Sabtu, 22 November 2014

Dimensi Ruang


Aku membuka mata, dan seketika aku berada disebuah tempat yang tidak pernah ku temui! Perlahan-lahan aku mencoba menjernihkan pikiranku. Mencoba untuk mengenal setiap sudut ini. Tapi... dimanakah ini? Tiba-tiba sepasang bola mata kecil menatapku iba.
"Bu..."
Suara lembut itu menyadarkanku. Hatiku yang tadinya berdesir hebat seketika tenang. Aku menerjap dua kali. Dan, raut wajah kedua anakku bersinar.
"Syukurlah, ibu sudah bangun!"
Aku mendudukkan diri lalu kembali menyapu pemandangan asing ini. Dan saat itulah aku baru menyadari bahwa aku berada di atas perahu! Sejak kapan aku berada di perahu kecil ini? Kulihat anak sulungku yang mendayung perahu ini sambil tersenyum kearahku. Kemudian si bungsu memelukku erat. Otakku masih berputar keras. Mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Nak, kita mau kemana?"
Si sulung sambil mendayung menatapku berbinar. "Kita kan mau jalan-jalan bu, aku akan menunjukkan tempat yang bagus!"
Aku tidak mau mematahkan semangat anak sulungku, jadi aku memilih diam dan ikut tersenyum. Mataku menoleh ke belakang dan... astaga! sejak kapan ada wanita itu di atas perahu kami? Wanita itu sambil menggendong anaknya menatapku tajam. Tatapannya seakan ingin membunuhku. Mengerikan sekali! Penampilannya aneh! Rambutnya di kepang satu dengan balutan bunga-bunga melati dan anggrek di sekujur kepala dan badannya. 
Lalu ku putuskan untuk melihat kearah lain. Tapi mengapa aku merasa tatapan itu seakan mengikutiku?

5 Menit...


10 Menit...


15 Menit...


20 Menit...

Anak sulungku memberhentikan perahu kecil ini tepat di dermaga sebuah pulau asing. Wanita tadi berjalan menuju ke arahku. Sepertinya dia ingin turun. Tapi... tapi... mengapa dia tidak membawa anaknya dalam gendongan lagi? Semakin dekat dia berjalan... mendekat... dan sampailah dia di depanku. Dia menatapku masih dengan tatapan tajam. Aku bergidik. Kemudian menggeser posisiku membiarkan dia lewat dan saat itulah aku melihat dengan jelas. Jelas sekali sampai aku ingin menangis bahwa di sekujur badannya penuh dengan lintah yang menjadi corak penutup tubuhnya.
Perahu kecil ini bergerak lagi. Si sulung seperti tidak ada capeknya mendayung. Barulah aku sadari wanita itu benar-benar meninggalkan anaknya. 
"Kak, muter balik ke tempat tadi ya. Ini, anak ibu tadi ketinggalan."
Anak sulungku yang cantik itu mengangguk, dan dengan patuhnya ia memutar dayungnya. Sepanjang jalan aku berpikir. Wanita aneh itu bisa saja menjebakku dengan mengatakan aku menculik anaknya. Dari tatapannya tadi aku sudah merasakan ada aura lain. Perahu ini akhirnya merapat ke dermaga itu lagi.
"Kak, tunggu sini ya. Ibu mau nyari perempuan tadi mau ngasih anaknya."
Sambil menggedong pria mungil ini, mataku menyerbu liar. Aku masih mengingat jelas wajah wanita yang menatapku tajam tadi. Aku ingin cepat-cepat menemukan wanita itu, mengembalikan anaknya, dan kembali melanjutkan perjalanan bersama kedua anakku.
Pulau ini begitu asing. Ada hawa menyeramkan sebagai atmosfirnya. Semua penduduk yang bertempat tinggal disini juga aneh. Penampilannya persis sama seperti ibu dari anak yang ku gendong ini. Mereka menatapku seakan aku adalah santapan makan yang lezat. Kemudian langkahku terhenti. Aku terkejut melihat seorang lelaki dengan kaki jempolnya yang panjang dan mencuat seperti bulan sabit. Lelaki tua itu juga menatapku tajam. Dengan pura-pura tenang aku melewatinya saja.
Aku terus berjalan dan berjalan mencari ibu dari anak ini hingga tanpa kusadari hari sudah gelap!
Dan aku sudah memasuki hutan! Aku jadi teringat kepada kedua putriku. Timbul rasa khawatir telah meninggalkan mereka di laut sana. Semoga mereka dengan sendirinya sadar untuk turun dan berteduh sambil menunggguku, karena hari sudah gelap.
Aku melewati hutan itu sambil berdoa. Hutan ini gelap dan aku heran, mengapa mata tuaku ini masih jelas memandang? Kemudian sayup-sayup aku melihat ada seseorang yang berdiri tak jauh dariku. Oh Tuhan! bukankah itu buk Sum? Pembantu tetanggaku? Sedang apa dia disini? apakah ini kampungnya? 
"Hey, buk Sum!"
Wanita yang ku panggil itu menatapku seolah terkejut. Dengan canggung dia tersenyum. "Ngapain bu Noni disini?" sambutnya datar.
Kulihat tatapannya menyelidik. "Begini bu Sum... saya ingin mengembalikan anak ini. Tadi ibunya meninggalkannya di perahu kami. Saya sudah keliling-keliling mencarinya. Ibuk kenal dengan anak ini dan ibunya?"
Bu Sum menatap anak yang tenang itu dalam gendonganku. Dengan acuh dia menjawab. "Lewat sana saja bu." 
Ku ikuti arah telujuk bu Sum, lalu mengangguk terima kasih.
Aku melanjutkan perjalanan. Hingga tiba-tiba menembus jalan keluar dan... aku memasuki perkotaan!! banyak kendaraan yang berlalu lalang. Gedung-gedung bermekaran. Tepat dihadapanku ada sebuah etalase makanan. Dan penjualnya adalah orang-orang bermata sipit. 
Dimana lagi aku sekarang? Mengapa semua tempat yang aku jalani terasa ajaib? Dan aneh...
Aku berjalan dan terus berjalan. Aku bertanya pada satu orang ke orang lain. Tapi tetap tidak menemukan jawaban. Aku bingung. Pria mungil ini juga bingung menatapku dengan pipi gembungnya. Mengapa dia tidak menangis ditinggalkan ibunya? Apa dia tidak tahu?
Rasanya aku ingin menangis. Aku lelah. Aku menyerah. Tidak ada yang bisa menuntunku. Aku ingin segera menemui kedua putriku. Tiba-tiba embun membasahi pelupuk mataku.
Dan seketika itu aku menemukan jalan pulang. Mataku terbuka. Silaunya cahaya sang fajar telah menyinari sudut ruangan. Kuusap kedua bola mataku, hatiku pun merasa tenang melihat kedua putriku masih berada dalam lelapnya.

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar