Sabtu, 10 Desember 2011

MAKHLUK TANPA JIWA

Aku membenci diriku sendiri karena terlampau lemah. Aku benci karena telah membiarkannya memelukku. Aku tidak punya sisa kekuatan ketika Mitaka menarikku ke dalam pelukannya. Aku bahkan membiarkan tangisku pecah di dadanya. Aku rindu sekali padanya. Aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya. Berada dalam pelukannya membuatku menyadari betapa aku merindukannya. Suasana taman yang hening ini sangat terasa mencengkam untukku. Hawa dingin tiba-tiba menjalari kulitku.

“Aku masih mencintaimu. Tolong kembali kepadaku, Yuki-chan.” Bisiknya lembut.
Aku melepas pelukannya dan menatap kedua matanya. Mencari keyakinan. “Tapi kau sudah meninggalkan ku! Kau tega mencintai sahabatku sendiri. Di belakangku!.” Kataku setengah menjerit sambil menangis.

Mitaka meraih kedua tanganku. “Yuki-chan, dengarkan aku! Aku tahu aku salah. Aku baru menyadari ternyata Keiko-chan tidak sungguh mencintaiku. Dia hanya mempermainkanku. Sekarang aku baru menyadari, hanya kaulah yang tulus mencintaiku. Aku tak bisa melupakan kasih sayangmu yang tulus itu.”

Dasar lelaki tidak tahu malu! Pikirku kesal. Terlalu sakit apa yang telah di lakukannya dulu terhadapku. Dia yang telah mencampakkanku sekarang ingin kembali lagi. namun Dia adalah cinta pertamaku. Aku harus bagaimana menghadapinya? Aku menarik nafas dan kembali menatap matanya.

“Jujur aku mencintaimu, aku kehilangan arah ketika kau lebih memilih sahabatku sendiri. Tapi maaf, aku tidak bisa kembali dengan orang yang telah meninggalkanku.” Kata jujur.
Lalu aku pergi meninggalkan Mitaka yang terduduk lesu sambil terus mengucapkan kata maaf.

***

Sejak pertemuanku yang terakhir dengan Mitaka, dia tidak pernah lagi menghubungiku. Dan aku pun tidak pernah menghubunginya lagi. rasa sakit hati masih membekas hingga sekarang. Segala cara kulakukan agar dapat melupakan kenangan indah bersamanya. Aku memulai hobi baruku dengan membaca novel dan menonton dvd. Aku menonton drama korea hampir setiap hari agar perhatianku terlepas dari bayangan wajahnya. Aku hampir berhasil, namun datang penyakit baru. Hal itu malah membuatku hidup dalam khayalan.

Aku seperti makhluk tanpa jiwa. Melakukan segala hal tanpa menyadarinya. Makan, tidur, berangkat kuliah. Semua kulakukan, namun sekali lagi tanpa sadar. Seperti robot itulah aku. Terkadang aku merasa hidup tak ada artinya lagi. Ingin rasanya pulang ke kampung halaman. Tapi tak mungkin kulakukan. Orang tuaku pasti langsung membunuhku kerena memutuskan beasiswa kuliah ini.

Aku bisa saja berpacaran dengan orang lain dan melupakan Mitaka. Tapi saat ini belum ada yang bisa membuka hatiku. Jujur, sejak Mitaka meniggalkanku aku terlalu menutup diri. Sepertinya, bahkan aku tidak bisa merasakan cinta lagi. Namun, aku tetap berharap. Semoga aku bisa bertemu dengan pangeran impianku. Seperti kisah cinta yang romantis, cerita cinta yang ada di drama korea.

Sebenarnya ada seorang pria yang mengejarku. Sepertinya dia menyukaiku. Pria itu tampan, badannya atletis dan memiliki kulit yang putih. Matanya coklat, Namun aku tidak menyukainya. Mungkin karena aku masih dalam keadaan patah hati. Tapi, pria itu juga memiliki sifat humoris yang membuatnya menjadi kekanak-kanakan. Dia selalu mengikutiku. Mencoba akrab denganku. Padahal aku selalu mengacuhkannya. Namun dia tidak pernah jera. Dia selalu mengirimku bunga di bangku kuliahku bahkan mengirim coklat dan puisi romantis ke dalam lokerku. Aku tidak suka cara dia mencintaiku.

“Hai, Yuki-chan! Nih aku bawain brownis buatan ku sendiri loh. Mau?” kata pria itu riang sambil menyodorkan tempat bekalnya kepadaku.

Aku yang sedang membaca buku sambil mendengarkan musik dengan earphone, hanya diam tanpa menoleh ke arahnya. Melihat reaksiku yang cuek, dia tetap riang berusaha.

“Tidak suka ya? yah… padahal aku sudah membuatnya. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? hmm… jadi kau suka kue apa? Biar aku buatkan.” Tawarnya ramah.

Aku memutar kedua bola mataku, lalu dengan kasar aku menutup bukuku, melepas earphone, dan menatapnya.

“Aku mengucapkan terima kasih, namun kau tidak perlu repot-repot, Kim Haje-san!” kataku kasar lalu pergi meninggalkannya yang masih terbengong.

“Kau memang penuh kejutan, aku semakin penasaran denganmu. Mengapa kau begitu penyendiri?” kata Haje pelan sambil memperhatikan Yuki yang pergi meniggalkannya.

***

Aku pergi ke swalayan terdekat untuk membeli persediaan makanan yang mulai habis. Musim dingin 
pertamaku di Jepang membuat aku terpaksa membaluti tubuhku dengan pakayan dan syal yang tebal. Sambil menunggu antrean membayar belanjaanku, aku melihat sekeliling sambil mengusap-usap kedua tanganku. Aku menyesal karena lupa memakai sarung tangan. Setelah ku perhatikan ternyata banyak sekali pasangan yang datang ke swalayan ini. Si pria dengan sigap membawakan belanjaan untuk kekasihnya. Melihatnya membuatku iri. Tiba-tiba ada suara yang tak asing menyapaku dari belakang.

“Yuki-chan?” sapa wanita yang pernah bersahabat akrab denganku itu.

Aku membelalakkan mata kaget. Kulihat tangan Keiko sedang bergelayut manja menggandeng  Mitaka yang hanya diam tertunduk. Dasar lelaki berengsek! Mulut buaya! Pikirku kesal. Aku mencoba bersikap biasa dan mulai menguasai kembali diriku.

“Oh, Keiko-chan! Lama tidak bertemu.”

“Benar. Kau belanja sendirian?” katanya setengah mengejek sambil celingkukan kesana-kemari.
Aku baru mau membuka mulut. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Maaf membuatmu menunggu.” Kata lelaki yang tak asing itu dengan lembut, lalu merangkul pundakku kemudian menatapku dengan mesra.

Aku membelalakan mata. “Haje-san?” kataku perlahan.

“Pacarmu? Selera yang bagus.” Kata Keiko sinis. Tanpa mengungguku menjawab dia menarik Mitaka dan membawanya pergi.

***

Aku berjalan menuju flat ku bersama Haje. Aku tidak memintanya, namun dia terus mengikutiku. Sepulang dari swalayan tadi, kami hanya diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku merasa harus keluar dari suasana yang tak enak ini.

“Terima kasih telah menolongku dari rasa malu tadi.” Kataku tulus.

Haje menghembuskan nafas. “Kurasa kau tak mau bicara padaku. Setelah lama aku menunggu, akhirnya kau membuka mulut juga.” Katanya riang sambil menebarkan cengiran jailnya kepadaku.
Wajahku memerah. Aku hanya tersenyum dan menatap langkah kakiku berjalan.

“Yang tadi itu mantan mu kan?” tanyanya hati-hati.

“Benar. Dan di sebelahnya adalah sahabatku.” Kataku sambil melamun dan terus menatap jalan.

“Jadi? Dia dan sahabatmu…”

Belum sempat Haje menyelesaikan kalimatnya, Aku langsung memotongnya. “Benar. Mereka pacaran. Dan aku yang telah di campakkan pria itu.”

“Kurasa dia telah salah mengambil keputusan.” Kata Haje santai.

Aku mengkerutkan kening tanda tak mengerti.

Seperti membaca pikiranku, Haje melanjutkan kaliamatnya. “Dia meninggalkan mu demi wanita kecentilan seperti itu. Bukankah dia bodoh?”

Aku tertawa. “Bukankah semua lelaki menyukai wanita yang agresif?”

Haje melotot. “Tidak. Tidak semua. Kau salah. Aku tidak menyukai wanita seperti itu.” Katanya jujur.

“Jadi kau suka wanita seperti apa?” tanyaku geli.

Haje berhenti lalu menatap bola mataku. “Wanita dingin sepertimu.”

Aku kembali menatapnya tak percaya.

“Lagi lagi ekspresi seperti itu. Sudah jangan dipikirkan. Anggap saja aku salah bicara.” Lalu Haje melanjutkan langkahnya. Kami kembali hening hingga sampai di depan gedung flat ku.

“Terima kasih telah mengantarku.” Kataku tulus sambil membungkukkan badan.
Haje membalas membungkukkan badan juga. “Tidak usah sungkan.”

Lalu ketika aku melangkah masuk. Tiba-tiba Haje menarik lenganku.

“Yuki-chan, tunggu”

“Ya?” tanyaku heran.

“Besok malam aku besama band ku akan tampil. Kau bisa hadir di sana?” tanyanya penuh harap.
Aku mengangguk menyakinkan sambil tersenyum manis, lalu kembali masuk. Terlihat sekilas olehku, senyumnya mengembang senang sambil melompak kegirangan.

***

Aku memasuki sebuah gedung dimana Haje dan band nya akan bernyanyi. Ku lihat banyak sekali penggemar Haje yang berteriak histeris. Aku tak menyangka ternyata Haje adalah seorang bintang. Teriakan para penggemar semakin kencang ketika Haje naik ke panggung dan menyapa mereka semua. Aku melihatnya sambil tersenyum. Dan Haje juga ternyata melihatku. Dia tersenyum ke arahku. Lalu Haje menyanyikan lagu yang sangat menggembirakan. Membuat semua penonton berjingkat-jingkat heboh. Ternyata suara Haje sangat indah, pikirku sambil tersenyum.
Setelah menyanyikan lagunya. Haje menatapku dari panggungnya.

“Lagu terakhir yang akan saya nyayikan ini khusus saya buat untuk seorang wanita yang telah mencuri hati saya.” Mendengar pengakuan Haje semua penonton bersorak histeris. Wajahku pun mulai pucat.

Haje melanjutkan kalimatnya. “Wanita itu ada di sini sekarang. Saya tidak tahu sejak kapan saja jatuh cinta padanya. Yang pasti, setiap melihat wajah teduhnya. Saya selalu ingin melindunginya.”
Penonton kembali bersorak. Haje turun dari panggung dan berjalan ke arahku. Semua penonton menatap ke arah Haje dan aku dengan tatapan iri. Jantungku seketika berdebar dengan kencangnya.

Dan, kini kami saling berhadapan. Haje menatapku dan meraih sebelah tanganku. Sedangkan sebelah tangannya memegang microphone dan meletakkannya di mulutnya.

“Yuki-chan, maukah kau menerima hatiku dan menjadi wanitaku?” tanyanya mantap.

Tanpa sadar air mataku mengalir bahagia. Hatiku hampir meledak. Kakiku terasa lemas. Aku langsung memeluknya. “Terima kasih Haje, terima kasih telah membuatku jatuh cinta lagi.” Kataku berbisik.

Haje membalas pelukanku dengan erat. Dan semua penonton bersorak gembira. Aku merasa ini seperti mimpi. Betapa bahagianya aku hari ini. Aku tak menyangka pangeran yang selama ini aku impikan ada di depan mata. Dan aku pun percaya, Haje pasti akan selalu bisa membuatku terus bahagia.

***

Puisi "Dendam si Sulung"

Terdengar sayup-sayup rintihan
melodi tangis indah tertahan
duduk meringkuk si wajah lelah
mengusap dada menahan luka
goresan hati yang merasuki celah
kini telah lama mendarah

Tuhan,
tegarkanlah hatinya
dari cambukan orang tuanya
aku dengannya satu jiwa
perih sakitnya jua ku rasa

Bunda,
tunggulah sampai ku dewasa
bila nanti tiba
kan ku datang membawa emas
dan ku tunjukkan pada mereka
bahwa aku menggenggam bintang
masa depan kebanggaan

Ayah yang pergi berlayar
mengarungi gelombang
menitipkan pesan kerukunan
pada kita yang tertinggal

Tiada pernah aku termakan fitnah mereka
di lahirkan lewat rahimmu adalah suatu keagungan
dan aku bangga menjadi anak sulung
yang nantinya menjadi tulang punggung keluarga
walau aku hanyalah wanita

(Ini karangan aku sendiri dan mendapatkan nilai A+ loh dari guru bahasa indonesia ku :D)

Rabu, 04 Mei 2011

MENANAK NASIB

MENANAK NASIB
Ketika aku kecil melihat adikku yang sakit lalu di obati oleh dokter, kelak aku ingin menjadi dokter. Ketika aku kecil sedang naik pesawat untuk mudik bersama keluargaku, melihat betapa cantik dan ramahnya pramugari, kelak aku ingin menjadi pramugari. Dan ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, melihat besarnya jasa guruku yang sabar mengajari membaca, kelak aku pun ingin menjadi guru. Bahkan ketika aku kecil, melihat artis sinetron dan penyanyi yang terkenal di televisi, aku pun kelak ingin terjun ke dunia entertain. Maka, setiap orang dewasa atau orang tuaku bertanya, “Asuna, kalau sudah besar ingin jadi apa?” jawabanku pasti selalu berbeda dengan setiap orang yang bertanya. Kadang dengan bapak A aku menjawab ingin menjadi dokter, kadang dengan ibu B aku menjawab ingin menjadi guru, dan juga dengan Bibi C aku menjawab ingin menjadi penyanyi, begitulah seterusnya. Karena aku, si anak kecil yang tanpa dosa masih gampang terpengaruh dengan apa hal-hal yang ku lihat di sekitar.
Namun sekarang berbeda, aku yang kini sudah mulai beranjak dewasa malah bingung menentukan pilihan. Tiba-tiba saja aku enggan ingin menjadi guru, aku ternyata tumbuh besar dengan watak pendiam. Sedangkan menurutku, menjadi guru itu harus pandai menjelaskan, agar murid-murid menyukai pelajaran kita. Aku pun enggan ingin menjadi dokter, karena pekerjaan dokter yang besar tanggung jawabnya. Mempertaruhkan nyawa orang. Lagi pula aku pun pusing mencium bau darah. Jadi artis atau penyanyi? Wahhh… rasa percaya diriku pun lenyap ntah kemana. Jikalau jadi pramugari, syarat utamanya adalah mata tidak boleh rabun. Sedangkan aku sudah sejak lama memakai kacamata. Ntah kenapa aku mulai berputus asa. Berserah kepada nasib. Ku lihat teman-temanku, mereka semua memiliki cita-cita sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka semua pintar. Sedangkan aku, hanya berbekal otak pas-pasan.
Aku merasa mampu melakukan sesuatu, namun saat mencobanya. Sesuatu itu hilang bertelan malu. Dari kecil, aku hobi menyanyi dan menari. Kata orang-orang, suara aku bagus dan gerakan tari aku pun lincah. Sampai pernah aku ikut lomba nyanyi, dan juara 3. Tapi itu cerita masa kecil. Kini, hal itu tak terlihat lagi. mereka hanya berlomba-lomba mengadu otak bukan bakat! Aku pun merasa sedih dan merasa tak berguna. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tak ada satupun mata pelajaran yang bisa ku kuasai. Semuanya rata. Aku merasa kehilangan jati diri. Hampir setiap malam aku menangis. Menyesali mataku yang rabun tak berguna. Merasa Tuhan tidak adil.
Namun akhirnya, aku merasa sangan berdosa menyalahi apa yang sudah di berikan Tuhan. Lalu, aku bersujud kepada-Nya meminta arah tujuan. Setelah itu, aku katakana kepada ibu segala hal yang menganggu pikiranku.
“Bu, aku ingin mataku tidak rabun lagi… tolong bantu aku, Bu.” Pintaku pilu.
Ibu menatapku heran. “Kenapa tiba-tiba kau meminta hal seperti itu, Nak?” tanya ibu sambil mengusap lembut rambut panjangku.
“Aku merasa kehilangan arah, Bu. Aku takut masa depanku, cita-citaku tak bisa tercapai. Dimana-mana setiap orang memerlukan pekerja yang matanya sehat.” Tanpa sadar darah beningku meluncur dengan suksesnya tanpa aba-aba.
Ibu spontan menasehatiku dengan lembut, “Asuna… dengarkan ibu, Tuhan itu sudah merencanakan semua hal baik untuk umatnya sesuat dengan kemampuan mereka. Kau tak boleh putus asa seperti itu. Kau harus berusaha. Coba sekarang kau pikirkan hal apa yang kau sukai?”
Aku menghapus air mataku dan bangkit dari pangkuan ibu, lalu menatapnya. “Hal yang aku suka dalam hal apa, Bu? Dalam hal pelajaran?” tanyaku dengan alis mengkerut.
“Dalam hal apa saja.” Jawab ibu misterius.
Aku lalu diam sejenak dan berfikir.
Ibu tersenyum, lalu sambil hendak beranjak pergi. Beliau berkata lagi, “Hal yang membuat kau menjadi menyesal atau membecinya saat ini. Coba kau tunjukkan bahwa hal yang kau sesali itu bisa bermanfaat dan menemukan jalanmu.”
Aku hanya melongo mendengar perkataan ibu yang belum bisa ku tangkap itu.
Malamnya aku tak dapat tidur lagi. Namun kali ini bukan tak dapat tidur karena menangis. Melainkan karena terpikirkan perkataan ibu tadi. Selama ini hal yang aku sukai hanya membaca buku komik dan novel. Lalu hal yang membuat aku benci dan menyesal adalah… karena mataku yang rabun, dan tidak normal seperti orang lain.
“Coba kau tunjukkan bahwa hal yang kau sesali itu bisa bermanfaat dan menemukan jalanmu.”
Tiba-tiba sepenggal perkataan ibu yang tadi terlintas dalam benakku. Dan seulas senyum mengembang di bibirku. Ku raih buku diary-ku. Ku baca kembali. Lalu, ku nyalakan laptop dan mengetik dengan mengembangkan cerita yang ada di diary-ku. Aku pun merasa seperti hidup kembali.
Sejak malam itu, aku rajin menulis cerpen dan langsung mengetiknya di laptop. Namun, aku bingung harus kemana cerpen ini ku bawa. Agar aku tahu sampai mana batas kemampuanku dalam membuatnya.
Dan hari itu, ketika temanku membeli Koran Sijori Mandiri karena ada fotonya di muat sebagai model. Aku pun meminjamnya. Ternyata dalam Koran itu ada alamat email redaksinya jika ingin mengirim cerpen atau puisi dan pantun. Ini dia! Pikirku. Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi ke warnet dan mengirimkan salah satu cerpenku yang berjudul ‘’Sahabatku Usil”. Lalu aku berdoa, semoga dapat di terbitkan.
Seminggu kemudian, aku mendapat telepon dari redaktunya. Ternyata do’aku terkabul! Cerpen aku pun di muat. Lalu bapak redaktur itu meminta izin untuk mengubah judulnya menjadi ‘’Sohibku”. Tentu saja dengan senag hati aku mengizinkannya. Beliau juga memujiku sebagai penulis remaja yang berbakat. Aku senang sekali. Itulah cerpen pertamaku yang di terbitkan. Hal itu aku beritahu kepada kedua orang tuaku, wali kelas, dan guru pembimbing bahasa indonesiaku disekolah. Mereka semua tak lupa mengucapkan selamat kepadaku.
Mulai saat itulah, aku mulai ‘terlihat’ di depan semua orang. Aku merasa ada sesuatu yang lebih yang aku punya. Aku tahu sekarang jalan mana yang bisa aku tempuh. Aku kembali bersemangat kembali dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan. Aku pun mengerti maksud perkataan ibu kemarin. Memang benar apa yang ibu bilang. Aku bisa tunjukan, karena mataku yang rabun ini karena banyak membaca novel maka menulislah bakatku yang terpendam sebenarnya. Terima kasih ibu. Kaulah pemberi inspirasiku. Pengangkat semangatku. Mengajariku banyak hal. Membuatku ‘terlihat’. Sehingga bisa di banggakan.
Dan aku pun di ajak apabila ada acara lomba cerpen, walaupun belum menang. Aku juga di ajak ke acara seminar sastra. Hingga ke acara bengkel sastra penulisan cerpen kemarin, membawa cerpenku termasuk dalam cerpen remaja dari sekolah lainnya yang akan di bukukan dan di terbitkan. Betapa bahagianya aku bisa menghasilkan uang dari hasil usahaku sendiri. Apalagi cerpenku yang kedua berjudul “Dendam Anak Sulung” sudah di terbitkan lagi di Koran Haluan Kepri. Hampir semua guruku mengetahui hal itu. Sepertinya mereka bangga. Hingga berkata kepada murid lainnya agar mencontoh aku yang mencantumkan nama sekolah dalam biodata ketika cerpenku di muat. Penghargaan itu takkan aku lupakan.
Memang benar kata orang, nasib mu akan berubah jika kau mau berusaha sekuat tenaga. Hal yang baik pasti akan di bantu Tuhan. Seperti layaknya menanak nasi. Beras yang mentah akan lama-lama masak menjadi nasi dan di makan untuk kebutuhan. Nasib pun begitu. hal yang tidak kita tahu, nasib akan merubahnya menjadi tahu jika kita mau berusaha mencari tahu. Bakat yang kita miliki, namun orang tak melihat dan tak mengetahui itu. Nasib akan merubahnya agar mereka dapat mengetahui dan melihatnya, apabila kita mau berusaha mengembangkannya.

***




Cerpen :


Penulis :
ANDINA FASHA
Xi ipa


SMAN-14 BATAM

Minggu, 13 Maret 2011

ANAK KANDANG

Suatu malam tak berbulan, sayup-sayup ku dengar rintihan tangis seseorang yang tinggal di depan rumahku. Ini bukan kali pertamanya ku dengar. Bisa di bilang, suaranya itu merupakan lagu penghantar tidurku. Suara itu milik Astuti, gadis kecil yang malang. Sampai usia dimana anak-anak menikmati indahnya masa kecil, namun ia tak pernah merasakan dunia luar. Langkah kakinya hanya terbatas sampai serambi depan rumah saja. Aku tau, mungkin yang sedang di tangisinya malam ini adalah karena kesepian. Astuti lebih banyak bersama pembantu dan boneka beruang kesayangannya, dari pada bersama kedua orang tuanya yang sibuk mencari nafkah. Pernah suatu hari ku bertanya kepada ibu.

“Bu, kenapa Astuti dilarang bermain diluar oleh Bi Inah?”

“Astuti memang dilarang orang tuanya, karena ia menderita penyakit jantung dari kecil.” Jawab ibu sambil mencuci piring tanpa menoleh ke arahku.

“Tapi aku ingin sekali bermain dengannya, Bu.” Rengekku manja.

“Kau bermain sajalah dengan yang lain. Teman kan banyak. Ibu tidak mau, kau nanti malah mengganggu penyakitnya.” Lalu ibu menatap ku lekat-lekat. “Sudahlah, kau pergi bermain saja, ibu mau bersih-bersih.”

Aku pun mengangguk dan berjalan ke arah luar. Pikiranku masih tak mengerti dengan ucapan ibu tadi. Separah apakah penyakit Astuti itu? Apa tidak bisa hanya di beri obat dari dokter saja, seperti yang sering ibu lakukan di saat aku sakit. Sampai-sampai Astuti tidak boleh bermain di luar. Aku pun berjalan melewati rumahnya, ku lihat Astuti bermain boneka sendirian di serambi depan. Ketika aku berhenti melihatnya, dia pun melihatku dengan senyum. Ada rasa iri yang sangat mendalam dari sudut matanya, ketika ia melihatku bisa keluar bermain dengan bebasnya. Kebetulan tak ada Bi Inah di sampingnya, aku pun berjalan menghampiri pagar rumahnya.

“Kok kamu sendirian? Mana bibi?” Tanya ku penasaran.

“Bibi lagi masak, kamu mau kemana?” Tanya baliknya, sambil memasang senyum.

“Aku mau ke lapangan, mau main petak umpet bareng teman-teman di sana. Kamu mau ikut?” ajakku semangat.

Astuti diam dan tertunduk. Lalu, pelan-pelan ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum samar. 
“Maaf, aku tidak boleh keluar.”

“Kenapa?” tanyaku kecewa.

Astuti tak menjawab. Dia hanya terseyum.

“Ya udah, tidak apa-apa. Tapi lain kali kamu harus ikut ya!” pintaku kemudian.

Astuti ragu sejenak, lalu ia mengangguk sambil masih memasang senyum tulusnya.

Tiba-tiba ku dengar Bi Inah memanggil namanya untuk minum obat. Dan Astuti pun langsung berlari masuk meninggalkan aku yang masih terpaku.

Esok harinya, aku pergi ke rumah Astuti. Aku katakan pada Bi Inah bahwa aku ingin bermain dengannya. Bi Inah memperbolehkan, asal mainnya di rumah Astuti sendiri. Aku senang sekali, begitu pula Astuti. Setiap hari aku ke rumahnya. Kami bermain boneka, rumah-rumahan, dan main congklak. Kadang Bi Inah juga ikut bergabung dengan kami. Waktu aku saat bermain bersamanya tidaklah lama. Saat sedang asik, tiba-tiba Bi Inah menyuruhku pulang, karena Astuti yang harus istirahat. Dia tidak boleh kecapekan. Sehingga besok aku baru boleh bermain dengannya lagi. 

Begitulah seterusnya. Namun, hal itu tidak menjadi kendala. Astuti selalu ceria saat kami bermain bersama maupun saat aku hendak pulang ke rumah. Dan ketika esok aku datang kembali, senyumnya langsung mengembang. Sepertinya dia sangat menantikan kedatanganku. Dan selama itu juga, tak pernah sekali pun lagi aku mendengar tangis Astuti di larut malam.

Tapi, tiba-tiba hari ini ketika aku memanggil namanya dari luar pagar tak satupun yang menyahut. Astuti tidak langsung datang menyambutku dengan ceria seperti biasanya. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Setelah lelah aku memanggilnya dan tetap tak ada jawaban, aku pun pulang dengan lesu. Esok hari, aku memanggilnya lagi, namun tak ada jawaban. Begitu pula hari-hari berikutnya, rumah itu tetap diam. Tapi aku tak pernah berputus asa, aku tetap memanggilnya untuk mengajak bermain. Hingga seminggu pun berlalu. Rumah Astuti masih kosong. Tak sabar, aku pun menanyakan kepada ibu tentang hal itu. Barangkali ibu pernah mendengar kabar tentang Astuti.

“Kata orang-orang sekitar, pernah satu malam Astuti tak sadarkan diri. Sehingga ia di bawa oleh orang tuanya ke rumah sakit hingga sampai saat ini masih dirawat.” Jelas ibu sambil menyiram tanaman. Seperti biasanya, saat bicara ia tak menoleh ke arahku.

“Kenapa ibu tak pernah menberi tahuku?” kataku kesal.

“Kau saja baru tanya sekarang.” Jawab ibu cuek.

“Aku ingin pergi melihatnya, Bu.” Pintaku memelas.

“Kau boleh saja melihatnya, tapi kan kita tidak tahu dimana Astuti di rawat. Orang-orang sini pun juga tidak tahu. Lebih baik sekarang kau berdoa saja agar ia lekas sembuh.” Kata ibu lembut sambil memengang pundakku dengan kedua tangannya.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan telah berlalu. Astuti belum juga pulang. Rumahnya tetap bergeming. Setiap aku melewati rumahnya, ada rasa rindu yang memanggil. Aku begitu mengkhawatirkannya. Aku ingin ia cepat pulang dan bisa bermain bersamaku lagi. tiba-tiba sebuah moobil sedan hitam berhenti didepan rumah Astuti. Hatiku langsung berdebar. Mataku membulat melihat siapa gerangan yang mampir kesitu. Akankah itu Astuti? Badanku lemas seketika, ketika yang ku lihat hanya Bi Inah dan kedua orang tua Astuti yang ada. Rasa penasaran membakar dalam tubuhku. Mengapa Astuti tidak datang bersama? Cepat-cepat aku berlari dengan kaki telanjang ke arah rumahnya. Lalu ku sapa Bi Inah yang sedang sendiri diluar mengangkati barang dan ku sampaikan maksudku.

“Bi, mana Astuti?” tanyaku langsung dengan harap-harap cemas.

Tak seperti biasanya, Bi Inah diam dan tertunduk lesu. Matanya tampak berkaca-kaca. Aku makin gelisah. Lalu Bi Inah mengeluarkan sepucuk surat dari kantongnya dan di sororkannya surat itu kepadaku. Aku menatapnya heran. Lalu seperti dapat membaca pikiranku, beliau mengangkat suara.

“Itu dari non Astuti.” Katanya pendek. Lalu Bi Inah pergi meninggalkan aku yang masih menatap heran.

Aku pulang dengan raut wajah yang pucat. Tanganku masih terasa gemetar memegang erat surat itu. Ibu yang melihatku berdiri di ambang pintu dengan wajah ketakutan langsung datang memelukku. Darah bening langsung mengalir deras ke pipi mungilku. Ibu lalu mengusap-usap lembut rambutku dan mempererat pelukannya. Dan semenit kemudian terdengar olehku suara mobil jenazah berkumandang menuju arah rumah tetangga depanku. Orang-orang pun juga ramai berkunjung ke rumah itu. Suasana duka pun kini menyebar.

Dari : Astuti
Kepada : Tika
Maafin Astuti ya, Tika. Tuti tiba-tiba tidak bisa bermain lagi dengan Tika. Tuti juga tidak memberi tahu kalau lagi sakit, karena Tuti takut nantinya Tika tidak mau main bersama lagi. Tuti senang sekali bisa punya sahabat seperti Tika. Tadi, Tuti dengar katanya Bi Inah mau pulang lihat rumah, makanya Tuti titip surat ini untuk Tika. Do’ain ya semoga Tuti cepat sembuh dan kita bisa bermain lagi.

***

Senin, 07 Februari 2011

SEOUL, I’M COMING

Pengunjung toko buku tampak ramai hari itu, karena pemilik toko sedang mengadakan diskon besar-besaran. Para penjaga kasir pun menjadi kewalahan karena antrian yang panjang. Mereka juga harus cepat dan teliti. Dalam antrian tersebut, ada dua orang wanita yang sedang menunggu. Keduanya masing-masing membawa belanjaan buku mereka, tetapi salah satu dari mereka membeli banyak sekali buku sampai hampir menutupi wajahnya, wanita itu memegang dengan kedua tangannya. Dia berdiri dengan tenang. Wanita itu memakai kacamata, kulitnya putih dan bersih. Rambutnya panjang kecoklatan. Dia memakai baju kaos dan celana jins panjang. Penampilannya begitu sederhana, sedangkan wanita yang satunya lagi hanya membeli beberapa buku. Penampilannya sangat modis sesuai trend. Rambutnya pendek hitam. Dia tampak gelisah menunggu dalam antrian yang panjang. Berulang kali matanya menatap jam ditangannya. Sepertinya kedua wanita itu adalah teman. Tampak mereka berbincang-bincang akrab.

“La! Lo yakin mau beli buku itu semua dengan segini banyaknya?” Tanya wanita modis itu kepada teman dibelakangnya hanya untuk menghilangkan kejenuhannya. Wanita yang ditanya bernama Dela itu hanya mengangguk. Tidak puas dengan jawaban temannya itu, dia mengoceh lagi. “Buat apa sih buku bahasa Korea semua yang lo beli? Emang kebaca apa? Kita kan gak ada pelajarannya juga disekolah.”

Dela menghela nafas, “Aduh, Ella! Kamu itu bawel banget sih…ya pasti kebaca dong! Kan udah aku beli! Lagian kayak kamu gak tau aku aja, aku kan emang suka sama Korea.”

“Iya deh…habis ini pasti lo mau beli kaset drama Korea lagi kan??” tebak Ella.

“Hehe…kamu emang sahabat baik aku,La! Tau aja…” jawab Dela malu-malu.

“Iya dong! Dalam kamus lo itu Cuma Koreaa ajaaa…gak ada yang lain, ada uang dikit beli kasetnya lah atau buku bahasanya lah, hmm…” goda Ella cengengesan.

“Hehe…udah tuh giliran kamu bayar.” Kata Dela mengalihkan pembicaraan.

***

Ketika mereka keluar dari toko buku dan berjalan menuku halte bus. Tampak dari kejauhan seorang wanita sedang memperhatikan mereka berdua. Wanita tersebut berjalan mengikuti langkah Dela dan Ela dari belakang sambil melihat belanjaan buku-buku bahasa Korea yang sedang dibawa Dela. Sepertinya wanita itu orang asing yang sedang mencari bantuan. Tanpa keraguan lagi, dia pun menyapa Dela.

“Jeogiyo, malsseum jom mureulgeyo.” (“Permisi, tumpang Tanya”. Sapa wanita itu dalam bahasa korea).

“Ne?” (“Ada apa, ya?” Tanya Dela).

“Blok M eun ajik meomnika?” (“Apakah blok M masih jauh?”).

“Blok M? iyo? Yeogi-eseo mani meomnida.” (“Blok M? Wah, itu jauh dari sini, Mbak.” Kata Dela heran).

“Geurigo yeogineun eodi-imnika?” (“Lalu, ini daerah apa?” Wanita itu tampak bingung).

“Yeogineun Depok-imnida. Geureonde eodi-e garyeogo hamnika?” (“Ini Depok. Memangnya Mbak mau pergi kemana?” Tanya Dela prihatin).

“Blok M Plaza-e garyeogo hamnida.” (“Saya mau ke Blok M Plaza”)

“Geureomyeon, yeogiseo naerisyeoseo yuksipsam beon beoseuro garathaseyo.” (“Kalau gitu, Mbak turun disini saja. Kemudian, Mbak naik bus nomor 63.” Kata Dela menjelaskan).

“Sigani eolmana geollimnika?” (“Kira-kira berapa lama ya sampai disana?”).

“Giri mani makhiji aneumyeon i sip bunceum geollimnida.” (“Sekitar 20 menit kalau tidak macet).

“Yogeumi eolmaimnika?” (“Berapa ongkosnya?” Tanya wanita itu lagi).

“Sa cheon ruphia imnida” (“Rp4000 saja.” Jawab Dela lagi).

“Gamsahamnida” (“Terima kasih.” Kata wanita itu senang sambil membungkukkan sedikit badannya).

“Cheonmaneyo.” (“Sama-sama.” Balas Dela tulus sambil membungkukkan sedikit badannya juga).
Lalu wanita Korea tadi pun pergi. Ella yang menyaksikan percakapan Dela dan wanita tadi pun tercengang. Dia tak menyangka temannya itu sangat lancar berbicara bahasa Korea. Diam-diam Ella pun mengagumi temannya. Ternyata tak sia-sia selama ini Dela membeli banyak buku dan kaset yang berbau Korea.

***

“Dari mana saja kamu?” Tanya seorang wanita setengah baya yang sedang berdiri diambang pintu menyambut kepulangannya Dela. Pandangan wanita itu seperti tak bersahabat. “Dari toko buku, Ma.” Jawab Dela pelan sambil menunduk, kemudian ia pergi menuju kamarnya.

“Anak mu itu loh, Mas! Selalu pergi! Jarang dirumah. Anak perempuan kok liar kayak gitu sih. Capek aku ngurus anak mu itu!”. Suara wanita setengah baya itu mulai meninggi.

“Sudahlah, Bu! Biarkan sajalah! Dia kan juga sudah besar.” Jawab ayahnya Dela dengan bijaksana.

“Tapi, dia selalu keluar membeli barang-barang yang tidak penting! Buku-buku dan kaset banyak sekali dikamarnya, buat apa semua itu! Kamu sih Mas! Selalu memanjakan dia! Anak kita masih bayi dan perlu banyak kebutuhan juga!” wanita itu tetap berbicara dengan suara tingginya.

“Sudahlah, Bu! Aku capek! Aku mau istirahat saja! Pusing aku!” DUAARRR! Terdengar suara ayah membanting pintu kamar. Wanita setengah baya tadi yang merupakan ibu tiri Dela pun lalu menangis.

Tak disadari oleh mereka, bahwa pertengkaran tadi terdengar oleh Dela dari balik pintu kamar. Dan kemudian, sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, darah bening Dela pun mengalir deras.

***

“Eh, La! Lo tau gak sih…tadi gue dengar-dengar Desy dapat beasiswa kuliah di UGM loh! Irfan juga tadi gue denger mau dapt beasiswa kuliah di ITB! Ih, enak banget ya mereka…” kata Ella membuka pembicaraan ketika mereka sedang duduk dikantin untuk makan siang sebelum pemantapan.
Senyum Dela mengembang, “Ya panteslah…kan mereka murid terpintar disekolah kita ini”.

“Iya sih…gue aja kalo udah lulus juga udah syukur.” Kata Ella lesu. “Oh, iya! Lo ntar pengen nyambung kemana?” Tanya Ella kemudian.

“Aku sih belum tau…mikir lulus aja dulu deh. Kalau kamu?” Dela juga Tanya balik.

“Yeee…gue sih sama! Cuma lo sebenarnya tuh pengen kemana?” Ella mulai kesel. Lalu dia meminum jus jeruknya.

“Hmm…kalau aku sebenarnya ingin sekolah di UI ngambil jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea, hehe…kalau kamu?”

Mendengar pengakuan temannya itu, Ella pun tersedak. “Hahaha…lo mimpi ya? masuk UI itu susah! Banyak saingannya! Desy dan Ifran yang pintar gitu aja gak bisa apalagi elo yang Cuma juara kelas aja! Hahaha” tawanya pun meledak.

Dela agak tersinggung. “Tapi aku mau berusaha dulu! Nasib kita siapa yang tau? aku coba buat ikut tes nya nanti. Kalau gak bisa, ya…gak papa. Yang penting kan udah usaha.”

“Ya deh buk…iya…jangan lesu gitu dong mukanya.” Kata Ella sambil menarik pelan rambut temannya itu.

“Hehe…kalau kamu emangnya pengen kuliah dimana?” Dela balik nanya.

“Gue sih mau ambil kelas modeling aja, soalnya gue pengennya jadi artis…” jawab Ella sambil melamun.

Kini gantian, Dela yang menertawai Ella dengan terbahak-bahak.

“Yee…lo kok ketawa sih?! Lagian gue juga tau diri, otak gue ini pas-pasan. Gak bisa dimasukin pelajaran lagi. Ntar gue juga sambil kerja.” Jelas Ella merajuk.

“Haha…iya deh iya.” goda Dela.

***

Ujian Nasional tinggal menghitung beberapa hari lagi. Perasaan Dela mulai gelisah dan takut. Sudah hampir sebulan dia tidak pergi ke toko buku lagi, karena dia sibuk mempersiapkan dirinya untuk belajar dirumah dengan giat. Sesekali dia membaca buku pelajaran sekolahnya dan sesekali juga dia membaca buku bahasa korea nya itu. Dari SMP, Dela memang meyukai segala sesuatu tentang Korea. Karena dia hobi menonton DVD drama Korea dan mendengarkan lagu-lagu Korea. Dela juga bercita-cita bisa bekerja di Korea Selatan dan tinggal disana.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dela. Ternyata ayahnya sedang berdiri didepan pintu kamar Dela yang sedang terbuka sambil tersenyum.

“Eh, Ayah…masuk aja, Yah.” Sapa Dela lembut kepada Ayahnya.

Ayahnya pun melangkah masuk dan duduk disamping meja belajar Dela. “Lagi belajar ya? Ayah ganggu tidak?” .

“Oh, udah selesai kok,Yah. Ada apa, Yah?” Tanya Dela bingung.

“Ayah cuma ingin ngobrol saja dengan kamu, kapan ujian lulusannya?” Tanya Ayah Dela membuka pembicaraan.

“Hari senin depan,Yah.” Jawab Dela lembut.

“Nanti kamu mau kuliah dimana rencananya?” Tanya Ayahnya lagi.
Dela terdiam, lalu sambil menunduk, pelan-pelan dia membuka mulut. “di UI, Dela ingin ngambil Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea,Yah”.

Ayahnya agak kaget. Lalu seyum tipis tersungging dibibirnya. “Kenapa bicara begitu pelan? Kamu malu mengatakannya?” Tanya Ayahnya sambil mengelus lembut kepala anaknya itu.
Dela hanya menunduk dan tersenyum.

“Kamu mirip sekali dengan almarhum ibumu…” kata ayahnya tiba-tiba sambil melamun.
Mendengar perkataan ayahnya itu, Dela pun mengangkat kepalanya dan menatap heran ayahnya.

Seperti bisa membaca pikiran anaknya itu, ayah pun melanjutkan. “Dulu, ibumu suka sekali dengan segala sesuatu tentang Korea. Dia berharap suatu hari, bisa menginjak Seoul. Dia juga pandai berbahasa Korea. Namun sayang, takdir berkata lain. Penyakit kanker menyerangnya hingga dia meninggal.” Tiba-tiba mata ayahnya pun berkaca-kaca. Dela tak berkata apa-apa, dia tetap mendengar cerita ayahnya sambil menahan tangis.

“Ayah yakin, suatu saat kamu bisa melanjutkan mimpi ibumu itu. Jadi, jangan menyerah ya,Nak.” Kata Ayahnya tulus sambil menepuk pelan pundak Dela dan beranjak pergi.
Dela tetap bergeming.

“Aza-aza hwaiting!” teriak ayahnya ketika berdiri didepan pintu kamar Dela.
Dela menatap wajah ayahnya itu sambil mengangguk dan tersenyum. Tanpa Manahan tangisnya lagi, Dela berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya erat. Sepertinya Dela sangat merindukan pelukan sang ayah. Diam-diam ibu tiri Dela melihat adegan itu dari kejauhan dengan tatapan marah.

***

Ujian Nasional telah usai, kini pengumuman kelulusan dibagikan. Semua muka siswa SMA 38 itu tampak pucat. Namun ekspresi itu telah hilang setelah 1 jam kemudian. Mereka semua bersorak-sorak gembira karena lulus 100% dan aksi coret-coretan pun dimulai. Tak ketinggalan Dela dan Ela berpelukan kegirangan sambil ikut coret-coretan bersama yang lainnya. Dan ternyata usaha Dela selama ini menbawa hasil yang memuaskan. Dia pun lulus dengan nilai yang tinggi. Tapi dia belum puas, karena ia harus ikut tes masuk universitas UI besok. Perjuangannya tinggal selangkah lagi.

***

Dela berlari-lari menuju rumahnya. Ia ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia akhirnya lulus dengan nilai yang memuaskan.

“AYAAAH!!! AKU PULAANGG!” teriaknya semangat. Namun langkahnya kemudian terhenti, lututnya terasa lemas. Didalam rumahnya banyak sekali orang-orang yang sedang bertakziah. Dela pun heran bercampur takut. Tiba-tiba seorang bibi tetangganya menghampiri Dela dan menatapnya iba sambil memeluknya, lalu ia berkata,”Sabar ya,Nak…ayahmu tadi meninggal karena kecelakaan “. Air mata Dela pun mengalir dengan derasnya, lalu ia berlari menghampiri mayat ayahnya dan menangis sejadi-jadinya.

“PAPAAA BANGUUNN! PAPA GAK BOLEH NINGGALIN DELA SENDIRIAN! HUHUHU”.
Semua orang yang menyaksikan kepedihan Dela pun turut sedih dan prihatin.

***

Dela baru pulang dari warung membeli mie instan. Tiba-tiba ia tercium bau asap. Takut terjadi apa-apa dia pun berlari kearah dapur. Namun, tak ada api yang berkobar disitu. Lalu dia berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Air matanya mengalir kembali, ternyata semua buku-buku dan kaset korea nya dibakar. Tampak ibu tirinya sedang menjatuhkan buku-bukunya ke dalam api.

“JANGAAAN!!!” teriak Dela. Lalu ia berlari menghampiri ibunya dan menarik 3 buku yang masih utuh tersisa dari tangan ibunya. Dan…PLAAKK! Sebuah tamparan meleset dipipi kanan Dela.

“Gara-gara kau! Suamiku meninggal! Hanya karena dia buru-buru pergi kesekolah kau untuk melihat kelulusan kau itu!” bentak ibu tiri Dela lalu ia meninggalkan Dela yang berdiri menangis sambil memegangi erat ke-3 buku korea nya yang tersisa.

***
Dela pergi kerumah Ella, dia menceritakan semua yang dilakukan ibu tirinya itu kepadanya sambil menangis. Dela diusir dari rumah. Dan satu-satunya tempat yang bisa dikunjunginya hanya rumah Ella. Sahabatnya itu hidup di Jakarta dengan tinggal dirumah kontrakan. Dela juga sudah tidak punya saudara lagi di Jakarta. Ella pun dengan tangan terbuka menerima kedatangan Dela. Dia pun siap menolong Dela dan mendengar curhatnya.

“Udah, lo sabar ya…ini mungkin cobaan, lo gak boleh nyerah! Besok lo harus ikut tes masuk UI. Jadi, jangan dipikirin lagi ya…” hibur Ella.

Dela pun menurut, dengan malas dia mengambil 3 buku korea nya tadi lalu membacanya. Sekarang dia tidak punya apa-apa lagi. Tabungannya hanya cukup untuk biaya masuk kuliahnya. Dia pun bertekad untuk mencari kerja sambilan juga.

***

Keesokan harinya, Dela sudah selesai mengikuti tes. Hatinya sedikit lega, karena dia sudah mengerjakannya dengan baik dan teliti. Lalu, Dela bertekad menemui Ella di kursus modeling nya, tapi niatnya diurungkan karena ia ingin mencari kerja sambilan saja.
Sudah 3 jam Dela berkeliling mencari pekerjaan, namun belum dapat. Ternyata mencari kerja sangat susah, pikirnya. Hampir putus asa, namun tiba-tiba ia melihat tulisan “MENCARI KARYAWAN WANITA” di sebuah minimarket. Semangatnya hidup kembali, dia pun bergegas masuk kedalam dan ingin mengajukan diri.

***

“Ella! Kamu dimana?” Tanya Dela ditelepon.

“Gue udah dirumah, kenapa?” lo kayaknya lagi happy gitu?hehe”.goda Ella disebrang sana.

“Aku dapat kerjaan,La! Jadi kasir minimarket! Lumayanlah,hehe…” teriak Dela kegirangan.

“Waahhh…selamat yaa! Hehe, gimana ujian tes nya tadi?” Tanya Ella.

“Lancar,La! Do’ain aja ya supaya aku diterima…” kata Dela senang.

“Pasti dong…” balas Ella yakin.

“Oke, sekarang aku pulang ya. Kamu belum makan kan? Mau dibeliin apa nih?” tawar Dela.

“Wahhh…kebetulan belum! Hehe, nasi goring aja deh!” jawab Ella kegirangan.

“Siipp…bye”

“bye…”

KLIK.

***

“Ellaaa…!!! Aku diterima di UI! Aku diterimaaa!” teriak Dela ketika ia masuk kedalam rumah sambil membawa Koran yang dibacanya.

“Apaan sih,Laaa…teriak-teriak? Gue masih ngantuk nihh…hoaammm…” kata Ella kesel.

“Kamu lihat ini! Aku diterima di UI! Ini nama aku! Lihat!” Dela tetap tidak perduli, dia menyodorkan Koran itu kepada Ella.

Dengan malas, Ella akhirnya nyerah dan bangun. Dia mengucek-ngucek matanya dan meraih Koran tersebut, lalu dilihatnya.

Mata Ella terbelalak kaget. “Waahhh…benar! Ini nama lo! Adela Presilia! Waahhh..selamat ya!” teriak Ella kegirangan, lalu ia pun memeluk Dela yang ternyata nangis bahagia.

“Ayo sekarang, lo harus traktir gue! Kita jalan-jalan! Mumpung ini weekend! Oke?!” pinta Ella tiba-tiba.

Dela pun tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu lalu mengangguk mantap.

***

Sudah hampir 1 semester, Dela sekolah di Universitas Indonesia itu dengan jurusan Bahasa dan Budaya Korea. Dia termasuk murid yang pintar dan disenangi para dosennya. Prestasinya terus meningkat. Dela sedang duduk dibangku taman kampusnya sambil membaca buku bahasa Korea nya. Tiba-tiba seorang dosen memanggil Dela. Dela pun berlari kecil menghampiri dosennya itu.

“Ada apa, bapak memanggil saya?” Tanya Dela sopan.

“Seorang dosen dari Korea Selatan datang ke kampus kita karena ada pertukaran pelajar. Tolong kamu sapa dia sebagai wakil dari siswa disini.” Pinta dosen tersebut.

“Baik, pak.” Jawab Dela sambil mengangguk. Lalu Dela dan dosen beranjak pergi untuk menghampiri tamunya.

“Annyeonghasimnikka!” (“Selamat siang, Bu!”) sapa Dela ramah kepada orang asing tersebut sambil membungkukkan badannya. Wanita itu tetap cantik walaupun setengah baya.

“Annyeonghaseyo! Ireumi mwoyeyo?” (“Selamat siang, siapa nama anda?”) Tanya wanita asing itu dengan ramah.

“Jeoneun Dela-imnida” (“Saya Dela”). Jawab Dela sambil membungkukkan lagi badannya.

“Geurekhunyo. Naiga eottoekhe dwenayo?” (“Oh, begitu. Berapa umurmu?”) tanya wanita itu lembut.

“Naneun yeolahopsarigo hangugeo hakwa daehaksaeng-ieyo.” (“Umurku, 19 tahun dan aku mahasiswa bahasa Korea”).

“Geurekhunyo. Hangukmaleul jal haneyo?” (“Begitu, ya, pantas kamu bisa berbahasa Korea”). Kata wanita itu kagum.

“Ne, jogeum hal su isseoyo.” (“Ya, sedikit) Jawab Dela malu-malu.

“Eonjebutheo han-gugeoreul baewosseoyo?” (“Sejak kapan kamu belajar bahasa Korea?”) Tanya wanita asing itu penasaran.

“Junghakkyottaebutheoyo.” (“Sejak SMP”).

“Eodi-eseo han-gugeoreul baewosseoyo?” (“Kamu belajar dari mana?”)

“Honja chaegeuro gongbuhaesseoyo.” (“Aku belajar sendiri dari buku”)

“Wa~” (“Wow!”) wanita itu menutup mulut dengan kedua tangannya, sepertinya dia kehabisan kata-kata karena begitu kagum dengan mahasiswa didepannya ini.

***

Malam harinya, ketika Dela sedang membaca buku dikamarnya. Tiba-tiba handphone Dela berbunyi.

“Hallo?” sapa Dela.

“Hallo? Ini benar dengan Dela?” Tanya seseorang disebrang sana.

“Iya benar, ini dengan siapa ya?” Dela nanya balik.

“Dela, ini pak Rizal, dosen kampus kamu.” Jawab suara disebrang sana.

“Oh, iya. Ada apa pak?” Tanya Dela sopan.

“Soal yang tadi siang, dosen Korea yang berbicara dengan kamu tadi, beliau ingin kamu menjadi salah satu delegasi dari Indonesia untuk mengikuti program ‘Youth Camp for Asia’s Future 2011’ yang diselenggarakan oleh pemerintah Korea Selatan di Seoul. Semua biaya ditanggung. Apakah kamu kamu?” jelas pak Rizal.

Jantung Dela berdetak sangat kencang mendengar hal itu. Air matanya pun menetes.

“Iya,pak. Saya bersedia.” Jawab Dela yakin.

“Oke, siap ya? nanti saya kabari kamu lagi.” kata pak Rizal tenang.

“Iya,pak. Terima kasih banyak.” Kata Dela tulus.

Air mata bahagia Dela mengalir dengan derasnya. Berulang kali dia mengucapkan kata syukur.

Ayah, Ibu…Dela berhasil! Dela akhirnya bisa ke Seoul…Dela bisa mewujudkan mimpi Ibu yang tertunda…Dela bahagia… teriak Dela dalam hati.

Tanpa berpikir lagi, Dela berlari ke luar kamarnya menuju kamar Ella untuk memberitahukan kabar gembira ini. Sahabatnya itu pasti juga senang.

“ELLAAAA!!!” teriak Dela riang.

***

Kamis, 20 Januari 2011

(naskah drama) METAMORFOSIS DINDA

Pagi yang cerah saat itu, saat embun belum lagi beranjak dari dedaunan, saat tukang bubur ayam belum lagi keliling mencari pelanggan, dan saat para babu pada siap-siap belanja kepasar. Disebuah koridor sekolah, tampak sekumpulan cewek-cewek centil sedang krasak-krusuk gelisah sibuk mencocokan dasi hasil rampokan dari anak-anak cupu tak berdosa kepada salah satu teman CS-nya, atau lebih tepatnya cewek itu adalah ketua dari geng mereka yang kononnya adalah geng terkenal di SMA-14 ini karena nyokap-bokap mereka yang tajir gila! Tapi kok setiap mau upacara seperti ini, ketua geng mereka selalu lupaaaa baea dasi! Do’I lupa atau emang gak mampu beli yaaa? Anyway, nama geng mereka adalah geng “Byuti”. Geng yang paling berkuasa dan ditakuti oleh anak-anak penghuni disekolah itu.

Abel : “eh, ini nih Din! Dasi nya si neneng dari kelas sebelah tadi habis gue rampas, coba deh pake yang ini?”

Dinda : “aduh,Abeeel ! lo gimana sih! Si neneng itu kan penjorok banget! Dia kan suka ngelap ingusnya pake tuh dasi! Liat deh,ada item-item gitu tuh disitu… (sambil menunjukan kearah dasi yang dimaksud) ihhh! Amit amit deehhh!”

Abel : (sambil mencampakkan dasi itu dari tangannya) “Iuhhhhh! Why you tell me about it now! That so crazy!”

Jessica : “kalo yang ini nih? Punya si Dadang.”

Dinda : “saraf kali ya lo! Jelas-jelas dasi si Dadang tuh gak pernah dicuci! Orangnya aja kumel kayak gak mandi gitu apalagi dasinya! Ogah deehh gue!”

Sesil : “gimana kalo dasi gue aja?” (sambil menunjukkan dasinya dengan tampang bloon).

Dinda : “emang gue bloon kayak lo apa! Tiap hari gue merhatiin kaliii lo sering lap keringat lo pake tu dasi! Kalo gue pake dasi lo ntar gue ketularan tulalit lo,tau! Ihhh”

Abel : “lagian ntar lo mau pake dasi apa blekok!” you’re so stupid, girl!”

Sesil : “ups…! (sambil mentup mulut dengan kedua tangannya) salah lagi deh gue”

Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi…
Kompakan ber-4 dengan ekspresi jijay sok imut : “AAAARRRRGGHH!!!”

Abel : (berteriak histeris) “Oh, my God! Can you hear that?”

Jessica : (sambil menjitak pelan jidat Abel) “Jidat lo ngadat! Lo bisa gak sih gak usah ngomong pake bahasa edan kenceng-kenceng! Gue gak tungkik kaleee!”

Dinda : “aduh aduh! Kok kalian sih yang pada ribut! Jadi gue gimana dong nih?”

Sesil : “elo sih! Cuma pake bentaran buat upacara doang pake milih-milih segala tuh dasi! Kayak mau kekondangan aja!” kata sesil judes.

Dan ketika itu, lewatlah dua cewek didepan mereka yang hendak turun kelapangan. Akal licik Dinda mulai terhubung. Dia pun berjalan mengikuti langkah salah satu cewek yang bejalan dipinggir itu. 

Lalu….

Dinda : (sambil menarik dasi punya cewek itu) “Okeeee! Dapeettt! Hahahaha”

Jessica : “yeeeee!!! Bagus Din!”

Abel : “goob job! Dinda”

Elsha : “kembaliin! Itu dasi punya Elsa!”

Dinda : “enak aja! Sekarang udah jadi milik gue!”

Rachel : “eh! Balikin gak tu dasi!”

Dinda : “hellowww… lo siapa? Gak usah ikut campur!”

Sesil : “dia ini murid baru disini Din! Gue baru inget”

Jessica : “oh, jadi lo anak baru disini? Lo belum tau lagi berhadapan dengan siapa sekarang? Hah?!”

Rachel : “gak! Gue gak tau dan gak mau tau!”

Abel : “idih! Pake ngelawan lagi nih anak! You will regret after know that, right?”

Jessica : “teman gue ini adalah anak ketua komite disini! Jadi lo jangan macem-macem kalo masih mau sekolah disini!”

Dinda : “dengar lo!” (sambil meninggalkan kedua cewek itu)
(theme song: Titi Kamal-Nasib Pembantu)

Dikantin saat semua warga SMAN-14 pada ngeroyokin caféus, biasalah memenuhi panggilan alam, but Geng Byuti malah asik mengatur aksi balas dendamnya. Dan mulailah mereka bercuap-cuap melebihi anak ayam yang ditinggal induknya.

Abel : “shitt! Kurang ajar banget tuh anak! Berani-beraninya tu anak ngelawan kita! Gak tau apa kita tuh siapa! Dia harus dikasih pelajaran tuh,Din! (sambil mondar mandir)

Dinda : (duduk terdiam sambil mikir)

Jessica : “Betul tuh! Enaknya kita apain yaa? Digoreng? Dibakar? Dicincang? Atau…kita rebus aja kalii yaaa?”

Sesil : “ahaaa! Gimana kalo kita goreng saos? Tapiii… Sesil gak suka pedes, Sesil sukanya yang manisss…kayak lollipop ini…” (sambil memegangi manja lolipopnya).

Jessica : “Seeessiiilll! Lo kira kita mau pesan menu dicafe apa?!”

Abel : “She right! We must seriously, you know?!”

Dinda : “Shut up! Mending kalian diem dehh! Ide kalian tuh kampungan tau gak semuanya!”

Sesil : “sorry…” (sambil pura-pura mengunci mulutnya)

Abel : “so, kita mau apain nih dia?”

Dinda : “taulah! Gue udah gak ada ide lagi, kalo gitu kita pake cara biasa aja”

Jessica : “maksud lo kita labrak dia gitu?”

Dinda : “ya iyalah! Habis otak gue udah buntu”

Sesil : “asyiiikk! Kita labrak orang lagiii…kita labrak orang lagiii !!! (sambil mendendangkan kata-katanya)

Dinda : “yaudahlah cabut yuk!”

Sesil, Jessica, Abel : “yuuukkkkk!”
(theme song : Cinta Laura - Oh,baby)

***

Dan sorenya, ditoko buku Rachel bersama Elsa dan Dewi sedang sibuk mengincar buku yang mereka cari sampai-sampai mereka terpisah didalamnya. Rachel yang membawa seabrek buku dengan kedua tangannya tampak kesulitan berjalan mencari teman-temannya itu untuk dimintai tolong. Dengan hati-hati berjalan sambil mengucapkan ayat-ayat cinta didalam hati (eh,salah ding! Ayat kursi kale), Rachel melayangkan pandangannya kesetiap sudut toko, tapi kayaknya makhluk yang dicari tak nongol juga batang hidungnya. Karena matanya yang sibuk mencari kesana-kemari, Rachel tak menyadari dia telah memasuki area lantai licin yang belum kering dipel ama mas-mas OB. 
Dan…”AAARRGGG!!!” sukses lah Rachel terjatuh dan mencium lantai. Semua buku yang dipengang tadi berserakan dimana-mana. Sambil mengaduh-aduh ria kerena kesakitan, 
Jeng…jeng..jeng!!! datanglah seorang pahlawan kesiangan, atau lebih tepatnya pangeran tampan yang ntah dari negeri antah-brantah mana menolong Rachel.

Aditya : “kamu gak papa?” (sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya kearah Rachel)

Dan seketika itu, bumi serasa berhenti, jantung Rachel berdetak lebih kencang dan Ia begitu terpana melihat wajah yang rupawan mempesona dihadapannya. (lagu glend friedly-Terpesona)

Rachel : “eh, hah? Iya-iya gak-papa-kok” (jawab Rachel salting sambil meraih tangan cowok itu dan dia pun berdiri)

Aditya mengumpulkan semua buku Rachel yang berjatuhan, sedangkan Rachel masih tetap berdiri bengong ditempat sambil menatap kagum cowok itu.

Aditya : “nih, bukunya” (masih dengan senyum menyodorkan buku kepada Rachel)

Rachel yang tadi bengong langsung salting

Rachel : “eh-i-iya, makasih ya” (sambil tersenyum malu)

Aditya : “lain kali hati-hati ya, oh iya kamu sendirian aja nih bawa buku segini banyaknya?”

Rachel : “hehe, aku bareng ama teman-teman aku kok tapi gak tau mereka dimana sekarang, mungkin ke toilet kali ya” (berkata masih canggung)

Aditya : “oh, gitu…eh iya, nama aku Aditya. Kamu?” (sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum sopan)

Rachel : (sambil meraih tangan Aditya) “Rachel…”

Tiba-tiba datang dua makluk perusak suasana yang lagi romantis-romantisnya ini.

Elsha : “eh,Wi itu Rachel!”

Dewi : “eh iya bener!”

Elsha dan Dewi : RACHELL!!! (berteriak sambil berjalan kearah Rachel)

Elsa : “maaf ya Hel, tadi Elsa ama Dewi ketoilet bentar, eh taunya rame jadi ngantri dulu.

Rachel : “Oh, iya- iya gak papa kok, tadi gue jadi kepleset nih gara-gara nyari kalian,hu” (sambil pura-pura merajuk), untung ada yang nolongin.”

Dewi : “hmm…jadi yang nolongin kamu, dia nih Hel?” (sambil menunjuk kearah Aditya dengan anggukan dan senyum menggoda).

Rachel gelagapan sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.

Rachel : “Eh,iya. Ini Aditya”

Dan berkenalan lah mereka disitu.

Aditya : “hmm…aku cabut dulu ya, buru-buru nih”

Rachel : “oke deh, sekali lagi makasi ya”

Aditya : “iya, nyantai aja. Oke, bye…”

Rachel : “bye…”

Dan pergilah cowok itu meninggalkan Rachel yang masih menatapnya dari belakang sambil tersenyum-senyum. Tak sadar dari tadi Elsa dan Dewi berbicara dengannya.
Cowok yang baik…Tuhan.. kapan ya aku bisa ketemu dengannya lagi?

Elsha : (sambil menepuk pundak Rachel) Rachel! Bengong pula dia!”

Rachel : (jadi salting karena kaget) “eh, apa Sha?”

Elsha : “dari tadi tuh Elsa nanya habis ini kita mau kemana lagi? Huh” (berkata dongkol).

Dewi : “iya nih, malah bengong pula. Sambil senyam-senyum lagi…hayoo…gak rela Aditya pergi ya?” (sambil menggoda).

Muka Rachel langsung merah kayak kepiting rebus Karena ketangkap basah.

Rachel : “ih, kalian ngomong apaan sih? Yaudah yuk kita pulang! Dan karena kalian tadi pergi ninggalin aku tanpa pamit, jadi kalian yang bawa sebagian buku ini.” (sambil membagi dua bukunya ketangan Elsa dan Dewi dan menghambur pergi)

Dewi dan Elsa : “Ih, CURAAANGGG!!!” (sambil mengejar Rachel)
(theme song: Sheila on7- sahabat sejati)

***

Hari ini hasil ulangan bahasa inggris dibagikan, kebetulan Rachel yang membagikannya karena disuruh guru tersebut. Dan saat ini Rachel sedang memberikan kertas ulangan geng “Byuti” yang sedang asiknya bergosip ditempat duduk mereka.

Rachel : “nih, hasil ulangan kalian…(sambil terseyum licik kearah Abel) dan buat lo Bel, congratulation ya Miss. Sok kebarat-baratan about your result” (dan Rachel pun melenggang pergi).

Abel : “yeah, that’s me! Thanks!” (berkata sombong, kemudian melihat nilai ulangannya dan terkaget-kaget lah dia) “WHAT? This is impossible!”

Jessica : “lo kenapa sih? Kayak kebakaran jenggot aja!”

Abel : “look at this! That’s not true!”

Dinda,Jessica,Sesil : (sambil melihat kertas Abel heran) “Oh,m-y G-o-d!”

Rachel : “kenapa Bel? Kertas lo kebakar ama bebek merah ya?” (sembil mengejek dari tempat duduknya)

Rachel, Dewi, Elsha tertawa terbengek-bengek.

Abel : “Iiihhhhh! Gue gak terima! Dia harus cepat kita kasih pelajaran,Din! Huh!”

Dinda : “oke, lo tenang aja. Ntar pas pulang sekolah kita geraknya.” (tersenyum sinis)
(theme song: lagu kotak-beraksi)

***

Ketika pulang sekolah, Rachel berjalan kearah Perpus untuk mengembalikan buku yang kemaren dia pinjem. Saat melewati koridor yang udah sepi, tiba-tiba geng “Byuti” yang emang sengaja nunggu menarik kasar tubuh Rachel kedinding.

Dinda : “eh,lo! Anak baru! Gak usah sok-sok an ya disini!”

Sesil : “hah, bener tuh!”

Abel : “iya! Baru dapat nilai bahasa inggris tinggi dikit aja belagu!”

Sesil : “hah, bener tuh!”

Rachel : “oh, jadi kalian beraninya Cuma keroyokan nih?” (berkata sinis)

Jessica : “Eh, diem lo! gue bilangin ya ama lo, lo tuh udah jelek, pendek, idup lagi! Gak usah bertingkah disekolah ini!” (sambil menjitak kepala Rachel)

Abel : “Yeah, that’s right! And we are perfectly! So, awas lo berani ngeledekin gue lagi!” (sambil menjitak juga kepala Rachel), gue setrika mulut lo!”

Sesil : “hah, emang siapa yang kusut bajunya ?

Dinda,Abel,Jessica : “SESIILLL!”

Jessica : “plis deh! 1 hari ini lo pinteran dikit napa?! Mending lo diem aja deh! Kita ini serius!”

Sesil : “ya maap…huh salah lagi deh”

Dinda : “dan elo! Kalo emang masih pengin sekolah disini, lo harus nurut ama perintah gue! Gue bisa aja dengan gampangnya buat lo keluar dari sekolah ini, NGERTI LO!

Rachel : “Lo kira gue takut ama ancaman kacangan lo!” (sambil mendorong tubuh Dinda).
Dan bertengkarlah mereka habis-habisan, saling menjambak, mendorong, memaki, hmpp…apa lagi ya?? Tiba-tiba datang Dewi dan Elsa. Teng tererengg terenggg….

Elsha : “BERHENTI! KALIAN JANGAN KEROYOKAN GITU DONG! KALO MAU, AYO KITA SELESAIKAN SECARA BETINA!” (sambil berkacak pinggang)

Abel : “shut up! Don’t ikut-ikut campur deh lo!” (sambil menunjuk kearah Elsa)

Dewi datang menghampiri sambil berlari-lari kecil diikuti oleh Elsa.

Dewi : “astagfirullah, istigfar teman-teman! Kalian sedang dikuasai setan!” (mencoba melerai)

Dinda : “Eh, lo emak-emak! Gak usah sok ceramahin deh!”

Dewi : “Rasulullah SAW. Pernah bersabda yang intinya kita gak boleh saling bertengkar karena itu 
perbuatan tercela dan diLAKNAT Allah swt! (berkata berapi-api sambil menunjuk-nunjuk)

Abel : (sambil mendorong tubuh Dewi hingga terjatuh) “alaahhhh! Gue gak butuh kotbah lo,tau!”

Rachel : “eh, santai dong lo!” (sambil mendorong tubuh Abel)

Sesil : “gak boleh dorong-dorong kata Allah!”

Dan mulailah mereka bertengkar kembali. Sedangkan Dewi duduk bersimpuh sambil memejamkan mata dan berkomat-kamit memegang tasbihnya. Dan ketika itu sebuah tepuk tangan yang dasyat nyaringnya menghentikan mereka…

Aditya : “Sudah puas bermainnya nona-nona?”

Spontan mereka semua melihat kearah sumber suara.

Dinda : “kakak? Ngapain lo kesini?”

Aditya : “gue disuruh mama ngejemput lo, karena mobil mau dipake” (jawabnya datar) gue tadi nyariin lo, eh ternyata ada disini. Ayo pulang! (kini suaranya membentak).

Dinda : “inget! urusan kita belum selesai!” (Dinda memandang tajam Rachel) “ayo,guys! Cabut!” (mengajak teman-temannya menghampiri Aditya)

Jessica : “awas lo!” (mendorong pelan Elsha).

Rachel memandang Aditya dengan perasaan yang bercampur aduk. Seperti menjawab pikiran Rachel…

Aditya : “lo Rachel kan?” (Tanyanya lembut sambil menunjuk kearah Rachel)
Yang ditanya malah bengong.

Dinda : “lo kenal kak?” (Tanyanya heran) dia inilah musuh aku disekolah.

Aditya malah mengacuhkan kata-kata adikknya.

Aditya : “wahh, kebetulan sekali. Ternyata kamu satu sekolah dengan adikku ya? dunia sempit sekali.” (sambil tersenyum)

Dinda : “udah, ayok pulang!” (sambil menarik tangan aditya ).
(theme song :Ungu-Terlanjur Cinta)

Rachel besama Elsa masih terbengong ditempat.

Elsha : “Hel, itu Aditya yang kemaren nolongin lo ditoko buku,kan?”

Rachel : “ya, dan dia ternyata kakaknya Dinda” (menjawab dengan tampang tanpa ekspresi).

Elsha seperti mengerti perasaan sahabatnya itu, lalu dia mengusap-usap pundak sahabatnya itu

Elsha : “sabar ya…udah yuk pulang”
Terasa keheningan, Dewi membuka mata.

Dewi : “loh, udah selesai ya perangnya?” (tampang polos masih keadaan bersimpuh).

Elsha : “yaelah…dari tadi malah. Lo tidur ya tadi? Yuk pulang” (sambil menarik tangan Rachel dan bejalan pergi)

Dewi : “hah? Iya ya?” (sambil bertopang dagu mikir) “nah, loh? Mereka mana?” (berdiri dan celingukan) “woyyy!!! Tungguuuu!!! (berlari mengejar)
(lagu reff Audi-Untuk Sahabat)

***

Dan dua hari kemudian, tepatnya dihari minngu. Didalam sebuah kamar, terbaring lemah seorang cewek sambil memegangi ponselnya. Kayaknya sih dia lagi nelpon orang gitu dehh…

Dinda : “kemana sih si Abel? Dari tadi gak diangkat!” (mengerutu)
Lalu terdengar suara disebrang sana.

Abel : “hello,Din? Whats up,baby?”

Dinda : “temenin gue kedokter yuk! Orang rumah pada pergi nih gak tau kemana, tenggorokan gue sakit banget dan kepala gue pusing”

Abel : “aduh,Dindaaa… it’s weekend you know? Sorry I can’t, I must going to Salon.”

Dinda : “please dong Bel…masa lo tega sih ama gue?”

Abel : “I’m very very sorry, hunny. How about Jessica? May be she can help you.”

Dinda : “okay, I wiil try, thanks!” (lalu Dinda menutup ponselnya dan mulai mengetik beberapa nomor)

Terdengar nada sambung disana

Jessica : “hallo, ada apa Din?”

Dinda : “Jess, tolongin gue kedokter yuk! Gue gak enak badan nihh”

Jessica : “tumben? Emang orang rumah pada kemana?”

Dinda : “bokap ama nyokap gue ke kondangan.”

Jessica : “kak Aditya?”

Dinda : “dia pergi bareng teman kuliahnya, aduhh tolong dong, lo jmput gue ya”

Jessica : “aduh, gue lagi jalan nih bareng Roland, hehe”

Dinda : “Kampret lu! Kirain mau nolong juga ampe nanya-nanya gitu! Tolonglah Jess, bentar doang… kalo gak lo Cuma….tut…tut…tut…halo? halo? Halo jess?”

Tiba-tiba telpon udah ditutup oleh Jessica.

Dinda :”KURANG AJAAAR…! Dasar Kuntilanak laut! Kucing garong saos mentega! Monyet bunting ketiban kardus!”
Mau tak mau Dinda nelpon Sesil yang rada bloon itu. Dia lalu memencet beberapa nomor dan meletakkannya ditelinga.
Belum sempat mau ngomong, si tante-tante operator udah merepet panjang lebar.
Nomor yang ada tuju sedang macet, silahkan menghubungi beberapa abad lagi..

Dinda : “SIALAN ! kemana sih mereka semua? Dibutuhin gak ada! Oke, gue bisa kok tanpa lo pada!”

Sambil sedikit mengiris kesakitan, eh gak ding! Salah. Emang mau mengiris Bombay apa! M-E-R-I-N-G-I-S! Dinda bangkit dari kubur, eh! Tempat tidur. Dengan jalan tersungkur-sungkur dia mengambil kunci mobil dan berjalan menuju garasi.
Setelah sampai di apotek dan membawa beberapa obat, Dinda berjalan perlahan-lahan menuju mobilnya. Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan semakin nyut-nyutan, semua pandangan buram seketika, dan tanpa aba-aba lagi, tubuh Dinda sukses terjatuh kejalan. Orang-orang disekitar hanya melihat kasihan, tak ada sebiji pun orang yang berani menganbil resiko menolongnya. Seperti tamu tak diundang, dan seperti hujan penuh berkah, kebetulan Rachel CS melewati tempat terbaringnya 

Dinda. Dari kejauhan, dengan siap sedia mereka cepat-cepat menghampiri raganya Dinda.

Dewi : “ya Allah…bukankah ini Dinda?” (sambil mengamati heran)

Rachel : “iya! Ya ampun…yok kita bawa ke klinik terdekat” (sambil mencoba mengangkat).

Dewi : “ayo ayo!” (menbantu Rachel memegangi tubuh Dinda).

Rachel : “aduh…berat. Eh,Sha! Lo kok diem aja sihh?! Bantuin dongg!”

Elsha : “ogah mah gue! Dia kan udah jahatin kita! Biar aja dia disini ampe mampus!” (sambil memeluk kedua tangannya didada)

Dewi : “astagfirullah alaziiiimmm…Elsa…sadar Sha! Dia kan teman sekolah kita.” (sambil mengelus dada).

Rachel : “iya, ntar kita yang berdosa membiarkan orang yang lagii kesusahan, ayolah Sha, kali ini aja.” (sambil memohon).

Elsha : “POKOKNYA GAK MAU!!! TITIK! KALIAN AJA SANA!” (membentak).

Rachel : “yaudah, kita aja yuk wi, kita bawa ke depan dikit cari taxi.” (sambil memapah badan Dinda diikuti dengan Dewi).

Dewi : “aduh aduh…berat banget…”

Rachel : “sabar,sabar, dikit lagi.”

Elsha yang melihat kedua temannya itu kesusahan itu, pun akhirnya luluh juga. Dia berlari memanggil taxi kemudian membantu mengangkat tubuh Dinda dengan dibarengi tatapan haru Rachel dan Dewi.

***

Sesampai diklinik terdekat. Rachel terduduk lesu menunggu panggilan dokter. Lewat handpone Dinda yang tertinggal disakunya, Rachel sudah menghubungi keluarga Dinda yang saat ini sudah dalam perjalanan. Sedangkan Elsa tampak mondar-mandir gelisah. Melihat tingkah temannya yang kayak setrikaan itu, Dewi jadi naik pitam.

Dewi : “aduhh,Elsaaa….! Lo bisa gak sih duduk diam aja disini.” (berkata lembut).

Elsha : “gak,bisaaa,wiiii!! Gue khawatirr! Ampe sekarang dokternya aja belum kelar meriksa si 

Dinda. Padahal kan tadi Cuma pingsan, mana keluarganya belum ada yang datang seekor pun lagi, huh.” (masih sambil mondar-mandir).

Dewi : “yaudah…mending kita berdoa aja disini biar gak terjadi apa-apa ama si Dinda, ayok berdoa mulai! Yasiiiinnn…” (sambil mengangkat kedua tangannya)

Elsha : “Eh, KAMPRET LUU! Emang si Dinda udah mati apa?!”

Dewi : “eh, iya! Salah ya? Ulang-ulang! Bismillahirahmani rahim, allahulaila hailla huwal hayyum qayyum…”

Elsha : “ya elaahhh! Lo kira kita lagi digua hantu apa mau ngusir sitan?!”

Rachel : “udah, udah…kalian ini apa-apain sih?! Kita lagi dirumah sakit, gak boleh berdebat gitu, mending kita berdoa aja didalam hati,oke?!”

Dewi : “iya-iya maaf”
Dan mulailah mereka berdoa dalam hati masing-masing sambil menunduk dan memejamkan mata. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.

Aditya : (sambil menepuk bahu Rachel dari samping yang sedang terpejam ditempat duduknya) “hai, udah lama nunggu ya?”

Rachel : ( gelagapan) “Eh,iya. Maaf kak ketiduran”

Aditya : “eh,gak-papa-gak-papa, thanks ya udah mau nolongin Dinda, kalo gak ada kalian, kakak gak tau deh apa yang akan terjadi.”

Rachel : “i-iya kak, itu Rachel hanya kebetulan lewat aja kok tadi, (sambil celingukan), hmm…kakak sendiri? Mana orang tua kakak?”

Aditya : “iya kakak sendiri, orang tua kakak lagi diluar kota ngurus bisnis keluarga.”

Rachel : (mengangguk-angguk paham), hmm…”

Tiba-tiba seorang dokter keluar menghampiri mereka. Dan bertanya kearah Rachel.

Dokter : “anda keluarga dari saudara dinda?”

Rachel : “bukan,dok. Saya teman sekolahnya.”

Dan aditya langsung menyela.

Aditya : “saya, kakaknya, dok!”

Dokter tersebut mengamati sejenak wajah aditya dibalik kacamatanya.

Dokter : “mari ikut keruangan saya (lalu beralih menatap Rachel), dan saudara Dinda bisa kalian 
lihat, karena beliau sudah siuman”

Aditya mengikuti langkah dokter tersebut, sedangkan Rachel Cs berjalan menuju ruang rawat Dinda. 

Ketika masuk, mereka sudah disambut dengan senyuman ramah Dinda.

Rachel : “hai,Din! Gimana? Udah enakan?” (menarik kursi dan duduk disamping ranjang Dinda diikuti kedua temannya).

Dinda : “hmm. Iya (sambil mengangguk), thanks ya udah mau nolongin gue.”

Rachel : “iya-iya, eh mana teman-teman lo? Mereka udah tau kan lo disini?”

Mendengar pertanyaan itu, Dinda langsung tertunduk diam menatap bantal yang dipeganginya. Tampak raut sedih diwajahnya. Rachel yang menyadari hal itu, langsung menatap kedua temannya sambil mengangguk kepala tak mengerti.

Dinda : (sambil tertunduk lesu) “gue gak tau, mereka sibuk ama urusan masing-masing”
Rachel,Elsha,dan Dewi tertunduk diam prihatin.

Dinda : (tiba-tiba menangis) “gue…gue…minta maaf ya ama lo semua atas perlakuan gue yang jahat ke elo”

Rachel mengusap punggung Dinda.

Rachel : “sstt! Udah udah, gue udah maafin lo kok dari kemaren, gue gak ada benci ama lo…ya kan, wi?”

Dewi : “ya, saling minta maaf itukan termasuk perbuatan terpuji…”
Kini Rachel menatap ragu kearah Elsha. Dengan hati-hati ia bertanya.

Rachel : “Sha?”

Elsha : “hmm…emang sih selama ini lo udah keterlaluan… tapi, gak ada salahnya kan gue memberi lo kesempatan buat nebus semuanya”

Mata Dinda pun berbinar-binar senang.

Dinda : “makasii ya…makasiii bangett…” (dan berpelukanlah mereka ber-4)
(theme song : nidji – arti sahabat)

Pagi harinya keajaiban dunia terjadi, dinda berjalan berdampingan bersama musuh besarnya. Siapa lagi kalau bukan RACHEL ! semua mata tertuju kepada mereka, terutama geng Byuti. Mereka melongok layaknya orang terhipnotis. Perasaaan heran, marah, bingung udah campur aduk kayak pecel. Seketika geng Byuti langsung melesat bak petir ke arah dinda. Dan sejurus pertanyaan langsung tertuju kepada dinda.

Abel : “dinda ! what are you doing with her ? tell me now !”

Jessica : “iya, kok bisa lo ma dia ?”

Sesil :” iya neh, kok pergi sama mereka nggak ngajak-ngajak kami. ( dengan muka sebel)”

Abel, Jessica: “Shut up, sesil !”

Sesil : ( langsung diam)

Dinda : “emang ne semua penting buat lo lo pada ?”

Abel :” of course ! so tell me now.”

Dinda :” oh, ne penting buat kalian ya ? tapi kalau gue minta lo nemenin gue ke rumah sakit, nggak penting ya ? oh thank’s God, gue baru sadar kalau hal sepele gene baru penting menurut kalian !”

Jessica : “apa sih maksud lo ! gue nggak ngerti.”

Dinda : “asal kalian tahu ya! Kemarin tu gue masuk rumah sakit, and gue bersumpah kalau kalian nggak ada satu pun yang tau! Kalian tu lebih mentingin diri kalian sendiri tau nggak ! “

Abel :” lo masuk rumah sakit babe ? I’m sorry, I don’t know.”

Dinda : “nggak tau? Bagus ! ( berlalu pergi dan berhenti sebentar ) dan satu hal lagi, di saat tu yang nolongin gue malah musuh gue sendiri !”

Jessica : “dia ! ( menunjuk rachel)”

Dinda : “iya, jelas!”
(theme song : five minutes – salah apa )

Dikantin, geng Byuti berkumpul dan membahas masalah yang tadi terjadi. Tampaknya mereka merasa bersalah karena telah menelantarkan dinda. Walaupun mereka sedikit kesal karena menganggap mengapa Rachellah yang harus menolong dinda di saat itu. Padahalkan diluar sana masih ada beribu-ribu mahluk yang dapat nolong dia gitu.

Jessica : “hem, kenapa sih harus dia yang nolong !”

Abel : “yups, pasti tu cewek udah ngerasa jadi pahlwan kesiangan gitu!”

Jessica : “and udah ngerasa menang ! shit!”

Abel :”hello girl! Ngapa lo diem aja ? lo nggak marah gitu sahabat kita direbut ma si Rachael ?” (sedikit emosi )

Sesil :” ehem, menurut gue ya rachael tu nggak salah.”(berkata dengan datar)

Jessica : “apa lo bilang!” ( langsung diam )

Sesil : (memotong pembicaraan Jessica) “syuut ! seharusnya kita tu berterima kasih ma mereka bertiga, karena kalau nggak ada mereka gimana nasib temen kita si dinda ? mungkin dia nggak bakal selamat kali ! and satu hal lagi, kita seharusnya minta maaf ma dinda karena kita udah egois ma dia! Bukannya malah mikirin balas dendam and balas dendam aja.” ( dengan nada berwibawa)

Abel :” lo bener say ! that’s so brilliant !” (sambil tersenyum)

Jessica :” tumben otak lo encer ! ya tuhan terima kasih kau telah sadarkan sesil ! karena jujur kami uda nggak tahan dengan ketulalitannya” ( sambil menadahkan tangannya ke atas )

Abel : “gue nggak nyaka lo bisa nyadarin kita berdua”( sambil memeluk sesil )

Sesil :”emang sesil tadi bilang apa?”(dengan polosnya)

Jessica, abel: “oh, my God ! (sambil kesel)
(theme song : gecko – pasti cemburu)

Setelah bel pulang sekolah, geng Byuti menunggu dinda di depan gerbang sekolah. Yaaa.. Bak mbak-mbak seles gitu! Dan tanpa berfikir panjang lagi mereka segera melesat menghampiri dinda dan Rachael.

Abel : “dinda …..!” (teriak abel sambil melambaikan tangan)

Dinda : (segera membalikan badan setelah melihat abel, Jessica & sesil )

Jessica : “dinda tunggu !” ( sambil menarik tangan dinda)

Dinda : “ apa lagi sih !” (sedikit marah)

Jessica : “dengerin penjelasan kami dulu dong!”

Dinda : “penjelasan apa lagi sih! Semuanya kan dah jelas !”

Abel : “no, is wrong! you must listen to us”.

Dinda : “ gue mau balik!” ( sambil berbalik pergi)

Sesil :” jangan pergi dinda! Please, dengerin kami. Kami Cuma mau minta maaf aja din.” (dengan 
wajah sedih)

Dinda : (berhenti karena iba dengan sesil) “okay, kalian mau ngomong pa?.”

Abel :” okay, we want…”

Jessica : “udah deh bel, nggak usah pake acara ngomong sok kebarat-baratan gitu! Mending lo to the point aja deh”

Abel :”okay-okay! Just relax (sambil menenangkan Jessica). Gini loh kami bertiga mau minta maaf ma lo din. Kami tau kami salah, so please maafin kami ya din.”

Dinda :”hem…(menghela nafas) ya udahlah semuanya uda terjadi, so nggak ada yang perlu gue marahin lagi. Gian kalian juga uda nyadar.” (sambil menebarkan senyum tipis)

Jessica,abel,sesil : “makasih ya din.” (sambil memeluk dinda)

Abel : and one thing for you Rachael, kami bertiga thanks banget atas pertolongan lo ma dinda tempo hari.” (sambil tersenyum)

Rachael : ”ya masama.”

Sesil : “pulang yok, sesil uda laper nih”(sambil cemberut)

Abel : SESIILLL. …………………….! (kesal)

Semua : hahahahahaha. . . . sesil,sesil!(semua tertawa)
(theme song: ello-buka semangat baru)


***