena begitu kagum dengan mahasiswa didepannya ini.

***

Malam harinya, ketika Dela sedang membaca buku dikamarnya. Tiba-tiba handphone Dela berbunyi.

“Hallo?” sapa Dela.

“Hallo? Ini benar dengan Dela?” Tanya seseorang disebrang sana.

“Iya benar, ini dengan siapa ya?” Dela nanya balik.

“Dela, ini pak Rizal, dosen kampus kamu.” Jawab suara disebrang sana.

“Oh, iya. Ada apa pak?” Tanya Dela sopan.

“Soal yang tadi siang, dosen Korea yang berbicara dengan kamu tadi, beliau ingin kamu menjadi salah satu delegasi dari Indonesia untuk mengikuti program ‘Youth Camp for Asia’s Future 2011’ yang diselenggarakan oleh pemerintah Korea Selatan di Seoul. Semua biaya ditanggung. Apakah kamu kamu?” jelas pak Rizal.

Jantung Dela berdetak sangat kencang mendengar hal itu. Air matanya pun menetes.

“Iya,pak. Saya bersedia.” Jawab Dela yakin.

“Oke, siap ya? nanti saya kabari kamu lagi.” kata pak Rizal tenang.

“Iya,pak. Terima kasih banyak.” Kata Dela tulus.

Air mata bahagia Dela mengalir dengan derasnya. Berulang kali dia mengucapkan kata syukur.

Ayah, Ibu…Dela berhasil! Dela akhirnya bisa ke Seoul…Dela bisa mewujudkan mimpi Ibu yang tertunda…Dela bahagia… teriak Dela dalam hati.

Tanpa berpikir lagi, Dela berlari ke luar kamarnya menuju kamar Ella untuk memberitahukan kabar gembira ini. Sahabatnya itu pasti juga senang.

“ELLAAAA!!!” teriak Dela riang.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar