Selamat siang, pembaca!
Maaf ya sepertinya seharian ini aku nge-spam postingan xD
Maklum saja dibulan puasa ini kerjaan tidak terlalu banyak, jadi daripada bosan dan selagi banyak ide yang bermekaran di otakku jadi aku blogging aja. Bisa dibilang juga, mungkin ini sebagai penebus dosaku yang telah lama gak nulis #pisss :D
Jadi barusan aku baru meng-scroll blog-blog yang aku ikuti yang kebanyakan adalah milik temanku. Ada salah satu tulisan dari mereka yang menarik perhatianku. Dia menulis seperti ini,
"Dari ribuan kesenangan dan kebanggaanku menjadi seorang penulis, hanya
satu hal yang membuatku menyesal: jiwaku begitu mudah tersentuh, terlalu
peka. Hati ini terlalu mudah hancur, terlalu rapuh untuk menampung
kesedihan dan kecewa yang teramat sangat. Mengapa seorang penulis harus
sepeka ini?"
Dan itu memang benar. Aku juga merasakan hal yang sama bahwa terkadang menjadi peka adalah hal yang menyulitkan. Mungkin inilah yang membuat seseorang menjadi penulis karena memiliki kepekaan. Tapi, apakah setiap yang peka bisa menjadi penulis? atau penulis pastinya adalah orang yang peka? Aku teringat ketika salah seorang yang terikat dihatiku sedang tertimpa duka, aku bahkan sampai demam karena merasakan sakit duka yang mungkin sama sepertinya. Aku tahu betapa terlukanya dia dan betapa sedih yang dideritanya. Bayangkan hidupnya yang akan berat sudah terpantri diotakku dan aku sangat terluka membayangkannya. Terkadang, karena sangking peka-nya aku tak pandai memperlihatkan dan sering dianggap cuek loh. Apakah menjadi peka adalah hal yang bagus? menurut kalian bagaimana?
Selamat berpeka-peka ria. Jangan sampai peka(k) ya!^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar