Senin, 28 Juni 2010

AKHIR CERITA DUKA

Hening temani malam ku. Yang terdengar hanya suara derasnya hujan dan jeritan petir yang sesekali memekakkan telingaku. Aku berjalan pulang dengan pasrah, membiarkan hujan membasahi tubuhku. Aku benar-benar lemah saat ini. Di sepanjang jalan , air mataku pun tak mampu berhenti menandakan bahwa aku benar-benar tak mampu menerima kenyataan yang pahit ini. Langkahku pun berhenti ketika sampai di depan rumah yang tampak kosong, tak bercahaya. Itulah rumahku. Aku hanya dapat memperhatikannya dari luar. Tak mampu aku menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Aku takut di hantui dengan semua kenangan manis yang tersimpan di situ. Aku benar-benar tak sanggup untuk pulang. Oleh karena itu, aku putuskan untuk berjalan lagi, meninggalkan rumah yang dulu penuh dengan kebahagiaan dan penuh dengan kenangan indah itu. Aku terus berjalan dan berjalan tak tentu arah. Tak tahu mau kemana. Sampai akhirnya aku berteduh di sebuah ruko yang sudah tutup di pinggiran jalan. Aku duduk sendirian di situ sambil menangis. Mengingat kembali kejadian pahit yang baru tadi pagi ku dapatkan.

“Ma, jadi nanti jadi pesawatnya berangkat jam berapa?” tanyaku ketika kami sedang sarapan di meja makan. “Jam 9 sayang, paling jam 12 mama sama papa sudah nyampe di Medan, kenapa sayang? Nanti mama kabarin kalau udah sampe” jawab mama lembut. “Ih ma, Lila pengen ikut. Ntar Lila kangen sama mama papa, Lila masa’ sendiri di rumah, hu.” Pintaku manja. “Jangan sayang, kamu kan harus sekolah! Bentar lagi kamu mau ujian akhir kan? Ntar gak lulus lagi kalau kamu ikut dan ketinggalan pelajaran. Lagian kan mama disana cuma 5 hari. mama juga disana bukan buat liburan atau senang-senang. Selesai urusan pekerjaan mama sama papa, kami langsung pulang kok. Kamu juga disini gak sendirian kok, kan ada Bi Inem. Katanya juga kamu mau ngajak teman-temanmu nginep sini. Kan udah rame tuh.” Jawab mama panjang lebar. “Tapi kan ma, tetap aja gak enak! Gak ada mama sama papa, nanti Lila jadi kangen.” Rengekku. “Aduh, anak papa ini manja banget, mentang-mentang gak ada saingannya di rumah, mentang-mentang anak tunggal.” Ledek papa. “Biarin! Huh!” jawabku jutek. “Ih, ngambek ni ye…ntar makin jelek lo!” ledek papa lagi. “Ih. Mama! Papa rese’ nih! Hu.” Rengekku manja kepada mama. “Hahaha, ya sudah... berangkat sekolah aja gih! Udah jam berapa tuh, ntar telat lagi.” Jawab mama santai. “Ya ampun! Hampir jam 7! Iya udah deh, Lila berangkat dulu ya!”. kataku sambil menyalam mama dan papa. “Dah mama! Dah papa!”, teriakku sambil berlari pergi. “Dah, sayang! Hati-hati ya!” balas mama.

Tak disangaka, ternyata itu adalah pertemuan terakhirku kepada mama dan papa. Ditengah pelajaran aku di panggil guruku ke kantor, karena ada telpon penting untukku. Ternyata itu telpon dari seorang polisi yang mengabarkan bahwa mama dan papa mendapat kecelakaan saat mereka di jalan manuju bandara. Taxi yang mereka naikki mendadak remnya blong dan akhirnya menabrak sebuah truk besar. Mama dan papa mati di tempat. Dan mayat mereka di bawa ke rumah sakit. Mendengar kabar itu, aku langsung berteriak tak percaya, mengganggap polisi itu bohong atau salah sambung. Dan ketika dia menyakinkan ku dengan membaca seluruh identitas orang tuaku, air mataku pun langsung bercucuran dengan derasnya. Rasanya darahku saat itu berhenti, kepalaku pusing, dan aku pun langsung kemudian pingsan. Mungkin saat aku tak sadarkan diri, semua guru heboh dan bertanya-tanya dalam hati, “ada apa?”. Lalu mungkin salah satu dari mereka meminta penjelasan dari seseorang yang menelponku tadi. Sehingga saat aku sudah bangun dari ambang sadar, dengan pandangan yang agak buram, ku lihat guru-guru ku dan sahabatku Ema sedang mengerumuni ku di UKS sekolahku. Sebagian dari mereka menenagkan hatiku, “Sabar ya sayang, mungkin Tuhan sedang menguji mu…kamu tidak sendiri kok disini, ada ibu dan bapak guru yang siap menggantikan sebagai orang tua mu.” Kata bu Susan wali kelasku dengan lembut. “Iya, La…yang sabar ya, aku siap kok membantu mu disaat kamu butuh.” Kini sahabatku Ema yang angkat bicara. Aku hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Tanpa aba-aba darah bening ku pun lalu dengan cepatnya meluncur membasahi pipi ku. Tiba-tiba aku merasa dunia ini begitu kejam, seperti ingin mencekikku. Aku merasa suasana yang beda. Aku sangat berharap, agar aku cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk ini. Namun, hasilnya pasti NIHIL! Karena ini nyata! Aku tak bisa lari dari kenyataan ini. Kenyataan yang begitu pahit. Kenyataan yang tak pernah terfikir di benakku sebelumnya. Tuhan…aku lebih baik mati daripada sendiri di dunia ini. Tolong cabut nyawaku sekarang Tuhan…aku tak sanggup! Ingin rasanya aku berteriak, namun suaraku tertahan dalam isak tangisku.

“Udah sayang, gak usah sedih lagi ya…coba la tegar, Tuhan sayang dengan umat-Nya yang tegar dan sabar…cobalah ikhlas.” Pinta bu Susan yang segera memecahkan keheningan saat itu. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk lesu walaupun sebenarnya hati ini masih menjerit. “Permisi semua, ayo sekarang kita ke tempat pemakaman orang tuanya Lila, mayatnya sudah mau di kuburkan.” Ajak pak Beno guru olahragaku yang baru nongol karena tadi beliau menerima telpon. Aku sudah tebak pasti dari polisi yang tadi. Dengan langkah yang berat aku pun mengikuti langkah mereka yang siap membawaku ke pemakaman.

Sesampai disana, aku hanya terduduk lesu diatas kuburan kedua orang tuaku itu sambil tak henti-hentinya menangis. Jujur. Aku masih belum percaya dengan kenyataan pahit ini. Lalu ketika semua orang mulai membacakan doa, aku pun mengikutinya dengan keadaan masih menangis. Setelah selesai, dan banyak orang yang sudah bubar, sahabatku Ema dan para guru mengajakku pulang. Namun aku bilang, aku masih ingin disini. Awalnya mereka tidak setuju, namun akhirnya mereka mengerti dan meninggalkanku sendiri di situ. “Ma,pa…kenapa kalian tega meninggalkanku sendiri disini? Apa kalian tidak sayang kepadaku? Huhuhu…kenapa? Kalian jahat! Huhuhu..” kataku kesal kepada batu nisan kedua orang tuaku. Darah beningku tak henti-hentinya meluncur. Malah makin deras. Hingga tak berapa lama kemudian, aku memutuskan untuk pulang. Tapi ternyata aku malah meneruskan langkahku tak tentu arah, sampai kini aku sendiri berteduh di ruko ini. Tak perduli hujan. Tak perduli malam.

Tiba-tiba aku tersentak dari hayalanku. Kedatangan seseorang yang tak diundang memecahkan lamunan panjangku, dia merangkulku dari belakang dengan lembut. Spontan aku kaget dan langsung membalikkan badanku untuk melihat siapa gerangan. Ku lihat sekilas dia memakai baju putih panjang, wajahnya begitu berseri-seri, cantik sekali, dia tersenyum manis kepadaku. Ternyata…orang itu adalah MAMA! Betapa kaget dan senangnya aku! Berarti benar dugaanku, ini semua bohong! Ini semua hanya mimpi! Ya Tuhan terima kasih, kau telah menyadarkanku dari mimpi buruk ini. “Mama! Lila kangen sama mama…jangan tinggalan Lila sendiri, Lila gak mau mama pergi,huhuhu.” Pintaku sambil menangis. “Ya sayang, mama juga kangen sama Lila. Lila jangan sedih ya, Lila harus kuat, mama gak suka Lila cengeng begini.” Jawab wanita itu lembut sambil membelai mesra rambutku. “Iya ma, Lila janji! Lila sayang sama mama, mama jangan tinggalin Lila lagi ya.” rengekku manja. “Ya, sayang. mama juga sayang sama Lila, tapi mama gak bisa lama-lama, mama harus pergi.” Kata wanita itu lagi. “Kemana ma? Kalau gitu Lila ikut!”, kataku memaksa. “Jangan! Kamu gak boleh ikut. .” Tegas wanita itu. “Kenapa ma? Kenapa Lila gak boleh ikut? Lila mau kita sama-sama.” Rengekku lagi. “Maafkan mama sayang, tapi kamu gak boleh ikut! Banyak yang harus kamu lakukan disini. Mama sayang sekali sama kamu,nak.” Jawab wanita itu lagi. “Bohong! Kalau mama sayang sama Lila, mama harusnya gak ninggalin Lila! Mama pasti bolehin Lila ikut mama! Lila benci mama! Lila bennccciiiii!! Huhuhu.”kataku dengan nada sedikit emosi sambil menangis histeris. Namun kehadiran mama perlahan-lahan namun pasti mulai menjauh. Menjauh dan menjauh. Hingga hilang dari pandanganku. “MAMAAAAA…!!!! JANGAN TINGGALIN LILA!! MAMA!!! Huhuhuhu.” teriakku semakin kencang.

“Lila! Bangun! Bangun La! Bangun!”. Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang mengguncang-guncangkan badanku semakin lama, semakin keras. Dan aku pun terbangun. Sial. Ternyata tadi cuma mimpi. Rasanya aku ingin mati saja. “Akhirnya, kamu bangun juga! Aku kaget banget loh ngedengar teriakan mu tadi, huh”. Ternyata yang membangunkanku adalah, Tio. Teman satu sekolahku. Dia tinggi, putih, badannya berisi, memakai kaca mata tipis. Anaknya pinter dan selalu menjadi kebanggaan sekolah. Aku kenal dia sejak masuk SMA. Entah kenapa selama hampir 3 tahun sekolah, aku selalu sekelas dengannya. Rumah kami pun jaraknya lumayan dekat. Sehingga terkadang kami selalu pulang bareng. Bisa di bilang kami cukup akrab. Apalagi orang tua kami juga saling kenal baik. Karena tetanggaan. “Eh, kok bengong sih? Ayok pulang yuk! Udah malam nih! Udah hampir jam 9! Lagian hujannya juga sedikit berhenti, Aku capek nyariin kamu kemana-mana.” Jelas cowok itu panjang lebar. “Kalau kamu mau pulang, ya udah pulang aja! Aku gak mau pulang!” kataku cuek. “Aku ngerti kok perasaan kamu, kalau kamu belum siap untuk pulang ke rumah, kamu boleh kok nginep di rumahku untuk sementara, ayolah! Gak boleh cewek sendirian disini! Ini udah malem! Pasti banyak orang jahat yang berkeliaran.” Kata cowok itu lembut. Dan sesaat kemudian…Aduh! Aku nih kok cengeng banget sih! Air mata ini gak bisa diam apa! Huh. “Udah gak usah nangis.” Kata Tio sambil mengelap air mataku. “aku siap kok ngejaga kamu, membantu kamu, udah yuk, kita pulang!” lalu cowok itu menarikku untuk berdiri. “Tungggu!” jawabku cepat. “Aku gak enak sama orang tua mu” jawabku pelan. “hahaha. Lila-lila! Kamu ini kayak baru kenal aja sama, udah ah ayo!” jawab Tio santai. Aku pun mengikut saja. Dan sesampai dirumahnya.

“Lila, kamu gak apa-apa kan sayang? yang sabar ya…tante turut berduka cita, tante siap kok jadi pengganti ibu mu, kalau kamu mau menggil tante dengan sebutan “Mama” gak apa kok! Tante seneng.”sambut mama nya Tio. “Iya Lila, kami siap kok menjadi orang tua mu apalagi kalau kamu menjadi sebagian dari keluarga kami, heheh.” Tambah papanya Tio sambil tersenyum jail. “Iya bener, pa! mama juga setuju kok kalau Lila jadi menantu mama.” Mama Tio jadi ikut-ikutan. “Jadi gimana tuh Tio?” kata papanya lagi. “hehehe..aku sih mau aja kalau Tia nya mau.”jawab Tio sambil menatapku. “Hayo…gimana tuh La?” kali ini papanya Tio menatapku. Mama dan papanya Tio tersenyum-senyum mengunggu jawabanku. Sedangkan Tio nya hanya menunduk. Aku jadi bingung. Wajahku tiba-tiba pucat. Hatiku masih ragu, ini bercanda atau serius sih? Pikirku. “Hahaha…jangan bercanda dong, om, tante. Selama ini sikap Tio biasa aja sama Lila, kami kan cuma teman baik, lagian kan mana mungkin om dan tante mau punya menantu anak sebatang kara gini?” jawabku pelan, memberanikan diri. “Kami serius kok sayang, almarhum orang tua mu kan selalu baik kepada kami, kita juga udah kenal lama. Sebenarnya, diam-diam dulu orang tua mu dam kami sudah sepakat ingin menjodohkan kalian, hehehehe, iya kan pa?” Tanya tante sambil tersenyum ke arah om. “Iya bener, nak Lila. Rencananya nanti setelah lulus SMA ini kami mau tunangkan kalian dulu, dan selesai Tio kuliah baru kalian nikah. Lagian kami perhatikan kalian kan dulu akrab, apa-apa bareng, dilihat-lihat kalian cocok.” Jelas papanya Tio panjang lebar. “Dan,La…sebenarnya aku tuh sayang sama kamu sejak kita selalu bareng, tapi aku takut kamu tolak dan gak mau berteman lagi sama aku, jadi aku hanya bisa memendamnya. Tapi aku benar-benar gak tahu loh soal perjodohan ini.” Jelas Tio padaku. “Jadi gimana La, jawaban mu?” Tanya Tio lagi kepadaku. JEDDDEEEERRRR!!! Aku sangat kaget mendengar itu, serasa di sambar petir siang bolong. Ternyata Tio yang selama ini aku anggap teman menyimpan perasaan special padaku. Aku bodoh tak menyadarinya. Aku kira segala perhatian yang di berikan Tio kepadaku hanya karena sebatas teman. Tapi ntah kenapa, setelah mendengar pengakuan darinya, aku juga jadi sayang padanya. Apalagi orang tuanya Tio juga baik sekali kepadaku. Mereka menerima aku apa adanya.

“La? Kok bengong? Ayo gimana? Mungkin mama dan papamu disana juga senang kalau ternyata rencana kami mempersatukan kalian berhasil.”Tanya mama nya Tio yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum. “Saya sangat senang sekali kalau di terima baik oleh keluarga ini, om, tante. Saya siap.” Jawabku mantap. “Terima kasih La! Aku janji aku selalu membahagiakanmu.” Kata Tio berapa-api. “Akhirnya…om dan tante juga senang, lega rasanya.” Kata papanya Tio kemudian. Mamanya Tio langsung memelukku erat sambil berkata,”kita sudah seperti keluarga sekarang, jadi kamu jangan sungkan ya sayang.” Tiba-tiba air mataku kembali menetes untuk kesekian kalinya. Namun air mata kali ini adalah air mata bahagia. Terima kasih Tuhan…ternyata Engkau benar-benar sayang padaku. Aku jadi percaya, dibalik semua kesedihanku pasti ada hikmah dan kebahagiaan yang abadi nantinya. Aku yakin dan percaya, mama dan papa juga tersenyum di alam sana. Sekali lagi, terima kasih Tuhan! Jeritku dalam hati.

-SELESAI-

1 komentar: