Senin, 28 Juni 2010

IMPIAN ANAK JALANAN

Sorakan-sorakan pun mulai bergema diseluruh sudut ruangan ketika bapak kepala sekolah sedang berdiri tegak mengumumkan nama-nama siswa yang menjadi juara kelas. Siswa-siswa lainnya pun serentak bertepuk tangan memberi selamat untuk mereka semua. Tampak sebuah goresan tipis yang melengkung disetiap bibir para juara tersebut menandakan betapa bahagia dan bangganya mereka saat itu. Suasana pun kembali tegang ketika kepala sekolah mulai memanggil nama sang juara umum, “yang menjadi juara umum dengan nilai rata-rata 9,65 adalah…DANI!!” spontan seluruh siswa bertepuk tangan dan berteriak heboh, suasana menjadi ramai kembali, sama seperti hatiku yang ingin berteriak dan terbang kegirangan. Aku merasa seperti kehilangan nafas, darahku serasa berhenti sejenak, aku merasa seperti disambar petir disiang bolong. Kaget dan tidak percaya bahwa namaku yang dipanggil oleh bapak kepala sekolah tadi. Dengan senyum yang selebar mungkin aku pun maju kedepan dengan penuh percaya diri, semua mata bedecak kagum kepadaku. Dan karena semangat yang terlalu berapi-api aku pun terjatuh ketika naik ke panggung, “BRAAAKKK!!” akupun lalu terbangun dari tidurku. “Hanya mimpi ternyata”,rintihku dalam hati. Ku lihat jam yang sedari tadi setia menatapku didinding, “GAWAT!! Jam 7 lewat 15!”,ucapku setengah berteriak. Aku pun langsung berlari untuk segera mandi. Bersiap-siap untuk mengadu nasib bersama teman-teman seperjuanganku disimpang jalan raya untuk menjual koran.
Itulah aku, Dani. Seorang remaja berumur 15tahun yang hanya bisa bermimpi agar bisa bersekolah lagi seperti tahun lalu, bisa dibilang dulu saat aku masih duduk di bangku SMP aku selalu mendapat peringkat pertama, saat kelulusan nilaiku lumayan bagus, walau saat itu aku belajar sambil bekerja menjadi loper koran. Karena tak sanggup lagi membiayai untuk aku melanjutkan ke SMU, aku pun akhirnya ikut membantu ibu untuk mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maklum, ayah sudah lama meninggal karena sakit, jadi ibu yang bekerja keras agar kami tetap hidup, mencari uang untuk makan dengan menjadi seorang pemulung. Kami hanya tinggal disebuah pemukiman kumuh. Aku juga memiliki seorang adik perempuan yang masih berumur 5 tahun. Nina namanya. Gadis kecil ini sudah ditakdirkan menjadi tunanetra sejak lahir. Namun semangatnya agar tetap hidup dan selalu dapat merasakan dunia yang kelam ini sangatlah besar. Nina selalu menggambar di sebuah buku gambar hasil mulung ibu dengan crayon bekas juga. Dia selalu tersenyum. Aku sebagai kakaknya banyak belajar dari dia. Jujur, terkadang aku merasa dunia ini sangat tidak adil. Kenapa kami ditakdirkan sebagai orang miskin? Apa kami akan terus begini hingga ajal nanti? Tetapi lewat senyum tulus yang selalu dipancarkan Nina agar aku tidak boleh berputus asa, akupun menjadi semangat kembali agar aku bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya, agar aku dapat merubah nasib. Demi keringat yang dikeluarkan ibu selama ini untuk kami, dan terutama untuk Nina. Aku ingin suatu hari nanti aku bisa menjadi orang sukses, banyak uang, dan bisa menyembuhkan mata Nina lewat operasi pencengkokan mata. Untuk itu, aku selalu menyisihkan sebagian uang hasil pekerjaanku disebuah kaleng susu yang tidak dipakai lagi lalu ku simpan didalam lemari pakaian ku. Tak seorang pun orang mengetahui hal ini, kecuali Tuhan. Aku akan memberitahunya saat uang itu sudah terkumpul banyak. Dan akan aku gunakan sebagian untuk masuk sekolah nanti, barulah nanti aku akan berjuang keras agar aku mendapat beasiswa, lalu sebagian lagi aku tabung untuk biaya operasi mata Nina.
“Dan! Kenapa bengong sih? ayo kerja! Udah lampu merah tuh!”, lamunanku pun buyar karena dikejutkan oleh temanku,Wawan. Tanpa berkata sepatah kata pun aku langsung beranjak pergi menuju jalan sambil tersenyum getir. Kulihat wawan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aku yang aneh hari itu.
Hari berganti hari, akupun semakin giat bekerja, mulai dari menjadi loper koran, kerja di carwash, jadi pemulung juga, hampir segala kesempatan kerja yang ada aku lakukan. Sedikit demi sedikit aku sisihkan sebagian uang hasil pekerjaanku itu dan sebagian lagi untukku makan. Demi mencapai tujuan dan cita-citaku.
Tak terasa hampir 6 bulan aku melakukan aksi kerja kerasku. Hasilnya lumayan ditambah dengan tabungan ku sebelumnya udah terkumpul sekitar Rp1.500,000. Akupun tersenyum puas setelah berulang-ulang kali menghitungnya, lalu kuletakkan kembali uang itu di dalam kaleng susu dan ku simpan rapi di lemari pakaianku seperti biasa. Setelah itu, akupun menjatuhkan diri ku ke atas kasur dan membiarkannya terlelap dalam mimpi indahku.
“Dani bangun! Dani bangun! Ayo bangun!” ,teriakan ibu akhirnya berhasil membuatku terbangun. “ada apa sih bu? Teriak-teriak gitu bangunin aku, baru jam 6 juga,hoaaamm..”, jawabku kesal. “Lihat dani! Adikmu badannya panas sekali, udah ibu kompres dari tadi nggak turun-turun juga! Bagaimana ini?”, jelas ibu setengah panik. Aku pun segera memeriksa keadaan adikku, benar kata ibu, badannya panas sekali, mukanya pucat, dia meringis sambil beselimut di kasur. Aku menjadi sedih melihatnya. Nina yang selama ini selalu ceria kini terbaring lemah. “Ya sudah, Dani pergi beli makanan dan obat dulu ya bu, mudah-mudahan nanti setelah di kasih obat demam dari apotek, panas badan Nina agak turun”. Ibu hanya mengangguk pelan, dan aku pun langsung beranjak pergi. Dalam perjalanan, aku selalu berdoa dalam hati, “Tuhan..semoga Nina cepat sembuh, akan aku lakukan segala hal agar aku dapat melihat senyum Nina kembali”.
Sudah hampir seminggu setelah di beri obat yang bagus menurut penjual apotek itu kepadaku, namun Nina belum juga sembuh. Terkadang suhu badannya naik dan terkadang turun. Nina masih terbaring lemah di kasur. Tampak wajah lelah yang memancar dan sedih menghampiri ibu, dia bingung dan tidak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Nina. “Kasihan ibu”,pikirku. Dengan langkah ragu-ragu aku mengambil kaleng susu tabunganku. Kulihat wajah Nina dan wajah ibu lalu ku lihat kaleng itu yang berisi uang hasil jerih payahku. Tak rela tapi aku tak sanggup melihat keadaan lemah Nina. Akhirnya aku memutuskan uang dipakai untuk pengobatan Nina di rumah sakit.
“Ini bu uang tabunganku, pakailah untuk berobat Nina di rumah sakit”, kataku pelan. “jangan nak! Itu uang mu, kau bekerja keras mengumpulkan uang itu, ibu tak bisa menerimanya”,pinta ibu. Aku pun segera menjawabnya,”bu, uangku uang ibu juga,kita keluaga! aku senang kalau Nina sembuh, aku tidak tega melihat dia sakit, ayo bu kita bawa Nina ke rumah sakit sekarang!”. Ibu hanya bisa tersenyum seraya berkata,”terima kasih anakku! Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ada”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman lalu segera menggendong Nina dan membawanya ke dalam angkot menuju rumah sakit terdekat bersama ibu.
“Pasien ini menderita penyakit demam berdarah, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menstabilkan suhu badannya kembali”,jelas dokter kepada ku dan ibu tentang kondisi Nina. “tapi adik saya bisa sembuh kan dok? Tolong dok, lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya”, pintaku. “iya,dok! Tolong”,timpal ibu. “ya,kita berdo’a saja. Untuk sementara pasien kita rawat inap”,jelas dokter lagi. “baik,dok”,jawabku pasrah. “adik silahkan keruang administrasi untuk melakukan pembayaran ya”,kali ini perawatnya yang angkat bicara. Aku hanya menggangguk lesu seraya beranjak pergi menuju ruang administrasi tersebut.
“total semuanya Rp1.300.000”,kata mbak penjaga kasir tersebut. “ini”,kataku sambil menjulurkan uangnya kepada mbak itu. “lunas ya, ini kuitansinya,terima kasih”,kata mbak itu ramah. “iya,sama-sama”,balasku.
Selesai membayar aku menuju kamar Nina, kulihat ibu tertidur disamping Nina karena kecapean. Nina pun tertidur juga. Karena tidak ingin mengganggu mereka, aku pun beranjak pergi dengan langkah hati-hati takut membangunkan tidur lelap mereka.
Sambil berjalan tak tentu arah, pikiranku mulai bingung, sisa uang tabungan tinggal Rp200.000, itu buat makan sehari-hari. Lama-lama akan habis, bagaimana dengan cita-citaku untuk bersekolah? Haruskah aku menundanya selama setahun sampai tabungan ku penuh? Atau lebih baik, aku kuburkan saja dalam-dalam cita-citaku dan mencoba menerima kenyataan pahit ini? Aarrrghh! Pikiranku kacau! Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan! Tuhan…tolong aku!
Tak terasa 5 hari telah berlalu, akhirnya aku dapat melihat senyum ceria Nina lagi, tidak sia-sia pengorbanan aku selama ini. Hari ini Nina diperbolehkan dokter pulang, kami senang sekali. “jaga kesehatan adikmu baik-baik ya!”,saran dokter. “iya,dok! terima kasih banyak!”,jawabku. “berterima kasihlah kepada Yang Diatas! Kami hanya berusaha semaksimal mungkin”,balas dokter rendah hati. Aku hanya membalasnya dengan senyuman manis.
Sesampai di rumah, terpancar wajah bahagia Nina dan ibu. Nina langsung melakukan hobinya untuk melukis. Ibu mendampinginya. Melihat wajah mereka berdua hatiku pun menjadi sedikit lega. Lalu aku pamit kepada ibu untuk melanjutkan pekerjaanku dijalanan.
Suasana kota saat itu sangat ramai, siang bolong ini diundang dengan cuaca pun panas. Matahari tak tampak malu-malu memancarkan teriknya di seluruh penjuru kota. Keringatpun dengan hebatnya meluncur deras dipipiku. Capek bukan main hari ini. Aku pun memanjakan diri duduk diwarung es cendol. Sambil meminumnya dengan cepat, tampak sebuah benda hitam yang menghampiri pandanganku. Ku sipitkan mataku untuk memperjelasnya karena silaunya pancaran sang raja siang. Karena penasaran, aku pun mendekati benda itu dengan takut-takut. Ternyata benda itu adalah dompet seseorang yang mungkin tak sengaja terjatuh. Lalu ku buka dompet itu, kulihat banyak segala macam kartu di situ, mulai dari atm, creditcard, sim mobil, KTP,dan..uang! banyak sekali, berlembar-lembar uang Rp50.000 dan Rp100.000! aku bingung menghadapinya, sempat terlintas dipikiranku untuk mengambilnya, dan akan ku pakai untuk biaya ku sekolah. Tapi disisi lain, aku takut dosa! Ini bukan milikku, dan haram! Mungkin sekarang pemilik dompet ini sedang kebingungan mencarinya, aku bayangkan posisi orang itu adalah aku. Pasti aku juga akan merasakan hal yang sama dengannya. Lalu ku bayangkan cita-cita ku itu. Oh..Tuhan! bagaimana ini? Bantu aku!
Setelah 10 menit aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya. Ku baca identitas diri pemilik dompet tersebut di KTP yang terletak didalam dompetnya tadi, tertera disitu namanya, Arta Wahyudi, dan alamat rumahnya, Jln. Cimpedak No.54. Dengan penuh percaya diri aku melangkah menuju alamat itu menggunakan angkot. Aku yakin berkata jujur akan membawa kebahagiaan nantinya.
Sesampai disana, ku lihat rumah itu dengan rasa kagum. Dalam hatiku berkata sangat yakin bahwa pemiliknya pasti orang kaya raya, rumahnya besar, indah, seperti istana, jauh berbeda sekali dengan rumahku yang kumuh. Dengan ragu-ragu aku memencet bel yang terletak disamping tembok pagar, tak berapa lama keluarlah satpam penjaga rumah itu, “Cari siapa ya dik?”,tanya satpam tersebut dengan curiga. “Apa benar pak ini rumah bapak Arta Wahyudi?”,tanya ku dengan rasa takut. “Iya benar, adik siapa? Ada perlu apa?”tanya satpam itu lagi. “saya Dani,pak. Tadi di jalan saya tidak sengaja menemukan dompet ini, apa benar ini milik pak Arta yang tinggal disini?”,jelasku sambil menyodorkan dompet itu kepada pak Satpam. Dia meraihnya dan langsung mengamati KTP yang terletak didalam dompet tersebut. “Tunggu disini sebentar ya,dik!”perintahnya padaku. “baik pak!”jawabku meyakinkan. 10 menit kemudian datanglah satpam tadi bersama seorang pria setengah tua berkaca mata tipis, tinggi, dan berisi menghampiriku. Ternyata benar dugaanku. Orang itulah pemilik dompet tersebut. Pak Arta namanya, beliau tersenyum ramah dan mengucapkan banyak terima kasih kepadaku. Betapa leganya hatiku, telah berhasil menolong orang lain. Akupun langsung disuruhnya masuk kedalam rumah. Ternyata pak Arta dan keluarganya baik. Dia memiliki dua orang anak perempuan. Anak sulungnya bernama Ziyah yang saat ini sedang melanjutkan kuliahnya di Australia, sedangkan anak bungsunya masih duduk di SMP kelas 2. Setelah lama berbincang-bincang, beliau mengantarkan aku pulang. Awalnya aku menolak tapi beliau memaksa, katanya sebagai ucapan terima kasih. Dan pak Arta pun mengantarku bahkan sampai ke dalam rumah, lalu pak Arta berbincang-bincang dengan ibu, aku, dan Nina. Dalam perbincangan itu, pak Arta menawarkan aku untuk bersekolah di SMU miliknya,gratis! Sebagai ucapan terima kasihnya, dan dia akan memberi modal agar ibu memiliki pekerjaan tetap. Selain itu, pak Arta juga sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Katanya dia kagum melihat kejujuranku, jarang ada orang jaman sekarang kalau menemukan dompet apalagi dalam jumlah uang yang besar, langsung mengembalikan kepada pemiliknya. Tetapi sayang ibu menolak tawaran pak Arta tadi,”maaf pak, saya dan Dani tidak bisa menerimanya, bapak terlalu baik kepada kami, itu semua berlebihan buat kami, lagian Dani juga menolong bapak tanpa pamrih kok , iya kan Dan?“,tanya ibu. “iya pak, tidak usah repot-repot, saya ikhlas, itukan sudah kewajiban saya mengembalikan yang bukan hak milik saya”, jawabku lesu.
“oh, saya tidak merasa keberatan kok, orang yang jujur seperti nak Dani ini pantas mendapatkannya, anggap saja saya membantu ibu, tolong bu terima, saya merasa berdosa kalau membiarkan ibu begini, saya mohon, ibu mau ya?”,pinta pak Arta.
Ibu tampak bingung, kemudian ditatapnya wajahku, aku membalasnya dengan penuh harap agar ibu bersedia menerimanya, agar aku dapat bersekolah lagi. Dapat kulihat sebuah ketulusan diwajah pak Arta. Lalu ibu pun menjawabnya,”kalau hal itu tidak memberatkan bapak, saya terima kasih yang sebesar-besarnya”. Pak arta langsung tersenyum lega, “iya bu sama-sama, saya senang membantu ibu”. Kami pun lalu bersalaman. Dalam hatiku berteriak sekencang-kencangnya, “Oh,Tuhan..terima kasih! Engkau telah mengabulkan semua doaku, horeee! aku bisa bersekolah lagi! Yeah!”.
Aku dan ibu lalu bersalaman bersama pak Arta sambil mengucapkan banyak terima kasih. “saya senang membantu orang yang membutuhkan dan jujur seperti nak Dani”,begitu kata pak Arta.
Dan akhirnya, ibu bekerja sebagai penjahit dirumah berkat uang modal pemberian pak Arta, dan akupun jadi bersekolah di SMU milik pak Arta juga, setiap hari aku berangkat dan pulang dari sekolah naik angkot, kadang kalau ada waktu senggang aku melanjutkan pekerjaanku dulu, sebagai loper koran hanya untuk menambah-nambah uang tabunganku, walaupun tak se-aktif dulu aku melakukannya karena saat ini aku sangat mengutamakan sekolahku untuk belajar agar nantinya aku bisa mendapatkan beasiswa dan menjadi orang sukses! Dengan begitu, aku bisa membiayai operasi mata Nina, semoga saja suatu saat nanti ada seorang pendonor mata yang baik hati untuk Nina dan pecengkokan mata Nina akhirnya berhasil. Agar Nina bisa bersekolah nantinya dengan normal. Karena menurut ku Nina harus bersekolah, karena sekolah itu sangat penting! Seperti kata pepatah, “tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina”. Walaupun aku sudah bersekolah lagi, bukan berarti aku telah melupakan kebiasaan menabungku, malah aku jadi semakin giat untuk terus menabung, karena menabung itu adalah hobiku. “Menabung pasti untung untuk kedepannya”, begitu pikirku.
-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar